Tradisi Kalondo Lopi di Bima

Daerah Bima terletak di Pulau Sumbawa bagian Timur. Luas daerah Bima diperkirakan 4.870 km2 atau sepertiga luas Pulau Sumbawa. Batas wilayah Bima adalah di sebelah Barat berbatasan dengan Daerah Dompu, di sebelah Timur berbatasan dengan Selat Sape, di sebelah Utara berbatasan dengan Laut Flores, dan di sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia. Hampir 70% wilayah Bima terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan. Keadaan tanah di daerah pesisir banyak yang menjorok ke dalam sehingga daerah Bima yang dikelilingi laut dengan banyak teluk, seperti Teluk Sanggar, Teluk Bima, dan Teluk Waworada. Keadaan pesisir yang demikian sangat menguntungkan pelayaran (Ismail, 1988:8—9). Kondisi geografis yang demikian menyebabkan masyarakat Bima memiliki mata pencaharian sebagai petani dan juga sebagai nelayan.

Berbicara mengenai Bima tidak dapat dilepaskan untuk membicarakan persoalan apakah Bima dapat dikatakan sebagai sebuah kerajaan maritim atau tidak. Sebagaimana diketahui bahwa wilayah geografis Bima dikelilingi oleh teluk-teluk yakni Teluk Bima, Teluk Sanggar, dan Teluk Waworada. Kondisi pesisirnya banyak yang menjorok ke dalam sehingga Bima menjadi tempat yang paling aman untuk berlabuh dan menjadi tempat yang paling menguntungkan untuk membangun sebuah bandar. Secara khusus Bima kemudian menjadi sebuah bandar perdagangan, tempat singgah pedagang-pedagang yang berasal dari Malaka dan Jawa. Tome Pires melaporkan bahwa rute pelayaran perdagangan dari Malaka ke Maluku atau sebaliknya melewati Jawa dan Bima; di Bima para pedagang menjual barang-barang dagangan yang dibawa dan dibeli dari Jawa, kemudian membeli pakaian (kain kasar) dengan harga murah untuk dijual (ditukar) dengan rempah-rempah di Banda dan Maluku (Haris, 1997:34). Lokasi Bima pada rute lintas perdagangan antara Malaka dan Maluku mendudukkan posisi Bima sebagai salah satu pusat perdagangan pada rute tersebut (Haris, 1997:35).

Kedudukan Bima sebagai sebuah bandar perdagangan di wilayah Timur didukung juga oleh besarnya hasil bumi karena penduduk di wilayah tersebut bermata pencaharian utama sebagai petani. Namun, di saat mereka menunggu hasil panen, petani-petani itu mencari ikan di laut. Mereka beralih pekerjaan sementara menjadi nelayan. Hal ini dapat mereka lakukan karena struktur tanah di Bima yang subur dengan produksi air yang melimpah. Hal ini masih terlihat sampai saat ini. Saat penulis merekam tradisi lisan Syair Olo di Desa Karampi, Langgudu. Wilayah Desa Karampi dapat dikatakan tepat benar berada di pinggir pantai, di pesisir. Namun, penduduk di desa tersebut memiliki mata pencaharian utama sebagai petani, bukan sebagai nelayan. Hal ini dapat terjadi karena tanah di desa tersebut, yang terletak di pinggir pantai, merupakan tanah yang subur dan memiliki cukup banyak air bersih sehingga padi dapat tumbuh dengan baik. Warga Desa Karampi akan pergi ke laut ketika mereka menunggu hasil panen.

Selain orang-orang Bima, di Wilayah Bima masih ada orang-orang pendatang seperti orang-orang Bugis, Makassar, Melayu, Jawa, Sasak, dan Manggar. Mereka pada umumnya bermukim di daerah pantai, antara lain Pelabuhan Bima dan Sape (Haris, 1997:16). Di samping beberapa kelompok penduduk di atas, masih ada penduduk asli yaitu orang-orang Donggo (Dou Donggo) dan orang-orang Kolo (Dou Kolo). Orang Donggo mendiami daerah pegunungan Pajo di sebelah barat Teluk Bima, sedangkan orang Kolo menempati wilayah pegunungan di sebelah Timur Teluk Bima (Haris, 1997:17).  Di kawasan Nusa Tenggara terdapat pelabuhan-pelabuhan alam yang baik untuk lepas sauh, air bersih berlimpah-limpah, dan suplai makanan cukup bagi pedagang-pedagang Melayu dan Jawa yang beristirahat dalam perjalanan mereka ke Maluku (Haris, 1997:49).

