Si Melengkar: Kisah Pahlawan dari Kutai

1. Pendahuluan

Cerita rakyat bertema kepahlawanan sampai kini masih tetap aktual  sebab pembaca yang aktif akan memaknai konsep kepahlawanan pada masa lalu dengan cermin masa kini. Hal itu berkaitan dengan pendapat Garin Nugroho yang mengatakan, bahwa kepahlawanan senantiasa berkait dengan karakter serta cara berpikir, bereaksi, dan bertindak sebuah bangsa. Di sisi lain, kepahlawanan sesungguhnya terus bertumbuh dalam beragam nilai dan bentuk sekaligus mengalami transformasi terus-menerus sesuai ruang dan waktu serta tuntutan situasi zaman (Garin Nugroho, Kompas, Minggu, 11 November 2012).

Seseorang disebut pahlawan pada masa lalu bisa saja parameternya  berbeda dengan masa kini. Jika pada masa lalu predikat seorang pahlawan tampak identik dengan perjuangan seseorang melawan penjajah atau mempertahankan tanah airnya dari serangan musuh. Kini sebutan itu maknanya bisa saja meluas,  bisa saja seseorang disebut pahlawan karena dia menjaga lingkungan sekitar atau bisa saja seorang paramedis dengan sarana yang minim, di daerah perbatasan, dia melalukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan berhasil menangani masalah atau bisa juga seseorang disebut pahlawan karena dia berhasil memberantas korupsi.. Ada kualitas personal dan kontribusi atau jasa dari  orang tersebut untuk kepentingan tanah air atau bangsanya sehingga akhirnya dia layak  diberi predikat sebagai seorang pahlawan.

Perhatian atas cerita rakyat yang bertema kepahlawanan belum banyak dilakukan. Bandung Mawardi mengatakan, bahwa selama ini  publik cenderung mengenali pahlawan melalui medium buku teks pelajaran, buku sejarah, buku biografi, buku memoar, esai, artikel, atau film (Bandung Mawardi http://www.surabayapost.co.id/). Untuk itu, penelitian yang mengupas tema  kepahlawanan yang bersumber dari cerita rakyat  penting dilakukan dengan harapan dapat memberikan informasi secara luas tentang cerita-cerita kepahlawanan yang  terdapat dalam cerita rakyat untuk pengembangan kesastraan.

Dalam kesempatan ini penulis ingin meneliti cerita rakyat yang berasal dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yaitu cerita “si Melengkar” yang bersumber dari buku Legenda dan Cerita rakyat Kutai diterbitkan oleh Pemda Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, tahun 1974.

Sosok kepahlawan si Melengkar sangat menarik untuk diteliti karena  si Melengkar sebagai orang biasa dan berada di gunung Meratus merasa terpanggil untuk mempertahankan tanah kelahirannya dari serangan musuh. Dia dengan keberaniannnya turun gunung untuk membela Raja Kutai dari serangan Raja Melayu yang ingin memperluas wilayahnya.

Fokus penelitian ini terletak pada sosok si Melengkar dan unsur-unsur yang mendukungnya.

 
2. Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Menurut Nyoman Kutha Ratna, metode tersebut digunakan dengan cara-cara mendeskripsikan fakta-fakta, kemudian disusul dengan analisis atau tidak semata-mata menguraikan, juga memberikan pemahaman dan penjelasan (Nyoman Kutha Ratna, 2007:53). Metode ini dipilih sebab yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah penulis tidak semata-mata mendeskripsikan cerita “si Melengkar”, tetapi menganalisisnya. Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah studi pustaka.

Landasan Teori

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan objektif yang memusatkan perhatian  pada karya itu sendiri.  Fokus utama yang dianalisis adalah totok si Melengkar sebagai seorang pahlawan. Mengenai tokoh Sudjiman (1990: 79) mengatakan bahwa tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa di dalam berbagai peristiwa dalam cerita.

Cerita kepahlawanan, bisa juga disebut wiracarita atau epos adalah cerita yang mengisahkan manusia idaman, seorang yang dianggap penting yang menjadi pahlawan. Tokoh ini merupakan hero, pahlawan, atau wira yang menjadi tokoh ideal yang harus dicontoh dan dijadikan panutan dalam berbagai perilakunya. Seorang wira diturunkan ke dunia untuk kepentingan penataan kehidupan di dunia. Karena ia tokoh istimewa dan penting, biasanya kelahiran tokoh ini juga istimewa. Keistimewaan itu ditandai dengan kesempurnaan fisik dan spritual  yang memenuhi citranya sebagai pahlwan. Oleh sebab itu, sifat-sifatnya baik, keteguhan pada kemauan, harga diri, dan cintanya sesama manusia pantas ditiru. Dengan begitu dalam epos terdapat berbagai nilai, baik nilai kepribadian, sosial, dan keagamaan (Mu’jizah 2012: 4-5).

 
2. Ringkasan Cerita

Melengkar dijodohkan oleh orang tuanya dengan gadis cantik saudara sepupu, anak pamannya. Ternyata istri Melengkar tidak suka dengan perjodohan itu karena dia sudah memiliki pilihan sendiri. Istrinya tidak mau bicara, tetapi Melengkar berusaha bersabar selama tiga tahun. Perjodohan antara Melengkar dan anak pamannya itu pun terjadi karena orang tua mereka menginginkan hubungan kekeluargaan tetap erat dan warisan keluarga tidak jatuh kepada orang lain. Orang tua Melengkar dan pamannya termasuk keluarga kaya di Kampung Muara Kaman. Kampung itu termasuk ke dalam wilayah Kerajaan Kutai. Di Muara Kaman adat perjodohan memang masih lazim dilakukan. Banyak pemuda dan pemudi dinikahkan, tetapi tidak saling mengenal sebelumnya. Beberapa pasangan ada yang berhasil membina keluarga, ada juga yang gagal. Oleh karena tidak ada tanda hubungan Melengkar dengan istrinya akan membaik, Melengkar nekad hendak pergi jauh, mengembara ke Gunung Meratus. Hal itu, dikemukakannya kepada orang tua dan istrinya. Orang tua Melengkar dengan rasa iba mengizinkan kepergian anaknya.

