MEMBACA DAN MEMAKNAI SAJAK-SAJAK DHENOK KRISTIANTI DALAM INI KUNCI, KATA NAMANYA DAN SETELAH INGAR-BINGAR

Siapa Dhenok Kristianti?

Perkenalan saya pertama kali dengan Mbak Dhenok Kristianti terjadi pada tahun 2013 di Rumah Puisi Taufiq Ismail Aie Angek, Padang Panjang, Sumatra Barat. Mbak Dhenok menjadi salah seorang penyair tamu yang ikut menghadiri acara Persatuan Sastrawan-Budayawan Negara Serumpun (PSBNS) yang meliputi negara Indonesia, Malaysia, Brunei Darussallam, Singapur, dan Thailand dan saya ikut membidani kelahiran perkumpulan PSBNS tersebut pada waktu itu. Dhenok Kristianti lahir di Yogyakarta 25 Januari 1961. Pada saat ini beliau menjadi pengajar di Sekolah Pelita Harapan, Lippo Village, Tangerang. Sebagai pengarang, Mbak Dhenok mulai aktif menulis puisi dan cerpen sejak duduk di bangku SMA. Baginya, menulis itu adalah jalan untuk mencapai keseimbangan jiwa. Jalan untuk mencapai keseimbangan jiwa itu kemudian tereprentasi dalam karya-karya Dhenok yang menyiratkan proses kontemplatif dan sangat jauh dari ketergesaan irama zaman (milleu) sekarang yang serba instan dan bergegas ini. Jadi, dapat disebutkan bahwa Dhenok agak anomali karena ia seolah-olah bertentangan dengan zaman (milleu) yang melahirkannya. Untuk mengenal lebih jauh karya-karya Dhenok akan kita bicarakan selanjutnya. Sebagai tahap awal marilah kita kita llihat terlebih dahulu beberapa karya yang telah dihasilkannya:

-          Antologi puisi dalam Penyair Yogya 3 Generasi (1981), Menjaring Kaki Langit (1983), Tugu (1986), Tonggak 4 (1987), Akulah Musi (2011), Beranda Rumah Cinta (2011), Hati Perempuan (2011), Suluk Mataram (2012), Antologi Kartini 2012 (2012), Sauk Seloko (2012), Perempuan Langit 1 (2014), dll.

-          Bersama Nana Ernawati menerbitkan kumpulan puisi berjudul 2 di Batas Cakrawala (2011) dan Berkata Kaca (2012).

-          Buku puisi tunggalnya berjudul Ini Kunci, Kata Namanya (2013) dan Setelah Ingar-Bingar (2015)

-       Dalam penulisan cerpen, ia pernah mendapatkan dari majalah Hai  (1978) dan Majalah Zaman (1979); penghargaan juara I lomba penulisan cerpen yang diadakan oleh Kopertis Wilayah V meraih dan juara I penulisan cerpen yang diadakan oleh Majalah Kartini tahun 1987. Pada tahun 2003 terpilih sebagai salah satu pemenang dalam Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) yang diselenggarakan oleh Depdiknas. Salah satu cerpennya berjudul ‘Sejengkal Tanah Sebilah Keris’ dimuat dalam kumpulan cerpen Cerita Etnis 5 Negara Serumpun. Beberapa cerpen lainnya dipublikasikan di Sinar Harapan, Bali Post, Majalah Kartini, Hai, Minggu Pagi, dan Tabloid Nova.

-          Dhenok Kristianti juga ikut menyemarakkan buku #Fiksi Mini 140 (2012) dan Puan-Puan (2014).

-          Selain menulis ia juga aktif di Lembaga Seni Sastra ‘Reboeng’ (dulu ELF) sebagai pelaksana harian dan kadang-kadang bertindak sebagai editor. Seni Sastra Reboeng memiliki program sastra seperti Lomba cipta puisi, pelatihan (workshop) sastra di sekolah-sekolah, bagi-bagi buku (bagian dari Gerakan Literasi Nasional) yang sedang giat dilakukan oleh Kementrian Pendidikan Nasional seperti Badan Bahasa, penerbitan buku dan lain-lain.

