Kritik dalam Sajak-Sajak Tinju Taufiq Ismail

Pengantar

Besar kemungkinan, rubrik “Surat Pembaca” dalam surat kabar atau majalah pada mulanya adalah untuk menampung kritik dan saran sehubungan dengan berita atau tulisan yang dimuat dalam media yang bersangkutan. Dengan bantuan surat-surat pembaca, surat kabar atau majalah bisa melihat bagian mana saja yang harus dibenahi: apa yang harus dibuang, apa yang harus ditambah.

            Dalam perkembangannya kemudian, rubrik itu tidak lagi hanya semata-mata menerima surat yang ditujukan kepada dirinya, tetapi juga ditimbuni dengan keluhan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, kemacetan lalu lintas, kesalahan sistem pendidikan, dan lain-lain. Setelah apa yang disampaikan melalui rubrik “Surat Pembaca” membawa hasil baik, maka semakin banyaklah orang yang mengeluhkan maslah yang dihadapinya kepada pengasuh “Surat Pembaca” daripada kepada pihak yang seharusnya menjadi sasaran keluhannya.

            Salah seorang yang ikut memanfaatkan rubrik “Surat Pembaca” adalah Taufiq Ismail, penyair Angkatan 66. Taufiq Ismail menulis beberapa surat pembaca yang dimuat dalam surat kabar. Yang menarik, surat pembaca itu ditulisnya dalam bentuk sajak dan masalahnya pun berpusat pada satu masalah, yaitu tinju. Karangan kecil ini akan mencoba membicarakan beberapa sajak tinju itu dan kritik yang dikandung sajak itu.


Sajak Tinju

Pada tahun 1980-an tinju merupakan olahraga yang sangat populer di samping sepak bola dan tenis. Setiap ada pertandingan tinju kelas dunia, seluruh televisi seperti berebut menyiarkannya. Tidak peduli harus keluar biaya yang sangat besar. Demi kesenangan, semua cara halal.

            Bagi sebagian orang, pemuasan semacam itu sangat berlebihan, terutama kalau dikaitkan dengan kenyataan bahwa kepuasan itu datang dari keasyikan menyaksikan pembantaian manusia atas manusia lain. Di antara orang yang tidak setuju dengan tinju adalah Taufiq Ismail. Karena tidak setuju, Taufiq Ismail protes, bahkan mengritik dengan keras. Protes dan kritik tajam itu dimuat dalam surat kabar Kompas dan Suara Pembaruan.

            Kita bisa menduga, apa alasan Taufiq Ismail mengirim sajak itu dalam bentuk surat pembaca. Pertama, “surat pembaca” adalah salah satu rubrik yang digemari pembaca. Kedua, kalau surat pembaca yang berbentuk biasa saja menarik perhatian banyak orang, apalagi kalau ditulis dalam bentuk sajak.

            Setidaknya ada sekian sajak tinju yang ditulis Taufiq Ismail. Sajak itu adalah “Lonceng Tinju” (Kompas, 28 Februari 1987), “Memuja Kepalan, Menghina Kepala” (Kompas, 3 September 1988), “Lupa Aku Nomor Teleponnya” (Kompas, 26 Februari 1989), “Wahab Bahari, Tak Tahan Aku Melihat Sinat Matamu” (Suara Pembaruan, 24 Februari 1989), “Abad Ini, dari Satu Sisi Lumayan Juga Biadabnya” (Kompas, 11 Juni 1989), dan “Jangan Memukul Kepala” (Kompas, 28 Januari 1990). Dalam karangan kecil ini hanya akan dibicarakan tiga sajak, yaitu “Lonceng Tinju”, “Memuja Kepalan, Menghina Kepala”, dan “Abad Ini, dari Satu Sisi Lumayan Juga Biadabnya”....


Kritik dalam Sajak Taufiq Ismail

“Sajak Lonceng Tinju” menggambarkan tokoh aku yang merasa sendiri dan terasing di pojok setiap mendengar lonceng tanda dimulai pertandingan tinju dikelenengkan. Si “aku” kemudiana teringat masa kecilnya ketika neneknya melarangnya mengadu ayam. Dia juga teringat masa kuliahnya di Institut Pertanian Bogor ketika dosennya melarang mengadu hewan. Larangan-larangan itu begitu membekas di hatinya sehingga diterima sebagai ajaran luhur yang harus diamalkan. Namun, ketika apa yang dianggapnya ajaran luhur itu ternyata tidak dimiliki semua orang, si “aku” jadi merasa sendirian. Perasaan itu datang ketika “aku” menyaksikan orang-orang yang menikmati hiburan dua anak manusia yang saling mendaratlan pukulan di kepala lawan.


Setiap kali lonceng berkelenengan

Tanda putaran dimulai

Setiap mereka bangkit

Dan mengepalkan tinju

Setiap teriakan histeris

Bergemuruh suaranya aku kelu

Dan merasa di pojok sendirian


Kritik yang disampaikan sajak itu berkaitan dengan histeria yang timbul oleh kesukaan orang pada dimulainya pesat saling pukul petinju di atas ring. Kalau mendengar lonceng saja sudah kegirangan, apalagi bunyi “gedebuk” dan darah yang muncrat dari orang-orang yang diadu itu. Artinya, berapa orang suka mendapatkan kesenangan dan kesakitan orang lain.