Dalam perjalanan ke Gunung Meratus, Melengkar hanya makan seruas lemang dan satu biji ketupat setiap harinya, kemudian dia melihat sisa bekal di kantungnya, ternyata isinya beras segantang. Pada hari ketujuh sampailah dia ke kaki Gunung Meratus yang angker. Hari mulai senja, tiba-tiba saja angin bertiup kencang. Langit hitam pekat, petir sambar-menyambar, dan suara guntur menggelegar, seolah membelah bumi.

Melengkar berteduh di bawah pohon, kemudian tiga potong kayu yang ditemukannya, dijadikannya sebagai alas tempat duduk. Alam telah gelap gulita. Mata Melengkar tidak lagi jelas melihat pemandangan di sekelilingnya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seekor ular sebesar pohon pinang mendekatinya.  Melengkar hendak lari, tetapi kakinya sangat berat untuk dilangkahkan. Dia hanya bisa menahan nafas, menyongsong apa pun yang akan terjadi. Ular merayap ke bahu kiri dan bahu kanannya, lalu kepalanya.  Setelah itu,  ular itu menghilang.  Belum hilang rasa takut Melengkar, muncullah sebuah seekor lipan. Binatang berbisa sebesar pergelangan tangan menuju ke arah Melengkar. Lipan itu pun merayap ke bahu kiri, kemudian ke bahu kanan, terus ke kepala. Dalam sekejap lipan itu pun menghilang juga. Si Melengkar bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang akan terjadi pada dirinya.

Hujan berangsur reda tinggal rintiknya saja dan hari telah malam. Dari kejauhan terdengar suara gemerincing gelang kaki. Melengkar menoleh ke kiri dan ke kanan. Ke muka dan ke belakang, tidak ada apa-apa. Dia kemudian melihat ke atas dan tercengang sebab melihat seorang gadis cantik menjinjing labu air tengah menuruni tangga bersusun. Gadis itu pun sampai ke tanah, kemudian mendekati Melengkar dan menegurnya dengan ramah.

Melengkar terkejut karena gadis itu mendahului menyapanya dan mengetahui namanya, kemudian menyuruh lelaki itu berteduh di laminnya. Melengkar pun memperhatikan telunjuk gadis itu yang menunjuk ke atas. Dia dibuat kaget lagi sebab di situ terlihat sebuah bangunan yang sangat besar.  Melengkar menaiki tangga lamin, kemudian duduk menantikan gadis itu. Dalam pandangannya, lamin itu sangat besar dan kamarnya sangat banyak. Tiap-tiap kamar tertutup sehingga tidak kelihatan penghuninya. Beberapa saat kemudian, gadis yang ditunggu Melengkar datang lagi dengan membawa hidangan yang kumplit, kemudian menyuruh Melengkar makan. Selesai makan Melengkar disuruh istirahat di sebuah kamar yang sudah disiapkan.

Di kamar itu telah terhampar tikar lampit dan bantal yang tersusun rapi. Setelah mempersilakan tamunya tidur, gadis itu pun pergi ke kamarnya. Oleh karena lelah dan banyak keterkejutan yang ditemuinya, Melengkar pun tertidur dengan lelapnya. Waktu subuh tiba, dia terkejut mendengar suara ribut-ribut. Melengkar membuka matanya, dia melihat orang banyak, semuanya laki-laki. Mereka meninggalkan kamarnya masing-masing. Para laki-laki itu hendak bersiap-siap pergi ke ladang. Setelah mereka pergi, Melengkar bangun, kemudian mandi ke tepian.

Sekembali dari tepian, makanan pagi sudah siap dan Melengkar pun sarapan setelah disuruh oleh gadis cantik itu.            Dia tidak kuasa menolak keramahan dan perhatian gadis cantik itu. Selesai makan, Melengkar dan gadis itu duduk dan berbincang-bincang. Si gadis kembali menanyakan apakah benar Melengkar tidak akan kembali ke kampungnya dan maukah menjadi suaminya. Melengkar tertawa mendengar tawaran gadis tersebut karena gadis cantik, pintar dan kaya, melamarnya  adalah sesuatu yang mustahil. Istrinya di kampung yang tidak secantik gadis itu pun telah menolaknya. Melihat kesungguhan gadis itu, Melengkar pun merasa sayang menolak tawaran itu.

Setelah menjadi suami istri, setiap sore si Melengkar sayup-sayup Melengkar menangkap suara sorak sorai dari arah barat.  Melengkar bertanya tentang suara yang didengarnya itu.

Istri Melengkar bercerita, bahwa di sebelah barat Gunung Meratus   terdapat  Gunung Pemangkas. Di situ terdapat sebuah kerajaan besar. Rajanya sangat sakti dan tidak ada orang yang sanggup mengalahkan kesaktiannya.

Raja Gunung Pemangkas  sangat senang mengadu manusia. Manusia dianggapnya seperti binatang. Jika orang yang diadu mati di dalam gelanggang, kemudian dihidupkan lagi, lalu diadu kembali. Sampai raja itu merasa bosan. Jika ada orang yang diadu dapat mengalahkan musuhnya sebanyak 40 orang sekaligus, orang itu akan dikawinkan dengan anaknya.

Raja itu memiliki anak perempuan yang sangat cantik. Siapa saja yang pernah melihat putri raja itu pasti akan tertarik. Anak perempuannya   menjelang dewasa dan Raja Gunung Pemangkas tengah mencarikan jodoh untuk anaknya.         

Berhari-hari Melengkar merenungkan penjelasan istrinya. Lelaki itu jadi sering melamun. Dia tidak puas atas penjelasan istrinya. Dia ingin membuktikan cerita istrinya itu. Suatu hari, dikesunyian huma, senja belum menghilang. Angin bertiup pelan. Melengkar memberanikan diri meminta izin kepada istrinya. Mulanya istri Melengkar tidak setuju dengan keinginan suaminya itu, tetapi setelah suaminya menjelaskan rasa keingintahuannya istri Melengkar merasa kasihan. Dengan berat hati, istrinya itu meluluskan kehendak suaminya dengan syarat segera kembali. Istri Melengkar pun membekali suaminya dengan cincin ajaib warisan dari orang tuanya.