-          Di sela-sela kesibukannya sebagai guru, beberapa kali ia juga telah mementaskan monolog di beberapa kota seperti,  Denpasar, Yogyakarta, dan Tangerang.

 

Di Mana Posisi Penyair Dhenok Kristianti?

Harry Aveling membandingkan dengan cara yang menarik bagaimana penyair-penyair Indonesia modern, di bawah pengaruh Chairil Anwar, pada umumnya tidak begitu memberi perhatian kepada konteks sosiologis tempat hidup mereka karena terpukau pada ide universalitas yang terlihat dalam keterpesonaan terhadap gagasan kebebasan, pembaruan, pembebasan dari tradisi, pencarian individualitas dan kepribadian yang menjadi prasyarat lahirnya orisinalitas. Sebaliknya, penyair-penyair dari generasi setelah Chairil Anwar lebih terikat pada konteks lokal kehidupan mereka, sehingga pemahaman tentang sajak-sajak mereka ini mengandaikan sedikit-banykanya pengetahuan tentang kehidupan pribadi dan asal-usl mereka. Sajak-sajak Ramadhan K.H. dalam Priangan Si Jelita atau novel Ajip Rosidi Perjalanan Penganten akan susah dinikmati tanpa pengetahuan mengenai keadaan alam daerah Sunda atau sistem kekerabatan dalam kebudayaan Sunda, (Kleden, 2004:5). Demikian pandangan kritikus sastra Ignas Kleden terhadap karya sastra para penyair Indonesia yang nota bene adalah laki-laki baik pada masa Chairil Anwar maupun pada masa setelah Chairil Anwar. Bagaimana dengan penyair setelah kedua periode yang disebutkan Kleden di atas? Penyair yang tidak termasuk dalam kateogori sezaman atau seusdah Chairil Anwar lahir.  Penyair yang telah selesai dengan tradisi dan tidak lagi menjadi menjadi persoalan utama dalam karya mereka,. Atau penyair yang kemudian dilabeli dengan sebutan sastra wangi karena jenis kelaminnya perempuan. Dhenok Kristianti masuk dalam kategori yang mana jika merujuk kepada karya-karyanya?

 

Sajak Sebagai Pengalaman Psikologis dan Representasi Identitas Diri

Ternyata Dhenok Kristianti tidak termasuk dalam kategori-kategori yang disebutkan oleh Kleden di atas maupuan dalam kelompok penyair perempuan sastra wangi yang pernah populer di awal tahun 2000-an. Sebagai penulis Dhenok termasuk penyair yang sudah lama berkarya yakni dimulai sejak tahun 1978 jika merujuk kepada biodata kepenyairannyannya di atas. Namun, ketika membaca sajak-sajaknya ia dapat dianggap sebagai penyair yang anomali dan tidak mencerminkan  zamannya. Sajak-sajaknya yang mutakhir seperti dua buku sajaknya yang masing-masing berjudul Ini Kunci, Kata Namanya (2013) dan Setelah Ingar-Bingar (2015) penuh dengan ajakan untuk merenung, berfikir, dan mencari ke dalam diri walau sekali-sekali juga ada upaya dekonstruksi terhadap tatanan nilai lama. Sajak-sajaknyanya memiliki kematangan psikologis dan kecendrungan kontemplatif.  Sesuatu yang lahir dari ketenangan bersikap dan berfikir dan sangat bertolak belakang dengan ritme zaman yang melahirnya yakni zaman yang serba bergegas dan serba instan.