Bima sebagai kerajaan atau sebagai salah satu bandar dalam lintas pelayaran-perdagangan dari Malaka ke Maluku atau sebaliknya menjadi penting artinya baik sebagai  tempat singgah (istirahat) maupun sebagai  tempat aktivitas perdagangan. Sebagai bandar, Bima terletak pada sebuah teluk (Teluk Bima) yang terlindung oleh perbukitan di sekitarnya. Oleh karena itu, kapal-kapal yang singgah atau lepas sauh aman dari hempasan gelombang, baik pada waktu angin muson bertiup ke Barat (Barat Laut) maupun dari timur (tenggara).  Namun selain posisi geografis dan fisiografisnya, Bima berkembang sebagai  kota bandar atau pusat kerajaan didukung pula oleh sumber daya yang dimilikinya. Di sini tersedia cukup banyak air bersih, bahan makanan, daging, dan ikan yang akan menjadi bekal dalam pelayaran (Haris, 1997:49).

Dampak perdagangan ini sangat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan negara (kerajaan) atau kota-kota di daerah pantai. Dalam perdagangan penguasa akan memperoleh pendapatan dari pajak (pajak pelabuhan dan pajak perdagangan) yang dapat digunakan untuk membangun kerajaan (Haris, 1997:51).
Selain perdagangan, masyarakat Bima sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya juga menjadi nelayan dan juga adanya pendatang dari berbagai wilayah sejak masa lampau menjadikan orang Bima secara khusus masyarakat Sangiang memiliki ketrampilan membuat kapal secara tradisional.

Teknologi pembuatan kapal menurut Ayang Saifullah, salah seorang keturunan Dallu Abu Wadi, berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis antara tanggal 22—26 Mei 2016, sudah dimiliki oleh masyarakat Sangiang Darat sejak masa lampau. Para tukang yang bekerja membuat kapal sampai hari ini tidak memanfaatkan teknologi modern dalam pekerjaan mereka. Para pembuat kapal ini mengandalkan pengetahuan dan teknologi pembuatan kapal dari masa lampau. Pemimpin atau manajer pembuatan kapal oleh masyarakat Sangiang disebut sebagai panggita atau ahli membuat kapal. Dia sangat ahli dalam menentukan lunas perahu, bentuk, ukuran, dan keseimbangan perahu.

Adanya teknik pembuatan kapal dan masih banyaknya pembuatan kapal di wilayah Sangiang Darat ini tampaknya merupakan sebuah bukti bahwa masyarakat di wilayah tersebut, khususnya suku Sangiang, merupakan masyarakat yang pada masa lampau mengandalkan kehidupannya pada laut. Kemampuan membuat kapal yang dimiliki oleh masyarakat Sangiang ini membuktikan bahwa pada masa lampau telah terjadi interaksi antara masyarakat Sangiang dengan masyarakat di wilayah yang berbeda dengan menggunakan atau memanfaatkan laut. Pada masyarakat yang demikian memang diperlukan kemampuan berlayar, baik kemahiran membuat perahu atau kapal sebagai alat angkutan, maupun pengetahuan navigasi untuk mencapai tujuannya (Lapian, 2009:57). Berdasarkan hasil wawancara dengan Ayang Saifullah disebutkan bahwa kapal yang dibuat di masyarakat Sangiang Darat saat ini rata-rata diperuntukkan sebagai kapal kargo dengan biaya pembuatan sekitar lima puluh miliar untuk sebuah kapal.

Diakui memang pembuatan kapal di Sangiang Darat ini tidaklah seterkenal pembuatan kapal Phinisi yang dilakukan oleh orang-orang Bugis, tetapi pembuatan kapal yang dilakukan sampai saat ini masih berlangsung dan menjadi salah satu andalan mata pencaharian penduduk setempat. Sebuah kapal menurut Ayang Saifullah dapat diselesaikan dalam waktu antara enam sampai delapan bulan. Yang menarik dari pembuatan kapal ini adalah filosofi yang melatarinya yang terkait dengan tradisi Kalondo Lopi. Kalondo Lopi merupakan sebuah tradisi penurunan kapal ke laut. Tradisi ini sudah dilakukan saat sebuah kapal mulai dikerjakan sampai sebuah kapal selesai dibangun. Proses pembuatan perahu dimulai dengan doa pada malam hari sebelum dimulainya pembuatan kapal.  Pada keesokan harinya ketika kapal mulai dibuat guru doa melafaskan zikir “ La ilaha Illalah, Muhammadurrasulullah “.