Perjalanan Melengkar dari Gunung Meratus ke Gunung Pemangkas melalui sebuah jembatan. Jembatan itu terdiri dari tiga gelondongan kayu besar dan panjang. Supaya kayu itu tidak bergeser, ujung dan pangkalnya ditindih batu-batu koral yang besar. Umur jembatan itu tampak sudah tua karena di sana- sini telah berlumut. Lumut itu sangat tebal dan menghijau. Pertemuan antara papan dan papan jembatan mulai renggang. Walaupun begitu, jembatan itu masih kuat karena terbuat dari kayu ulin. Dari tengah jembatan, Melengkar dapat melihat keadaan di Gunung Pemangkas.  Sementara itu, orang-orang dari gelanggang pun melihat sesosok manusia di tengah jembatan menuju arah mereka.

Raja Gunung Pemangkas memerintahkan pengawalnya untuk menangkap Melengkar. Seorang lelaki berbadan kekar mengalungkan senjata tajam ke leher Melengkar, kemudian menggeledahnya.

Melengkar mukanya pucat. Bibirnya gemetar. Lututnya terasa goyah. Dadanya berdenyut amat kencang. Dia berusaha bertahan, supaya tidak pingsan. Melengkar dibawa ke gelanggang sambil ditendang.

Sesampainya di gelanggang, Melengkar dihadapkan kepada Raja Gunung Pemangkas. Raja itu memperhatikan tubuh Melengkar. Dalam penglihatan sang Raja, Melengkar bertubuh sedang. Wajahnya tampan dan berkulit kuning. Kata Raja Gunung Pemangkas, jika Melengkar dapat mengalahkan lawan akan, dia akan dikawinkan dengan putrinya

Pengawal dengan cepat membawa Melengkar ke atas panggung untuk bertarung dengan lawan-lawan yang telah disediakan. Dari atas panggung dia melihat serombongan laki-laki. Rombongan itu menuju ke atas panggung. Bulu kuduk Melengkar bergidik.

Rombongan lelaki itu berjumlah empat puluh orang. Mereka berbadan tinggi besar dan tegap. Dadanya bidang, otot-ototnya menonjol, dan kulitnya licin berkilat. Sesampainya di atas panggung, mereka segera mengepung Melengkar.

Melengkar diserang secara serempak. Lelaki itu, tidak berdaya menjadi bulan-bulanan penyerangnya. Perlahan-lahan Melengkar merangkak bangun. Bekas pukulan pada punggungnya terasa amat sakit. Begitu pula tulang-tulangnya terasa patah, bahkan remuk. Pada detik-detik terakhir kesadarannya, Melengkar teringat akan cincin pemberian istrinya. Secara tidak sengaja dia mengusap cincin itu.

Ajaib, tiba-tiba Melengkar terbang dari kepungan lawan-lawannya. tangan kanannya diangkat, membuat gerakan yang siap untuk menghantam satu pukulan dahsyat. Kakinya pun mencari arah sasaran lawan. Sementara itu, cincin Melengkar tersorot sinar matahari, permatanya berkiau-kilauan membuat silau lawannya. Keempat puluh lawannya tidak menyangka serangan lawan secepat itu. Mereka menyangka sebentar lagi lelaki itu dikiranya akan mati. Keempat puluh lawannya berusaha menghindar, tetapi terlambat.

Raja Gunung Pemangkas terkagum-kagum melihat pemandangan itu. Tatapan matanya ditujukan kepada setiap gerakan Melengkar.

Atas keterkejutan dan ketidaksiapan mereka, keempat puluh lawannya seketika itu dapat dikalahkan.

Raja Gunung Pemangkas wajahnya berseri-seri. Dia senang anak gadisnya akan mendapat jodoh seorang lelaki yang kuat dan sakti. Di sisi lain, Melengkar terkejut dan merasa tidak percaya atas kemenangannya.

Raja itu memangggil bawahannya supaya Melengkar disambut dengan upacara kebesaran. Sesuai dengan janjinya, Raja Gunung Pemangkas mengawinkan putrinya dengan Melengkar.

Melengkar tidak kuasa menolak kehendak Raja Gunung Pemangkas. Padahal mulanya dia akan menjelaskan bahwa dia telah mempunyai istri dan tidak akan menikah lagi. Di sisis lain, Melengkar pun tergoda saat melihat kecantikan Putri Gunung Pemangkas. Dia memperhatikan sang Putri dari ujung rambu t sampai ujung kaki. Dalam pandangannya, mata putri itu sangat indah dan serasi dengan hidungnya yang mancung. Lehernya jenjang seperti leher angsa. Rambutnya panjang, legam, dan berkilat-kilat. Kulitnya kuning gading dan bentuk tubuhnya tinggi semampai.

Perkawinan antara Melengkar dan Putri Gunung Pemangkas berlangsung. Raja Gunung Pemangkas sangat bahagia karena anaknya telah mendapatkan jodoh. Yang membuatnya lebih senang lagi, sang Raja mendapat mainan baru yang sangat kuat.

Kebahagiaan Melengkar tidak berlangsung lama karena siang sampai sore hari dia harus bertanding kembali dengan keempat puluh lawannya yang dihidupkan kembali oleh sang raja. Lelaki itu merasa seperti ayam sabung sebab setiap hari dia harus bertanding dan malam hari baru berkumpul dengan istrinya. Berkat kekuatan cincin yang dipakainya dalam setiap pertandingan Melengkar selalu menang.

Tiba-tiba Melengkar teringat dengan istrinya yang di berada di Gunung Meratus. Istrinya itu sakti, pintar, dan baik hati. Istrinya itu selalu memberikan kepercayaan dan dorongan sehingga dia menjadi seorang lelaki yang percaya diri. Sementara, istrinya yang di Gunung Pemangkas telah lama tertidur. Melengkar hendak melarikan diri, tetapi penjagaan di luar  sangat ketat. Dia mengurungkan niatnya. Kemudian, lelaki itu duduk di sudut tempat tidur.  Sementara itu, istri Melengkar di Gunung Meratus sangat gelisah. Dia menunggu suaminya yang tidak kunjung pulang.

Dengan kesaktian yang dimilikinya, Perempuan Gunung Meratus itu nekad pergi ke Gunung Pemangkas. Menjelang subuh, dia sampai ke tempat yang dituju. Setelah mengamat-amati kamar Melengkar dan istri barunya, Perempuan Gunung Meratus segera berjalan cepat. Tidak seorang pengawal pun yang bisa melihatnya. Perempuan Meratus masuk ke kamar Melengkar. Suaminya tengah tidur dengan lelapnya. Di sampingnya, tidur pula Putri Gunung Pemangkas. Perempuan Meratus itu sangat sedih dan terluka hatinya melihat  keadaan suaminya.