Sajak-sajak Dhenok dalam kedua judul di atas dapat disebutkan sebagai karya sastra yang memiliki fungsi psikologis karena mengabadikan pengalaman hidup langsung. Sebagaimana yang disebutkan oleh Šklovskij yang terpengaruh oleh Nietzsche yang menyebutkan bahwa nilai seorang seniman/penyair adalah karena ia memahami isi karyanya sebagai benda atau dirinya sendiri, sesuatu yang oleh non seniman disebut sebagai bentuk (Kunne-Ibsch, 1974:1). Sajak sebagai fungsi psikologis dan mengabadikan pengalaman hidup langsung dalam karya Dhenok juga disampaikan oleh F. Bambang Kusumo. Ia menyebutkan dalam kata pengantar buku puisi yang berjudul Ini Kunci, Kata Namanya (2013:xiv) bahwa sajak-sajak Dhenok adakalanya merupakan sajak yang menukik ke kedalaman identitas pribadi.  Salah satu sajak Dhenok yang menggambarkan identitas pribadi itu menurut Bambang adalah sajak yang berjudul “Pancen Aku Aku Wanita Jawa”. Tetapi menurut saya persoalan identitas personal itu juga muncul dalam sajak Dhenok yang kemudian yakni sajak yang berjudul “Boneka” dan “Dongeng Dua Jana, Seorang Bhamini Dan Dua Buah Apel” (2015). Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan sajaknya yang berjudul “Boneka” berikut ini.

Boneka

Boneka itu menggeliat memanusia!

Rasa sakit di dada mengakhiri kebonekaannya

Sejak ia rela sebagai boneka, ia padamkan semua rasa

            :sakit-sehat, susah-senang, dingin-hangat,

            kecewa-puas, derita-bahagia, benci-cinta;

            tak boleh ada dalam dirinya yang boneka

 

Dini hari, Tiba-tiba perih menerjang dada,

Menjalar ke kepala hingga ujung kaki

Serenta tangannya bergerak ke pusat rasa

Sebutir batu menancap, ia tahu siapa yang menghunjamkannya

Batu itu sisa mainan si pemilik boneka di masa kanak

 

Dalam kesakitan ia takjub kembali memanusia

Bisa meraba, bebas bergerak, dan ia bicara semaunya

Ia  coba tertawa. Bisa! Ia coba menangis. Bisa!

Sesalnya, kenapa harus sakit mengakhiri

            Kebonekaannya?

Kenapa bukan kehangatan atau keindahan cinta?

 

Si Boneka yang tak lagi boneka tegap berdiri

Ia tumpahkan kesal dan marahnya pada ang pemilik

Pemilik yang telah membonekakannya,

tapi tega melepmparkan batu untuk menyakitinya

            :Sekarag aku bukan boneka,

            mainan yang cuma menunggu kau main-mainkan!

Si pemilik terduduk dengan paras memelas

Lunglai bagai pejuang kalah perang, ia bergumam

            :Mengapa kau robohkan Rumah Boneka?

             Pesta belum usai,

             Mari kembali menari Tarantella!

 

Boneka yang tak lagi boneka memilin bibir

Kemerdekaan alangkah mahal harganya

Berpuluh tahun ia rela merupa boneka

            tabu berkehendak,

            dimainkan hanya dikala senggang

            dan sering dibiarkan kedinginan di gudang

 

Diusapnya kepala sang pemilik, ujarnya parau

            :Sekian lama kurelakan cinta mengakali,

            Mengakaliku sepanjang usia!

            Saatnya berbalik melawan arah jarum jam,

            sebab tari Tarantella telah tiba di puncak irama!

