Chairil Anwar Bergunjing Bengkel Sastra

Chairil Anwar

Chairil Anwar kita kenal melalui buku pelajaran sastra, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Melalui buku-buku itulah kita dipahamkan bahwa Chairil Anwar adalah seorang penyair, bahkan tokoh sangat penting dalam sebuah angkatan sastra yang disebut Angkatan '45.

Chairil Anwar menjadi tokoh, atau ditokohkan, karena sajak yang ditulisnya berbeda dari sajak-sajak yang dihasilkan oleh generasi sebelumnya --yang disebut Angkatan Pujangga Baru. Berbeda dari sajak angkatan sebelumnya yang terkesan biasa-biasa saja dan mendayu-dayu, sajak Chairil Anwar tampil menyala dan menyalak. Beberapa contoh yang biasa ditampilkan dari menyala dan menyalaknya sajak Chairil Anwar adalah "Diponegoro", "Aku", "Persetujuan dengan Bung Karno" dan "Krawang--Bekasi". Ada baiknya kita kutip secara utuh sajak-sajak itu.


Diponegoro

 Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

 

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri.

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

 

MAJU

 Ini barisan tak bergenderang berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu.

 

Sekali berarti

Sudah itu mati.

 

MAJU

 

Bagimu Negeri

Menyediakan api

 

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditinda

 

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai.

 

Maju.

Serbu.

Serang.

Terjang.

 


Aku

 Kalau sampai waktuku

'Kumau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

 

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

 

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

 

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

 

Dan aku akan lebih tidak perduli

 

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

 

Persetujuan dengan Bung Karno

 Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,

            Dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu

 

Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api aku sekarang laut

 

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat

Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh


Sajak Chairil tidak hanya dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya dan sezamannya saja, tetapi tembus ruang dan waktu: dari Aceh sampai Jayapura, dari dulu sampai sekarang.

Chairil Anwar tidak hanya dikenal karena sajak aslinya, tetapi juga karena karya terjemahan atau sadurannya. Menurut sejumlah tulisan dan pembicaraan para peneliti atau ahli sastra, terjemahan atau saduran karya Chairil Anwar "lebih bernyawa" daripada karya aslinya. Untuk contoh ini kita kita suka menyebut "Huesca" dan "Krawang--Bekasi" sebagai contoh.

Selain karena sajak-sajaknya, Chairil juga dikenal sebagai seniman yang betul-betul seniman karena paling lengkap memiliki ciri-ciri khas seniman: tidak punya pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, selalu kekurangan uang, penyakitan, dan tingkah lakunya menjengkelkan. Banyak cerita tentang hal seputar itu menyangkut Chairil Anwar sampai muncul desas-desus yang kemudian menjadi pengetahuan umum, yakni karena kesukaannya kluyuran mengarungi kehidupan malamlah, Chairil Anwar terjangkit penyakit yang mengakibatkan kematiannya.

Apa pun kata orang, satu hal yang bisa kita catat bahwa kita mengenal Chairil Anwar karena tulisan-tulisannya. Ya, Chairil Anwar dikenal karena menulis. Kalau dia tidak menulis, barangkali kita tak akan pernah mengenal penyair yang mati muda pada usia 27 tahun pada tanggal 28 April 1949 itu.

Kini, hampir tujuh puluh tahun sudah Chairil Anwar meninggalkan kita. Itu berarti, hampir tujuh puluh tahun yang lalu penyair kurus itu melakukan kegiatan berbahasa dan, kata sebagian orang, mencapai puncak yang hingga kini sulit tertandingi.

Pertanyaannya: apakah setelah tujuh puluh tahun ditinggal pergi oleh Chairil Anwar, orang banyak sungguh-sungguh bergelut dengan bahasa, khususnya dunia tulis-menulis? Jawabnya: sebagian besar tidak. Sebaliknya, orang justru beramai-ramai dengan gembira kembali ke zaman jauh sebelum Chairil: menceburkan diri dan hampir-hampir memuja kelisanan lewat kesukaan bergunjing. Bergunjing? Ya, bergunjing.


Bergunjing

Bergunjing, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah "berbicara (beromong-omong) tentang kejelekan (kekurangan) seseorang ".