Perempuan Gunung Meratus segera mencopot cincin dari jari manis suaminya lalu dia pergi tanpa menoleh kebelakang. Dalam perjalanan pulang perempuan itu terus menangis karena suaminya telah membohonginya.

Saat bangun pagi, Melengkar terkejut melihat jari manis tangannya kosong. Dia tidak lagi melihat cincin kesayangannya itu. Melengkar sibuk mencari cincin ajaibitu  di bawah bantal dan di kolong tempat tidur, tapi cincin itu tak ditemukannya.

Melengkar teringat sore nanti dia harus bertarung kembali.  Dia berpikir daripada binasa di gelanggang lebih baik melarikan diri.  Kemudian, dia melihat istrinya tengah berjalan-jalan di taman bunga.

Dengan mengendap-endap Melengkar keluar dari kamarnya. Dia memakai pakaian penjaga istana. Setelah keluar dari pintu gerbang istana Gunung Pemangkas barulah dia menarik nafas panjang. Dia berjalan menuju arah Gunung Meratus.

Sesampainya  di Gunung Meratus, Melengkar menemui istrinya, tetapi istrinya menyuruh si Melengkar kembali ke Gunung Pemangkas. Istrinya meminta cincin dikembalikan.  Melengkar merasa bersalah karena cincin itu telah hilang dan ia berjanji tidak akan kembali ke Gunung Pemangkas. Melengkar terkejut dan kagum pada istrinya saat melihat cincin ajaib itu ada pada istrinya.

Malam itu Melengkar beserta istrinya membicarakan keadaan negerinya, Kutai Kertanegara yang mendapat tantangan dari Raja Melayu. Melengkar meminta izin kepada istrinya untuk membaktikan diri kepada negerinya. Istri Melengkar dengan senang hati menyetujui rencana suaminya. Perempuan Meratus mempersiapkan bekal yang akan dibawa oleh suaminya. Bahkan, cincin ajaib itu kembali diberikan kepada suaminya. Di samping itu, Perempuan Meratus menyuruh 24 anak buahnya menjadi pengawal suaminya, kemudian mereka mempersiapkan peralatan perang.

Pagi-pagi sekali, di seputar Meratus dipecahkan oleh Melengkar dan para pengawalnya yang akan pergi ke Tenggarong. Mereka naik perahu melayari sungai Mahakam. Air sungai meluap sebab baru saja hujan turun. Sebelum sampai ke Tenggarong, lelaki itu singgah sebentar ke Muara Kaman meminta doa restu kepada orang tuanya.

Mulanya Melengkar tidak akan kembali ke kampung halamannya. Namun, berkat dorongan istrinya agar sebelum mempertaruhkan jiwa dan raganya, terlebih dahulu harus mendapat doa restu dari ayah dan ibunya, Melengkar pun kembali ke kampungnya.

Setelah memperoleh restu dari kedua orang tuanya, Melengkar dan anak buahnya kemudian melanjutkan perjalanan. Perahu Melengkar melaju kencang, memecah ombak Sungai Mahakam. Dari Muara Kaman, Melengkar dan pengawalnya melewati kampung Setambun Tulang yang dikuasai oleh Awang Seragen. Jika ada orang yang melewati wilayahnya harus membayar upeti  dahulu baru boleh lewat. Jika tidak, orang itu akan disiksa atau dibunuh oleh Awang Seragen dan anak buahnya. Melengkar dan anak buahnya pun dicegat oleh anak buah Awang Seragen.

Anak buah Melengkar menambatkan perahu pada sebatang pohon, lalu mereka turun. Melengkar dan anak buahnya sedikit pun tidak gentar dengan bentakan orang itu. Dia memberi tanda agar anak buahnya bersikap waspada.

Pengawal Awang Seragen yang bertubuh tinggi besar dan gagah itu segera menggiring Melengkar dan anak buahnya masuk ke dalam rumah. Setelah Melengkar dan anak buahnya duduk, Awang Seragen menawari mereka untuk menginang. Bahan-bahan untuk menginang itu ditaruhnya di tampah yang besar.

Melengkar berdiri bulu kuduknya saat melihat bahan-bahan menginang tidak seperti biasanya. Sirihnya bukanlah daun sirih biasa, tapi pecahan wajan. Kapur sirihnya adalah otak manusia dan pinangnya adalah darah manusia.

Melengkar tersenyum, walaupun merasa jijik, dia paksakan juga menginang seperti biasanya. Dia tidak ingin kalah gertak. Begitu pula anak buahnya, melihat tuannya menginang mereka segera mengikutinya.

Awang Seragen menantang si Melengkar berganti tendak ke tanah,  Melengkar menerima tantangan lawannya. Melengkar terlebih dulu ditendakkan ke tanah, kepalanya tertanam sedikit ke tanah, tetapi dapat tercabut kembali. Giliran Awang Seragen ditendakkan ke tanah hampir seluruh tubuh dan kakinya tertanam, Awang Seragen tidak dapat kembali lagi. Akhirnya, Awang Seragen tamat riwayatnya.

Rintangan yang menghalangi  Melengkar dan anak buahnya sudah dapat diatasi, kemudian mereka meneruskan perjalanan. Mereka telah beberapa hari mengayuh perahu, mereka ingin segera sampai dan ingin segera bertemu musuh yang mengganggu ketentraman negerinya dan segera memusnahkannya.  Saat matahari tengah panas-panasnya mereka pun  sampai di Tenggarong.

Melengkar menyuruh anak buahnya menunggu di suatu tempat sebab dia akan berjalan-jalan ke kota. Sore hari  Melengkar sampai di depan istana raja. Dia melihat banyak orang bergerombol seperti tengah merundingkan sesuatu dan Melengkar pun mendekatinya. Ketika dia bertanya, orang-orang itu marah. Melengkar mengatakan supaya orang-orang itu jangan marah, mana tahu dia bisa menolong kesulitan mereka.

Melengkar diantar menghadap Raja Kutai. Dia berterus terang hendak membaktikan diri kepada negerinya. Atas izin Raja dia pun akan Melawan Raja Melayu.

Raja memberi tahu, bahwa besok pagi-pagi benar, dari Sungai Mahakam Raja Melayu akan berkokok menirukan suara ayam jantan dan kokoknya itu harus dijawab.

