‘Oportunisme Pengarang’ dalam Jejak Mata Pyongyang karya Seno Gumira Ajidarma

Ferdinandus Moses

“Manusia adalah tuan dari segalanya berarti ia adalah tuan dari dunia dan kodratnya sendiri; bahwa manusia  menentukan segalanya berarti ia memainkan peran menentukan  dalam mengubah dunia dan membentuk kodratnya” (JJP, hlm. 21)

Buku ‘Jejak Mata Pyongyang’  seperti strategi Seno Gumira Ajidarma (Seno) bahwa ada hal paling terpenting untuk ditulis. Seno tidak melebarkan soal tentang jejak film-film yang difestivalkan sejak 4 sampai 13 September 2002 di negeri komunis ortodoks itu, tapi tentang kota Pyongyang yang sejak lama mengendap di ingatannya selama 10 tahun—Pyongyang merupakan  ibu kota dari Republik Rakyat Demokratik Korea. Istilah  ‘halus’ untuk tidak disebutnya sebagai Korea Utara—maka pada 2012 Seno pun menumpahkan segala dipikirkan tentang kota itu. Pada 2015 terbitlah buku ini.

Buku ini berkaver lanskap gedung sebuah stasiun kereta api di pusat kota Pyongyang (Pyongyang Railway Station), pengantar buku ini pun semacam dari sebuah alasan-alasan Seno sendiri, sepuluh esai besertakan foto-foto yang semuanya sengaja dibuat abu-abu untuk diterima sebagai kesan klasik bagi pembacanya, dan sebuah cerpen Melodrama di Negeri Komunis. Bagi Seno, alih-alih foto menjadi ilustrasi cerita. Karena untuk beberapa hal, dari foto tersebut justru mampu menyusun (mungkin juga mencuatkan) kembali ingatannya.

Awal kedatangan Seno ke Pyongyang lantaran menggantikan rekannya, Marselli Sumarno[1], sebagai juri pengganti pada Festival Film Negara-Negara Non-Blok dan berkembang Lainnya (8th Pyongyang Film Festival of Non-Aligned and Other Developing Countries). Kedatangan yang bisa dibilang penguatan Seno sebagai kritikus film dari buku pernah diterbitkannya berjudul Layar Kata: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra, Festival Film Indonesia, 1973-1992 (Yayasan Bentang Budaya, 2000).

**

Keberanian Seno menyorot Pyongyang memang terpicu sejak kematian Kim Jong II[2] pada dekade lalu, tapi bagi saya itu merupakan strategi Seno lantaran tidak ingin pengalamannya menjadi sia-sia belaka. Saya menyebutnya sebagai sikap oportunisme Seno yang positif; sikap pemahaman yang semata-mata hendak mengambil keuntungan  untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada prinsip tertentu[3]. Prinsip di sini saya tafsirkan sikap ‘memerdekakan’ diri terhadap dunia literer yang berseberangan dengan tendensi media. Maksud satu di antaranya ialah mereportasekan segala hal senyaman dirinya sendiri atawa ‘sesantai-santainya’—boleh juga dibilang cuek bebek.   

Pemicuan setelah kematian Kim Jong II memang  terkesan terlambat bagi Seno. Meski penyesalannya tampak terlambat, dalam buku Jejak Mata Pyongyang ini Seno tetap membuat sedemikian masih punya arti—ya, tapi juga tidak dapat dikatakan terlambat sebab ketika masih di Pyongyang Seno berhasil lebih dulu melahirkan cerpen berjudul ‘Melodrama di Negeri Komunis’; sebuah cerita yang sedikit banyak memanfaatkan pengalamannya itu. pengalaman yang sedapat mungkin diabadikan melaui kamera SLR manual-nya[4]. Hingga menghasilkan banyak foto.

Pemuatan banyak foto-foto dalam buku ini juga menuai arti bagi Seno. Selain arti yang merujuk dari artian yang bukan berarti tanpa berisiko, seperti dengan banyaknya foto-foto tersebut membuat ‘analisis susastra’ yang pernah didengarnya menyebut bahwa dengan terpasangnya banyak foto tersebut seperti kekurangpercayaan kepada kata-kata. Dalam hal ini Seno tidak ambil pusing. Seno justru sungguh bersyukur karena telah mengambil gambar sebanyak-banyaknya dan senekat-nekatnya, juga bahkan dalam keadaan dilarang memotret.

Sekali lagi, saya beranggap dalam buku ini Seno sedang menulis dengan ‘santai sesantai-santainya bagai tiada lain selain santai dan pokoknya santai’, tenang, apa adanya, dan jauh dari tendensi media mana pun atawa apa pun. Seno hendak berkabar belaka. Berbagi pengalaman. Semacam usaha mereportase ala jurnalis yang berusaha menjauhi tuntutan ‘redaksional’. Seno hanya sibuk dengan kamera SLR manual Nikon FM-5 dan ‘pikirannya sendiri’. Seno tampak  menampilkan sikap oportunismenya dalam ‘mengembarai’ tugas sekaligus profesi itu sendiri ketika mesti mewakili. Kali ini yang kebetulan diundang tapi justru dimanfaatkan untuk kepentingan lain.

Saking ‘santainya’ Seno pun datang lebih awal ke negara tersebut. Diakuinya, lantaran menjadi juri, Seno harus datang sendirian lebih awal, jauh sebelum festival dimulai. Lalu tepat pada 29 Agustus sudah mendarat dengan Garuda di Beijing. Selanjutnya Seno diajak petugas Air Koryo ke sebuah ruangan di bandara. Kata Seno ruangan itu mirip ruangan kantor-kantor TIKI di Jakarta. Setelah diberi boarding pass, tidak lama kemudian berada dalam penerbangan ke Pyongyang.