Bagi warga Sangiang, perahu atau kapal dengan laut merupakan sebuah kesatuan. Laut tidak akan berarti tanpa kapal, kapal pun tidak akan berarti tanpa laut. Filosofi inilah yang mendasari tradisi Kalondo Lopi. Antara laut dan kapal harus merupakan satu kesatuan, bahkan ketika kapal hampir selesai awak kapal harus ikut membantu menyelesaikan pembuatan kapal dengan tujuan awak kapal itu dapat menyatu dengan kapalnya. Prinsip kesatuan menjadi utama dalam hal ini.

Oleh karena filosofi ini, tradisi Kalondo Lopi dikenal dengan prosesi mengawinkan kapal dengan laut. Tradisi ini juga merupakan cara warga Sangiang untuk berdoa menggantungkan harapab kepada Tuhan atas keselamatan dan ketentraman saat melaut.

Sebenarnya proses pembuatan kapal oleh warga Sangiang diawali dengan ritual awal pembuatan kapal. Ritual ini dinamakan sambung kayu. Ritual dilaksanakan harus hari Senin. Ritual ini dilakukan dengan doa selamatan yang dipimpin para tetua dan tokoh agama setempat. Selamatan menggunakan sesaji berupa nasi lemang, tembakau, sirih pinang, pisang, dan sepuluh ekor ayam. Saat selamatan mengundang warga sekitar untuk memakan makanan yang dimasak oleh para wanita di rumah pemilik perahu. Selamatan dirangkai dengan untaian doa selamat dan kalimat sahadad. Doa selamatan biasanya dilakukan pada malam hari sebelum keesokan paginya dimulai proses pembuatan perahu. Saat mengucapkan doa sang tetua atau tokoh agama harus sendiri tidak bileh ditemani. Dia melafazkan doa dengan memandang laut saat air pasang. Lafaz doa yang diucapkan oleh tetua adat dalam bahasa Bima sebagai berikut.
   Kanikaku ba nahu nggomi Samula labo Samola
   Kancia Kacia
   Artinya:
   Kunikahkan engkau perahu dengan laut
   Menjadi kuat dan eratlah kalian

Setelah ritual sambung kayu proses pembuatan kapal dimulai. Proses ini biasanya memakan waktu enam sampai delapan bulan. Selama proses pembuatan kapal, kayu diusahakan tidak boleh masuk air.   Proses pembuatan kapal dipercayai oleh masyarakat Sangiang seperti membuat anak. Proses pembuatan kapal laksana penggabungan darah merah, darah pulih, dan darah hitam. Oleh karena itu, dalam pembuatan kapal ada proses yang disebut kancau. Proses ini merupakan proses penyambungan lunas kapal.

Di tengah pembuatan perahu, sang panggita mencari pusat perahu. Pencarian pusat ini menggunakan ritual dengan membaca sahadat dan doa selamat. Selama prosesi ini disiapkan sesaji berupa periuk tanah, air, dan kain kafan.

Setelah enam sampai delapan bulan, kapal biasanya selesai dibuat. Sekitar tiga hari atau lebih sebelum tradisi penurunan kapal dilakukan, kapal diberi nama oleh pemiliknya. Setelah prosesi pembuatan kapal siap, dilakukanlah tradisi penurunan kapal. Tradisi ini biasanya dilakukan diwaktu bulan purnama saat air pasang agar perahu mudah masuk ke laut.

Proses penurunan kapal inilah yang disebut dengan tradisi Kalondo Lopi. Proses penurunan kapal dimulai dengan menyiapkan nasi lemang putih dan merah, sirih pinang, tembakau, pisang, kain kafan, janur kuning, dan sepuluh ekor ayam. Perlengkapan upacara itu disebut soji atau sesajian.

Sebelum upacara Kalondo Lopi dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan prosesi upacara Soji ro Sangga yang dipimpin oleh panggita. Dalam upacara Soji Ro Sangga ini ditandai dengan penyembelihan Ayam. Daging ayam yang disembelih menjadi lauk bagi warga yang akan menarik kapal dipagi nanti. Kepala dan ekornya dipisahkan untuk dipasang di anjo (anjungan) dan di Keto Lopi (belakang kapal) dekat baling-baling. Di atas kemudi perahu bagian depan dan bagian belakang perahu digantunglah janur kuning yang diikat dengan kepala dan sayap ayam yang disembelih. Kepala dan sayap ayam jantan di bagian muka perahu, sedangkan kepala dan sayap ayam betina di bagian belakang perahu. Menurut salah seorang Warga, Ayang Saifullah, maksud yang tersirat dari pemasangan itu adalah agar putera Nabi Nuh AS yang bernama Kan’an tidak ikut naik ke Perahu. Apabila Kan’an ikut ke dalam perahu, akan mendatangkan bala dan bahaya bagi perahu. Pemasangan itu diiringi lantunan doa “Bismillahi Majreha Wamursaha, Inna Rabbi La Gafurur Rahim” (Dengan nama Allah menjalankan perahu ini berlayar dan berlabuh, sesungguhnya Tuhanku maha pemaaf lagi pengasih).