Kapal besar Raja Melayu  berlayar menuju wilayah Kerajaan Kutai. Raja Melayu mencari musuh untuk melebarkan wilayahnya. Jika raja yang didatangi tidak berani melawannya maka raja itu menjadi taklukannya. Setiap tahun kerajaan itu harus memberikan upeti kepada kerajaan Melayu.

Telah berbulan-bulan mereka berlayar membelah samudra. Kapal itu menyusuri Sungai Mahakam, kemudian berlabuh di ujung pulau. Setelah kapal berlabuh, Raja Melayu dan pengawalnya pergi ke darat. Setiap bertemu orang, pengawal Raja Melayu selalu bertanya di mana ada orang sakti yang bisa melawannya. Tidak seorang pun rakyat mengetahui orang yang dimaksud itu, kemudian Raja Melayu menghadap Raja Kutai.

Raja Kutai diberiwaktu lima belas hari untuk menjawab tantangannya. Jika tidak ada yang mau melawan, Kutai menjadi negeri taklukan. Setelah berkata demikian, Raja Melayu diiringkan pengawalnya kembali ke armadanya. Kemudian, setiap pagi dia berkokok seperti ayam jantan. Setiap hari Raja Melayu mengalami kekecewaan karena kokoknya tidak mendapat jawaban. Suatu pagi, Raja Melayu sangat senang karena kokoknya ada yang menjawab.

Raja Melayu segera mengajak para pembantunya ke darat. Raja itu ingin segera melihat orang yang membalas kokoknya.  Dengan tergesa-gesa para pengawalnya turun dari kapal. Lalu mereka menaiki sekoci menuju daratan.  Para pengawal Raja Melayu mengiring  sang raja, menaiki sebuah gunung, Gunung Pedidi namanya. Gunung itu tidak terlalu tinggi, tapi cukup terjal.

Di Gunung Pedidi telah banyak orang berkumpul. Mereka menunggu kedatangan Raja Melayu. Mereka ingin menyaksikan raja yang akan memporak-porandakan kehidupannya. Sementara itu, Raja Melayu pun  ingin mengetahui, orang yang menjawab kokoknya.

Setelah bertemu dengan Melengkar, Raja Melayu menyepelekan  Melengkar karena badannya tidak sebesar Raja Melayu. Raja Melayu sesumbar, bahwa jika dia menang dalam pertarungan, tanah kutai akan menjadi negeri taklukan. Namun,  jika Melengkar yang menang, kapal layarku yang besar dan megah beserta isinya menjadi milik Raja Kutai.

Pertarungan pun dimulai dengan menggunakan batang petai yang besarnya sebesar pohon pinang sebagai senjata. Melengkar mendapat giliran pertama dilempar dengan batang petai yang diarahkan ke ke ulu hati oleh Raja Melayu. Lemparan Raja Melayu tepat mengenai ulu hati Melengkar, tetapi mental kembali dan Melengkar tetap hidup. Giliran Melengkar untuk melemparkan batang petai ke arah Raja Melayu. lemparan si Melengkar juga tepat mengenai sasaran dan Raja Melayu pun tewas seketika. Sesuai dengan perjanjian, akhirnya kapal ( wanghang) Raja Melayu beserta isinya menjadi milik Raja Kutai.

Melengkar bersama anak buahnya mohon diri kepada raja Kutai untuk kembali ke Gunung Meratus. Ia berpesan kepada Raja, jika suatu saat ada musuh yang akan mengganggu ketentraman Kutai, dia akan datang membantunya.

Mempertahankan Wilayah

Dalam mempertahankan suatu wilayah tanah air (kerajaan) diperlukan tokoh-tokoh “hebat” yang bisa mengatasi masalah yang muncul. Sebagai tokoh utama dan sosok sentral si Melengkar menunjukkan sifat-sifat kepahlawanan, seperti  keberaniaan yang luar biasa, ketabahan dalam menghadapi setiap masalah atau rintangan. Si Melengkar juga memiliki karakter pemberani, rela berjuang, dan berkorban demi negerinya. Dia merasa terpanggil untuk membaktikan dirinya kepada kerajaan Kutai dalam mempertahankan wilayahnya dari serangan musuh.

Pada suatu malam berundinglah si MELENGKAR dengan istrinya untuk pergi ke Tenggarong, membela Meruhum mempertahankan tanah Kutai. Atas maksud baik itu, istrinya tak keberatan... (Anwar Soetoen 1974: 74).

Dari kutipan tersebut, dapat diketahui, bahwa mempertahankan tanah air merupakan ide si Melengkar sendiri yang ingin membaktikan diri kepada kerajaan Kutai, kemudian peran istri yang tidak keberatan atas kehendak suaminya merupakan hal yang sangat penting di dalam suatu perjuangan. Di dalam cerita “si Melengkar” tokoh pendukung yang sangat kuat yang bisa menopang keberhasilan tokoh  utama, yaitu istri si Melengkar (Perempuan Gunung Meratus). Di belakang seorang suami yang berhasil ada seorang istri yang sangat kuat (sakti) atau tangguh, rela berkorban, bisa menopang segala upaya si Melengkar untuk mencapai tahap kegemilangan atau keberhasilan.

Untuk mencapai keberhasilan  dalam perjuangan perlu adanya dukungan tokoh-tokoh di sekitarnya. Selain didukung  istrinya, si Melengkar juga didukung oleh anak buah istrinya yang “aneh” (manusia tetapi memiliki ekor) sebanyak 24 orang  membantu si Melengkar dalam menghadapi musuh.

Manusia-manusia aneh itu, selain membantu mengerjakan ladang Perempuan Meratus, juga melaksanakan semua perintah perempuan itu.

Pada waktu subuh, si MELENGKAR terkejut mendengar suara ribut. Dilihatnya orang banyak, kesemuanya laki-laki, meninggalkan jorahnya masing-masing dengan persiapan seolah-olah akan ke ladang. Atas cerita perempuan itu, maka tahulah si MELENGKAR, bahwa laki-laki yang dilihatnya subuh tadi, adalah anak buah perempuan itu, untuk mengurus ladangnya ...serta 24 orang pengawal yang kesemuanya berekor kira-kira panjang setebah (Anwar Soetoen 1974: 69, 74).