            Sajak kedua, “Memuja Kepalan, Menghina Kepala” menceritakan wawancara seorang wartawan olah raga dengan tengkorak dua petinju di dalam kuburnya. Tengkorak pertama bercerita tentang betapa dia ditinggalkan oleh pemujanya. Dia ditinggalkan justru pada saat tidak lagi mampu berdiri sendiri, sulit bicara, dan rusak susunan saraf di kepalanya. Dengan nada yang dipeuhi kekecewaan dan kekesalan, tengkorak kedua mengatakan bangsanya adalah pemuja kepalan karena “tujuh hurufnya” dan penghina kepala karena “hurufnya enam cuma”.

            Kritik yang segera tertangkap adalah penyerangan pada kesukaan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kuantitas. Orang ternyata lebih menghargai jumlah yang lebih banyak daripada yang lebih sedikit. Kesukaan pada jumlah yang banyak menyiratkan keserakahan. Sementara itu, soal jumlah yang banyak atau yang sedikit, kepalan adalah tanda kekasaran, sedangkan kepala adalah tanda kecerdasan. Memuja kepalan berarti mengagungkan kekersan, menghina kepala berarti melecehkan kemanusiaan karena di sanalah letak otak, pusat pernalaran manusia, mahluk yang paling mulia di muka bumi.


“Sesudah sepuluh tahun berlalu

Sesudah seribu juta di saku

Orang melupakan daku

Ketika aku lumpuh dan gagu”

Kata tengkorak yang satu.


“Bangsaku pemuja kepalan

Karena tujuh hurufnya

Bangsa penghina kepala

Karena enam hurufnya cuma”

Jawab tengkorak satunya.


            Sajak yang ketiga, “Abad Ini, dari Satu Sisi Lumayan Juga Biadabnya” berisi komentar tentang kemunduran peradaban. Kalau abad di depan disebut abad yang lumayan beradab, abad ini disebut abad yang lumayan biadab. Kebiabannya, antara lain, ditandai dengan penghalalan adu manusia yang semata-mata atas keserakahan.


Di abad lalu aturan sangat beradab

Manusia bandel juga melanggarnya

Tapi masih ada patuhnya

Masalah serakah, sih

Serakah juga


Di abad kita ini

Aturan beradab sudah dihapuskan

Manusia diadu seperti hewan

Alasannya dikarang-karangkan

Dan masalah serakah uang

Sepanjang sejarah dunia

Tak ada tandingnya

Alasannya luar dari biasa.


Kritiknya terutama berkaitan dengan kenyataan bahawa olahraga tinju sebenarnya tidak lebih dari sekadar usaha meresmikan adu manusia dengan alasan yang dicari-cari. Tujuan satu: mencari keuntungan sebanyak-banyaknya.


Penutup

Bukan sebuah kebetulan bahwa tiga sajak tadi adalah sajak-sajak yang memiliki nilai sastra yang lebih baik daripada keempat sajak lainnya. “Lonceng Tinju”, misalnya. Meskipun aku dalam sajak itu kelas mengacu kepada penyairnya, sajak itu merekamkan dan menampilkan kembali dengan baik kegelisahan dan ketersudutan orang dari kelompok minoritas. Suara yang jernih –mungkin juga merdu—tertelan suara gemuruh mayoritas yang memekakkan telinga. Dibanding Loveng Tinju, sajak memuja Kepalan Berada memiliki nilai lebih. Dengan bahasa yang sederhana, sajak itu bercerita, hanya bercerita, tentang sesuatu yang bagi banyak orang mingkin omong kosong saja. Namun, ketika tertangkap keluhan sang petinju bawah bangsanya adalah pemuja kepalan dan penghina kepala hanya karena perbedaan jumlah huruf, betapa tajamnya kritik yang dibangun dengan bahasa yang bersahaja itu.

            Demikian juga halnya dengan sajak “Abad Ini...”. Dengan struktur bahasa yang dibolak-balik, cara penyampaiannya menjadi menarik dan khas bergaya sajak. Sementara itu, kempat sajak lainnya, meskipun disampaikan dengan cara yang juga menarik, isinya ditungangi emosi yang begitu kentara. Ada kesan kuat, isinya lebih dipentingkan daripada penyampaiannya. Meminjam kata-kata Subagio Sastrowardoyo ketika membahas sajak-sajak Taufiq dalam Tirani dan Benteng (Lihat: Bakat Alam  dan Intelektualisme, 1972), di sana “ada perasaan tidak sabar yang mendesak-desak untuk meledakkan semangat dan pikirannya sehingga tidak ada waktu lagi untuk memperhatikan caranya menyatakan diri”.


--Prih Suharto


Bacaan:

Sastrrowardoyo, Subagio. 1972. Bakat Alam dan Intelektualisme. Jakarta: Balai Pustaka.                                  

Artikel Terpopuler