Kita tahu, agama apa pun tidak menganjurkan pemeluknya untuk bergunjing. Para pengkhotbah selalu mengingatkan kita bahwa bergunjing bukanlah perbuatan terpuji. Daripada bergunjing lebih baik mengerjakan hal lain yang lebih bermanfaat.

Tapi kenyataan menunjukkan bergunjing bisa menjadi dagangan yang sangat laku. Kita saksikan di televisi-televisi betapa bergunjing menjadi tontonan yang rating-nya tinggi. Tiada hari tanpa acara semacam itu di televisi kita.

Bergunjing pada dasarnya adalah berkisah. Kalau saja kesukaan bergunjing itu digeser menjadi kesukaan bercerita tentang hal-hal yang baik menyangkut seseorang, kemudian kesukaan bercerita --yang dilakukan secara lisan-- itu kita geser menjadi kesukaan bercerita yang bukan lisan, alangkah ramainya dunia tulis-menulis kita.

Masalahnya, sebagaimana dikeluhkan banyak orang, menulis itu susah, mengarang itu tidak gampang. Juga tidak ada kursusnya, tidak ada yang mengajari. Kursus akting banyak, kursus menyanyi banyak, kursus mengarang --itu yang langka.

Nah, Badan Bahasa beserta unit pelaksana teknisnya, balai dan kantor bahasa yang tersebar di bumi Indonesia, mencoba mengisi kekosongan itu lewat kegiatan yang disebut Bengkel Sastra.

 

Bengkel Sastra

Bengkel sastra adalah terjemahan bebas dari literary workshop. Barangkali lebih tepat kalau diterjemahkan menjadi lokakarya penulisan karya sastra. Mungkin agar tidak terkesan terlalu serius dan menakutkan, maka dipilihlah kata "bengkel sastra" yang bagi kebanyakan orang mungkin terasa lucu. Tapi sudahlah. Kita terima saja apa kata Shakespeare: what is in a name 'apalah arti sebuah nama'.

Sebagai kegiatan, Bengkel Sastra sudah dilakukan Badan Bahasa (dulu: Pusat Bahasa) sejak paruh pertama tahun 1990-an. Belum lama sekali memang. Belum seratus tahun. Meskipun begitu, dalam kurun waktu itu hingga kini Badan Bahasa telah membengkel-sastrakan ribuan orang, pada umumnya siswa dan guru sekolah menengah.

Setiap tahun Badan Bahasa menargetkan melibatkan 300--500 orang (terdiri atas guru dan siswa) dalam kegiatan Bengkel Sastra di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Jayapura. Itu yang ditangani langsung oleh Badan Bahasa. Jika digabung dengan yang dilakukan Balai Bahasa dan Kantor Bahasa --yang kini berjumlah 30 di seluruh Indonesia—tentu lain lagi hitungannya.

Hingga kini Bengkel Sastra yang dilakukan masih terbatas pada tiga jenis kegiatan: musikalisasi puisi, pementasan drama, dan penulisan (cerpen dan puisi). Ke depan, tidak tertutup kemungkinan bagi Badan Bahasa dan Balai/Kantor Bahasa untuk memperbanyak jenis kegiatan Bengkel Sastra (ditambah penulisan skenario, misalnya) dan memperluas jangkauan (siswa dan guru SMP/SD,  misalnya).

Entah sudah berapa banyak siswa dan guru yang dilibatkan dalam kegiatan Bengkel Sastra Badan Bahasa dan Balai/Kantor Bahasa. Adakah di antara peserta Bengkel Sastra itu kemudian terus menulis karya sastra dan menjadi pengarang/ penyair, kami tak punya catatan rapi tentang itu.

Badan Bahasa bersyukur jika ada peserta Bengkel Sastra yang menjadi pemusikalisasi puisi, pemain drama, atau penulis. Dengan begitu, tercapailah keinginan Badan Bahasa untuk ikut menyiapkan generasi pelapis yang memiliki nilai lebih.


--Prih Suharto

Bacaan:

Anwar, Chairil. 1986. Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Grasindo

Jassin, H.B. 1982. Chairil Anwar: Pelopor Angkatan ’45. Jakarta: Gunung Agung

Artikel Terpopuler