 Ada unsur lain  yang bersifat nonfisik, yang mendukung agar tercapainya cita-cita seseorang (seorang anak), yakni dukungan orang tua. dalam cerita “si Melengkar”  dukungan orang tua, berupa doa ternyata sangat mujarab. Si Melengkar sangat menghargai orang tuanya. Walaupun hidupnya bisa dikatakan sudah “berhasil” (mempunyai istri cantik, kaya, dan sakti) ia tidak serta merta melupakan orang tuanya. Sebelum berperang, si Melengkar menyempatkan diri menemui orang tuanya, padahal sebelumnya dia sudah bersumpah tidak akan kembali ke kampung halamannya  dan orang tuanya pun sangat bangga memiliki.

Alkisah dalam perjalanan, si MELENGKAR sempat singgah bertutur cerita tentang keadaannya selama meninggalkan Muara kaman, serta mohon do’a restu atas keberangkatannya guna mempertahankan tanah Kutai bagi orang tuanya. Karena itu dilepaslah si MELENGKAR dengan perasaan bangga oleh orang tuanya, atas kebaktian anaknya pada tanah Kutai serta kesetiaannya pada Meruhum (Anwar Soetoen 1974: 74, 75).


4. Rintangan dalam Perjuangan

Dalam perjuangannya, si Melengkar menghadapi berbagai rintangan, seperti alam yang ganas (sungai Mahakam), tokoh antagonis Awang Seragen dan gerombolannya, dan Raja Melayu. Namun, sebagai seorang laki-laki pemberani, dengan segala daya juang dia menghadapi segala rintangan yang menghadang.

Melihat si MELENGKAR biasa saja menghadapi sirih pinang yang disodorkannya, maka awang Seragen berkatalah pada si MELENGKAR: “Laki-laki juga kamu hai MELENGKAR.

“Karena Aku laki-lakilah maka berani menghanyuti sungai Mahakam ini”, jawab si MELENGKAR. Mendengar jawaban demikian itu, maka Awang Seragen mengajak si MELENGKAR berganti tendak ke katanah (Anwar Soetoen 1974: 78).

Rintangan awal muncul dari Awang Seragen dan gerombolannya yang menghalangi perjalanan si Melengkar untuk melaksanakan niatnya membantu Raja Kutai. Awang Seragen menetapkan peraturan, jika ada orang yang masuk ke wilayah kekuasaannya harus membayar upeti terlebih dahulu, baru orang tersebut bisa lewat. Jika tidak, orang tersebut akan dibunuhnya.

...Yang nyata martabat Awang Seragen adalah sangat jahat ...selalu Awang Seragen menghadang mereka. Lebih-lebih bila para mantik ini tidak menuruti kehendak Awang Seragen untuk membayar upeti padanya, maka mereka tentu akan dikoyak-koyak oleh Awang Seragen. Oleh sebab itu, rantau tersebut hingga sekarang diberi nama Setambun Tulang, sebagai akibat tambunan tulang manusia yang dibunuh oleh Awang Seragen. ...Begitulah halnya dengan si MELENGKAR. Rombongannya ditahan dan harus membayar upeti pada Awang Seragen. Awang Seragen meminta agar si MELENGKAR naik ke rumahnya. ...

Mendengar itu Awang Seragen meminta agar si MELENGKAR membayar upeti kepadanya, karena tak ada artinya membayar upeti pada Meruhum. Namun si MELENGKAR tidak mau menuruti kehendak Awang Seragen (Anwar Soetoen 1974: 75).

 Rintangan lain muncul, yaitu saat si Melengkar bertanya kepada “para sepangan” (bawahan raja)  mengenai  situasi kerajaan, mulanya mereka  marah, tetapi ketika si melengkar menjelaskan, bahwa dia dapat menolong kerajaan dari malapetaka. Barulah para bawahan raja itu menyuruh si melengkar menghadap raja.

...Melihat orang banyak itu, maka mendekatlah si MELENGKAR lalu bertanya pada orang yang sedang berunding itu. Tetapi para sepangan Meruhum marah atas pertanyaan si MELENGKAR itu. “Jangan marah, mungkin saya dapat menolong”, kata si MELENKAR. Mendengar maksud baik si MELENGKAR, maka di antara yang berunding itu menyuruh si MELENGKAR duduk di antara mereka dan diceritakan         lah malapetaka yang akan menimpa tanah Kutai akibat tantangan raja Melayu (Anwar Soetoen 1974: 76)..

Rintangan yang utama datang dari Raja Melayu yang ingin melebarkan wilayah jajahannya. Raja Melayu ini menganggap sepele si Melengkar karena  tubuhnya kurus.

Jika dilihat secara fisik, si Melengkar  bertubuh kurus, seperti kurang meyakinkan untuk melawan musuh yang begitu kuat. Bahkan tubuhnya itu menjadi bahan ejekan musuhnya, tetapi kenyataannya, musuh itu dapat dikalahkannya.

Melihat si MELENGKAR bertubuh kecil, tidak sepadan dengan dirinya, tertawalah raja Melayu itu. ia menganggap enteng pada si MELENGKAR, namun karena tanah Kutai hanya menghadapkan si MELENGKAR sebagai ayam jantannya, maka raja Melayu menerimalah dengan segala kengkuhan (1974:77).

Dari kutipan itu terlihat, bahwa walaupun secara lahiriah si Melengkar bertubuh kecil kebalikan dari musuhnya Raja Melayu sehingga dengan ciri-ciri fisik seperti itu dia menjadi bahan tertawaan dan dianggap enteng oleh Raja Melayu.

Di sisi lain, dengan cara yang unik, Raja Melayu berkokok seperti ayam jantan. Jika kokoknya bersambut, maka Raja Melayu merasa senang karena dia mendapat musuh yang akan melawannya. Selanjutnya, Raja Melayu akan memberi jangka waktu 15 hari pada suatu wilayah yang di datanginya, jika kokoknya tidak ada yang menyambut, maka kerajaan yang didatanginya dianggap takluk dan menjadi wilayah jajahannya.

Tersebutlah kisah raja Melayu yang sakti dan perkasa, bersama sebuah wanghang (armada berlayar) yang lengkap dengan hulubalang dan anak buahnya, mengarungi samudra, mencari kokok ayam jantan (musuh) untuk lawan berlaga dengan maksud menguji keagungan raja. Sampai kedelapan penjuru dunia diarungi, namun ayam jantan yang dimaksud tiada bersua. Akhirnya terbetiklah berita bahwa di tanah Kutai ada ayam jantan yang dicari.