Dalam penerbangannya itu Seno sibuk dengan pikirannya sendiri; sempat berpikir ini pesawat apa, tapi Seno menduga ini pesawat buatan Rusia. Pesawat yang terkesan ‘gemuk’, berbaling-baling, tampak tanpa pramugari, dan berkesan kurang penerangan. Sejauh ingatannya, ada minuman yang dibagikan oleh seorang pria. Tanpa kereta dorong. Hanya air mineral. Seingatnya pun penumpang pesawat itu hanya sedikit.

Seno menganggap catatan dalam bukunya ini merupakan sketsa belaka. Seperti hal pertama paling berkesan justru pada hotel tempatnya menginap di lantai 42, yakni hotel Yangakdo yang terletak di tengah delta sungai Taedong yang disebut pulau Yanggak, sensasi pertamanya lantaran terdapat restoran tidak bernama, tetapi bernomor, yakni Restoran No. 1 dan Restoran No. 2.

Dalam kesempatan itu, Seno dipersilakan makan di Restoran No. 2. Dipersilakan dalam konteks itu berarti diminta untuk duduk dan menunggu. Tidak ada menu dan tidak ada buffet. Kalau pun ada pelayan, kala itu, perempuan yang melayani hanya tersenyum. Tidak mengucapkan apapun. Lantas meletakkan sepasang sumpit. Itulah pengalaman awal yang baginya suatu keajaiban.

Kemudian Seno menggelisahkan kamar yang diinapinya itu. Baginya selama 18 malam memiliki kesan tersendiri. Kesan kesendirian Seno di lantai 42 bahwa dirinya benar-benar sendirian tanpa seorang pun. Hal itu teranggap lantaran tidak pernah ada suara lain di lantai itu. Juga tidak pernah terlihat ada pelayan. Setiap kali ada terdengar, itu pun adalah langkahnya sendiri.

Dalam deskripsi tentang kamar itu disebutnya bahwa kamar itu cukup luas—ada ruang tamu, ruang tengah, lalu barulah tempat tidur lumayan besar—cukuplah bagi Seno untuk memasukkan dua puluh lima orang teman ke dalam, itu pun masih tetap berasa luas. J  

**

Dalam Jejak Mata Pyongyang ini, sekali lagi, justru keragaman‘keunikan dilaluinya’ dengan cermat penuh catatan. Seno memberikan batasan fokus pengalaman  sebagai pengarang, wartawan, dan dosen. Saya kira itulah catatan tersndiri. Catatan atas pengalaman Seno yang sempat pula ‘Ditempel Intel Mehong’. Sosok intel  yang selalu serba ingin  tahu. Ya, intel mehong; sosok yang diam-diam mengamati pergerakan Seno—tentunya peralatan fotografinya itu. Bahkan sampai kamar tempatnya menginap dicurigai dimasuki pula kala Seno sedang keluar.

Selain diamati (pengamatan Seno) sekaligus ditempel intel mehong, Seno mengamati soal ‘baik lelaki atau perempuan, busana atasannya hampir selalu putih dan berlengan pendek’, ribetnya memotret di Pyongyang, kehidupan modernitas serba kelabu lantaran lengang sekaligus serba seragam pula, toleransi umat tidak beragama, hingga persoalan busana kaum formal  dan kaum proletar—Seno memotret sebagai wartawan yang berusaha mengungkap ketertutupan.

Tidak luput dari perhatian Seno yakni persoalan bahwa—meski dirinya sudah menuliskan persoalan dengan lugu—ketidakmampuannya mengandaikan dengan begitu saja tentang  rakyat di belahan utara Semenanjung Korea yang tertindas dan memang ditindas oleh pemerintah negerinya sendiri. Maka hal paling mencekam bagi mental masyarakat korea Utara bahwa “rakyat taat dan takluk terhadap ideologi negara”.

**

Perjalanan senantiasa menginspirasikan. Setiap panorama atau pun lelaku sosial di dalamnya dapat menjadi sumber bertenaga bila proporsional cara menyajikannya. Dalam hal ini saya melihat Seno melakukan sikap oportunisme dalam kesenyampangan tatkala ia dapat umpan lambung oleh temannya itu—ia paham betul bahwa selain teks yang tentu saja mampu memberi ruang bagi pemaknaan, terlebih gambar mampu bertindak ‘lebih jauh’ bagi pembacanya.

Terpentingnya lagi, sebuah pengembaraan Seno yang secara terselubung ingin membandingkan kehidupan setiap kota. Supaya pembaca sekurangnya mensyukuri; lebih baik kehidupan di Indonesia yang beribu kota Jakarta ketimbang Pyongyang. Mungkin—sebab betapa mengerikan hidup dalam perintah atawa aturan negara yang sedemikian sangar. Salah sedikit bisa tanpa ampun. Salah ucap di mana negara menjadi terancam pun ‘keselamatan bisa fakir’.



[1] Seorang penulis, pembuat film—sekaligus pengajar dari dan di Indonesia. beliau kelahiran Solo, 10 Oktober 1956 (nama yang ngetop dekade 1980—1990-an di Industri perfilman Indonesia. sampai hari ini keintelektualannya menyoal film tetap diperfitungkan

[2] Disebuit sebagai Jenderal Besar trtinggi di Korea Utara. Meninggal saat usia 69 pada 2011—dalam sebuah “perjalanan dinas”karena kelelahan fisik. Berjasa besar bagi Korut. Konon, rakyat Korea Utara jauh lebih menganggungkan jasanya ketimbang “Sang Hyang” (berbagai sumber saya dengar sekaligus melacak dari dunia daring)

[3] Persis saya kutip dari KBBI

[4] Kala itu Seno sempat bilang karena kala itu belum bersentuhan dengan kamera digital seperti sekarang ini