Setelah semuanya siap upacara penurunan kapal pun dimulai. Kapal didorong ke tengah laut dipimpin oleh Panggita. Sebelum mendorong kapal ke laut, para warga berkumpul untuk makan bersama. Makan bersama dilaksanakan oleh pemilik kapal. Banyak warga yang berkumpul untuk menyaksikan tradisi ini. Oleh karena itu, tradisi ini juga dijadikan sebagai pesta rakyat.

Perahu yang sudah siap diturunkan dengan bantuan katrol. Ketika perahu siap untuk diturunkan dengan katrol, di bawah kapal dipenuhi ratusan manusia yang mengawalnya.

Selama kapal diturunkan, Sang Panggita yang berada di atas kapal memberikan semangat dengan untaian mantra dalam bahasa Bima yang bercampur bahasa Bugis sebagai berikut.
   Hela hela mbate
   Ao….la hela wela
   Ao kabengke mena
   Ao ka hela hinti
   Hinti sama kabengke mena

Artinya
   Hela hela mbate (pembuka mantra)
   mari semua
   ayo  pegang erat-erat
   ayo tarik semua
   Tarik sama-sama dengan kuat

 

Mantra yang diucapkan panggita di atas kapal disambut oleh ratusan manusia di bawah kapal yang menuntun perahu ke laut dengan yel-yel  Le le le le le. Penuntunan kapal dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki menuntun berada di depan kapal untuk menarik katrol. Warga perempuan ikut mendorong dari belakang kapal dengan menggunakan batang bambu.

Ketika perahu sudah turun ke laut, sang tetua melantunkan doa dan harapan kepada Sang Perahu sebagai berikut. 
   Nggomi aina lao ntoi
   Nggomo mbali ricu
   Di Dana ro rasa

Artinya
   Engkau jangan pergi lama-lama
   Kembalilah cepat
   Ke kampung halaman


Doa yang dilantunkan tersebut merupakan sebuah harapan agar kapal yang diluncurkan dapat selamat ketika berada di lautan dan bermanfaat bagi masyarakatnya. Hal itulah yang disebut sebagai acara “mengawinkan kapal dengan laut”. Kapal tersebut diharapkan dapat diterima dengan baik oleh lautan. Juga makna yang lain adalah doa bagi awak kapalnya agar mereka dapat kembali lagi ke daratan dalam kondisi selamat.

Acara peluncuran kapal ke laut yang diselenggarakan oleh masyarakat Sangiang ini dapat dikatakan sebagai sebuah tradisi yang unik. Tradisi ini ada sejak masa lampau dan sampai saat inipun masih terus ada. Masyarakat Sangiang memang memperoleh pengetahuan teknologi kapal dari tempat lain, tetapi kemudian pengetahuan tersebut berkembang sesuai dengan adat istiadat masyarakat setempat. Upacara ini juga menjadi unik ketika berpadu dengan agama Islam yang merupakan agama mayoritas penduduk Sangiang. Oleh sebab itu, di samping adanya mantera-mantera, juga dilakukan doa dan sholat sesuai dengan apa yang ada dalam ajaran agama Islam.

 

DAFTAR PUSTAKA

Haris, Tawalinuddin dkk. 1997. Kerajaan Tradisional di Indonesia:Bima. Jakarta:Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ismail, Hilir M. 1988. “Peranan Kesultanan Bima dalam Perjalanan Sejarah Nusantara”. Naskah Buku, Bima.

Lapian, Adrian B. 2009. Orang Laut Bajak Laut Raja Laut. Jakarta:Komunitas Bambu.

Pemerintah Kota Bima. 2005. Terwujudnya Kota Bima sebagai Kota Transit yang Maju, Religius, dan Berperadaban. Bima: Pemerintah Kota

Susanty, Sri. 2007. “Pengembangan Kota Bima sebagai Daerah Tujuan Wisata” dalam Jurnal Kepariwisataan Indonesia Vol.5, No.2, Juni 2010
 

Artikel Terpopuler