Maka kesanalah diarahkan wanghang membelah samudra, menyusuri sungai Mahakam yang kemudian berlabuh di ujung pulau, de seberang kota Tangga Arung sekarang. Setelah wanghang bertambat, naiklah raja Melayu dengan segala pengawalnya mencari ayam jantan, menanyakan kesana kemari pada rakyat Tenggarong, apakah mereka mengetahui di mana bertakhta ayam jantan Kutai. Dengan segala kegelisahannya rakyat menjawab acuh tak acuh. karena tak bersua apa yang dicari, kembalilah raja dengan segala pengawalnya ke wanghang setelah meninggal pesan, bahwa dalam batas waktu 15 hari apabila tidak ada juga ayam jabatan tanah Kutai, maka tanah Kutai berarti takluk pada raja Melayu. Maka bertambah gelisahlah rakyat mendengar keputusan raja Melayu itu (Anwar Soetoen 1974: 73, 74)

Kenapa raja Melayu menggunakan isyarat dengan cara meniru suara kokok ayam jantan? Ayam jantan tampak memiliki peran yang sangat penting. Pada zaman dahulu kala ayam jantan dijadikan sebagai alat untuk mengadu kekuatan, misalnya dengan cara menyabungnya di arena sabung. Dari arena sabung itulah akan terlihat ayam siapa yang kuat dan yang tidak.

Peran pentingnya sosok ayam juga telah terekam dalam cerita rakyat kita, misalnya dalam cerita “Tangkuban Perahu” (Jawa Barat), untuk menandai waktu fajar telah tiba, Dayang Sumbi melepaskan ayam supaya berkokok, begitu pula dalam cerita “Roro Jonggrang” (Yogyakarta).  Sementara dalam Cinduo Mato (Minangkabau) sosok ayam diberi peran sebagai pengawal si Cinduo Mato dalam menghadapi musuhnya, Rajo Angek Garang.

Menurut  Iwan Basuki  saking istimewanya peran ayam jantan ada ayam jantan yang kepalanya diberi mahkota dan jantan sendiri adalah pemberian nama yang tinggi dan sebanding dengan sifatnya yang jantan. Pada ayam mempunyai sifat yang baik. Rajin mencari rejeki. Berbagi, seperti jantan terhadap betinanya dan induk terhadap anak-anaknya. Tidak rakus, tidak menyimpan makanan kecuali dalam perutnya. Tidak risau dengan rejekinya, tidak mengenal krisis ekonomi dan tidak mengenal kaya dan miskin, yang menjadi status adalah integrasi sosial dan kejantanannya sebagai simbol status (http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/29/kokok-ayam-jantan-480974.html...)



5. Unsur-Unsur Lain sebagai Penolong dalam Perjuangan

Dalam perjuangan si Melengkar melawan musuhnya, ada benda penolong, seperti cincin ajaib atau cincin mu’zijat. Bila cincin itu dikenakan di jari seseorang, maka orang yang mengenakannya akan memperoleh kemenangan. Begitu pula si Melengkar saat mengenakan cincin itu, dia selalu memperoleh kemenangan. Misalnya, saat si Melengkar menghadapi musuh di Gunung Pemangkas, Menghadapi Awang Seragen, dan menghadapi Raja Melayu. Cincin ajaib itu selalu dikenakannya.

... Sesaat sebelum si MELENGKAR pergi, maka oleh isterinya, di jari manis si MELENGKAR dipasangkannya sebentuk cincin. Dengan perasaan gembira pergilah si MELENGKAR ke gelanggang peraduan manusia itu. ...

Maka terjadilah keajaiban, karena si MELENGKAR pun keheranan atas kemenangannya. Namun segera terpikir oleh si MELENGKAR akan cincin yang dibekali isterinya. “Mungkin mu’zijat cincin ini”, fikirnya. ...

Namun karena mu’zijat cincin itu, si MELENGKAR menang lagi dalam peraduan manusia (Anwar Soetoen 1974: 71, 72).

Kutipan tersebut menunjukkan keajaiban cincin milik istrinya si Melengkar. Jika cincin itu dikenakan di jari seseorang maka kemenangan akan diperoleh oleh orang yang mengenakannya. Hal itu terjadi pada si Melengkar saat melawan 40 orang musuh di gelanggang peraduan manusia di Gunung Pemangkas, si Melengkar memperoleh kemenangan dan akhirnya dia dinikahkan pula dengan putri raja Gunung Pemangkas.

Saat cincin itu tidak ada di jarinya, si Melengkar pun risau, ia takut jika diadu lagi di gelanggang oleh Raja Gunung Pemangkas akan mengalami kekalahan. Si Melengkar akhirnya memilih jalan melarikan diri.

Ketika waktu pagi si MELENGKAR  bangun, dilihatnya cincin dijarinya sudah tak ada lagi. Maka risaulah fikiran si MELENGKAR, karena hilangnya cincin tersebut. Terfikir olehnya, bagaimanakah keadaannya sore nanti kalau raja mengadunya kembali di gelanggang. Maka satu-satunya jalan baginya ialah melarikan diri sebelum musnah binasa (Anwar Soetoen 1974: 72).

Peran penting cincin selanjutnya, yakni pada saat si Melengkar akan pergi ke  tanah Kutai. Ia dibekali oleh istrinya  cincin ajaib dan anak buah istrinya yang “aneh” (manusia tetapi berekor).

Keesokan harinya bersiaplah si MELENGKAR akan menghanyut air menuju tenggarong. Keberangkatan si MELENGKAR dibekali isterinya dengan segala kesaktian dan cincin mu’zijat di jari manis untuk menghadapi raja Melayu serta 24 orang pengawal yang kesemuanya berekor kira-kira panjang setebah (Anwar Soetoen 1974: 74).

Unsur lain yang menolong keberhasilan si Melengkar, yakni kesaktian istrinya. Istri si Melengkar memiliku kemampuan berbuat sesuatu yang bersifat gaib, misalnya dia mampu berjalan secepat kilat dari Gunung Meratus ke Gunung Pemangkas tanpa diketahui oleh orang lain. Dia juga bisa mengetahui situasi Kerajaan Kutai yang tengah berada dalam ancaman musuh. Ada orang-orang tertentu yang bisa mengerti situasi yang akan terjadi sebelum kejadiaan itu sendiri muncul, hal itu berkat kesaktiannya. Perempuan Gunung Meratus itu juga memiliki banyak anak buah yang aneh dan tidak masuk akal, yakni manusia tetapi memiliki ekor setebah (seperti telah disebutkan terdahulu).

...Menjelang subuh, dengan segala kesaktiaannya, pergilah ia ke kamar peraduan si MELENGKAR. Di situ dilihatnya si MELENGKAR tertidur lena di samping anak raja, isteri kemenangannya. Tanpa terasa dan diketahui oleh si MELENGKAR, diambilnya cincin mu’zijat itu. ...Karena kaji dan kesaktian isterinya, maka si MELENGKAR dan isterinya mengetahui apa yang terjadi di Tenggarong. Suatu bencana akan menimpa tanah Kutai (Anwar Soetoen 1974: 72, 74).


6. Jejak Kepahlawanan

Jika menelusuri jejak si Melengkar, sebelum si melengkar mencapai derajat  “kepahlawanannya”, sebenarnya pengarang sudah memberikan tanda-tanda magis. Misalnya, saat dia baru tiba di Gunung Meratus, alam menyambutnya dengan cara hujan lebat, petir sambar menyambar menakutkan, kemudian si Melengkar didatangi dua ekor binatang melata dan berbisa yang besar dan menakutkan, tiba- tiba kedua binatang itu menjilat tubuh si Melengkar, kemudian menghilang begitu saja. Hal itu membuat si Melengkar bertanya-tanya, apa  yang akan terjadi dengan dirinya.

Selang beberapa saat, sementara hujan masih turun dengan lebatnya, tiba-tiba datanglah seekor ular kira-kira sebesar pohon pinang, menuju arah si MELENGKAR. SI MELENGKAR ketakutan, hendak lari sudah tak mungkin lagi, maka ia mendiamkan diri, merasakan apa yang akan terjadi sementara sang ular sudah berada di depan matanya.

Tiba-tiba ular tersebut merayap ke bahu kiri, ke bahu kanan dan terus ke kepala si MELENGKAR, kemudian menghilang. Belum habis rasa takut si MELENGKAR karena ulah sang ular, tiba-tiba datang lagi seekor lipan binatang berbisa sebesar pergelangan tangan menuju arahnya, yang kemudian berbuat seperti perbuatan ular tadi, yaitu naik ke bahu kiri, ke bahu kanan dan terus ke kepala dan kemudian menghilang pula. Atas semua kejadian itu alam pikiran si Melengkar bertanya: “Alamat apakah gerangan yang akan terjadi?” Sementara itu hujan berangsur reda dan akhirnya tinggal rintik-rintik saja (Anwar Soetoen 1974: 67, 68).

Menurut kepercayaan orang Dayak binatang ular dan lipan tampaknya mempunyai makna yang baik sebab setelah si Melengkar dilewati oleh kedua binatang itu dan dia mempertanyakannya, kemudian  dia bertemu dengan gadis Meratus yang cantik, kaya, dan sakti. Akhirnya, gadis itu pun menjadi istrinya. Berkaitan dengan hal itu, Tjilik Riwut menyebutkan, bahwa ular mempunyai arti khusus bagi suku Dayak di antaranya ular depung, ular tanunung, ular hanjaliwan, ular sawah, dan ular lepu. Namun, sayangnya dalam cerita “Si Melengkar” tidak disebutkan nama ularnya. Yang jelas fisik ular itu sangar besar sebesar pohon pinang.

Selang beberapa saat, sementara hujan masih turun dengan lebatnya, tiba-tiba datanglah seekor ular sebesar pohon pinang, menuju arah si MELENGKAR. Si MELENGKAR ketakutan, hendak lari sudah tak mungkin lagi, maka ia mendiamkan diri, merasakan apa yang akan terjadi sementara sang ular sudah berada di depan matanya (Anwar Soetoen 1974: 67).


 7. Penutup

Dari pembahasan yang telah dilakukan atas cerita epos si Melengkar, terlihat bahwa berkat adanya ketulusan dan pengabdian pada tanah kelahirannya, akhirnya si Melengkar berhasil mencapai tahap kegemilangan (mewujudkan cita-cita). Raja Melayu akhirnya dapat dikalahlan dan Kutai terbebas ancaman.

Di sisi lain, pengarang cerita yang umumnya anonim tidak menampilkan adanya apresiasi dari pihak kerajaan atas jasa si Melengkar dalam rangka mempertahankan kerajaan dari serangan musuh. Padahal kerajaan sudah selamat dari segala marabahaya dan raja juga mendapat  wanghang (armada) dan segala isinya, yang tentunya itu berkaitan dengan harta kekayaan. Bahkan, untuk mempertahankan kerajaan, sebelum bertarung dengan musuh si Melengkar harus meminta izin dahulu kepada raja, tampaknya apa  yang dilakukan si Melengkar terhadap kerajaan merupakan suatu kewajiban seorang rakyat. Di sisi lain,  pengabdian kepada kerajaan dan kesetiaan kepada raja  merupakan suatu kebanggaan bagi orang tua si Melengkar (hlm. hlm. 75).  Di akhir kisah  pun si Melengkar berpesan kepada raja, bahwa dia akan datang dengan sendirinya jika ada kerusuhan  menimpa  kerajaan. Hal itu dapat  ditarik kesimpulan, bahwa sebagai seorang rakyat sudah sewajarnya membela kerajaan. Tampaknya perbedaan derajat, antara raja dan rakyat, selalu saja rakyat yang harus mengabdi.

 
DAFTAR PUSTAKA

Garin Nugroho. “Indonesia, Obama, “James Bond”.  Kompas, Minggu, 11 November 2012.

Bandung Mawardi.  “Sastra dan Pahlawan”, Minggu, 18 Januari 2009.   http://www.surabayapost.co.id/.

Iwan Basuki. “Kokok Ayam Jantan” (http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/29/kokok-ayam-jantan-480974.html...)

Riwut, Tjilik.1993. Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan. Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya.

Soetoen, Anwar dkk. 1974. Legenda dan Cerita Rakyat Kutai. Kutai : Pemerintah daerah Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur.    

 

Artikel Terpopuler