 

Baik sajak yang berjudul “Boneka” maupun “Dongeng Dua Jana, Seorang Bhamini Dan Dua Buah Apel” merepresentasikan identitas perempuan yang memiliki kesadaran diri sebagai perempuan dengan entitas yang memberontak dari hegemoni kekuasaan laki-laki. Sebaliknya dalam sajak “Pancen Aku Perempuan Jawa” identitas perempuan yang direpresentasikan adalah perempuan Jawa yang menjadi subordinat laki-laki sebagaimana yang menjadi filosofis masyarakat Jawa tradisional seperti yang tergambar dalam bait sajak tersebut;

Aku perempuan jawa,

Terbiasa menitipkan mata dan kehendak

Pada mata dan kehendak lelaki

Ya, demi perputaran bumi agar tetap di porosnya

Demi kepantasan yang pantang dijungkirbalikan

(“Pancen Aku Perempuan Jawa”, 2013)

 

Sajak berikut ini merupakan kebalikan dari etos diri perempuan yang direprsentasikan oleh Dhenok jika dibandingkan dengan etos diri dalam sajak di atas. Pada sajak yang berjudul “shinta Kepada Rama” terasa sekali kontruksi baru tokoh Shinta yang mempertanyakan hegemoni patriarki yang diperlihatkan oleh Rama. Alih-alih melanggengkan budaya patriarki sebagaimana yang sering kita temukan dalam mitologi Shinta dan Rama maka sajak Dhenok ini justru menolak kesombongan Rama yang disampaikan dengan bahasa puitik yang menunjukan kematangan emosional dan psikologis perempuan yang terluka oleh ketidakpercayaan laki-laki tehadap cintanya, seperti yang tergambar dalam sajak berikut ini.

            Shinta Kepada Rama

            Api yang memanggangku tak lebih panas dari tuduhanmu , Rama

            Hangus tak hanya raga, juga cintaku yang tetap utuh

            Kesetiaan?

            Pertanyaan apa itu!

Bumi dan langit menjadi saksi aku tetap nirmala

Keraguanmu pada sumpahku

adalah godam yang meremukan tulang-tulang

Andai pun Rahwana menorehkan noda di kesucianku,

pantaskah kau memalingkan wajah

dari perempuanmu yang teraniaya?

Cintamu sedemikian dangkal,

Dikalahkan oleh kelelakian yang pantang diremehkan.

 

 

Jika sajak Boneka disebutkan terinspirasi dari drama Rumah Boneka Henderik Ibsen, maka sajak Shinta Kepada Rama adalah hasil pembacaan penyair terhadap narasi dan mitologi negerinya sendiri. Dhenok dalam proses kreatifnya memberi nilai baru (rekonstruksi teks) lama menjadi teks puisi yang dituangi dengan nilai dan rasa estetis yang baru. Di sinilah letak orisinalitas Dhenok yang berhasil diperlihatkannya dalam sajak-sajaknya. Semua pencapaian estetis dalam sajaknya itu tentu hanya dapat berhasil setelah melalui pembacaan dan pemahaman (erklaren dan versetehen) yang dilakukan oleh seorang penyair. Inilah saya maksudkan bahwa Dhenok tidak tercebur dalam proses kreatif penulisan sajak yang instan sebagaimana yang sering kita temukan dalam fenomena penulisan sajak di media sosial akhir-akhir ini.

            Dekonstruksi terhadap nilai-nilai lama yang dikandung dalam mitologi Rama dan Shinta ini sudah diperlihatkan oleh penyair sejak dari judul sajakya hingga ke bait akhirnya. Sebelumnya kita mengenal mitologi ini  dengan penulisan Rama dan Shinta. Namun, Dhenok memberi judul sajaknya dengan “Shinta Kepada Rama”. Shinta yang lebih penting dan oleh karena itu diletakan di bagain depan baru menyebutkan nama Rama. Demikian pula sajak disampaikan dalam tehnik fokalisasi melalui tokoh Shinta bukan melalui tokoh Rama. Kisah cinta yang legendaris ini kita ketahui dalam sajak ini melalui sudut pandang dan fokalisasi yang disampaikan oleh tokoh Shinta. Melalui fokalisasi yang dilakukan oleh Shinta pula kita memperoleh nilai baru yang merupakan dekonstruksi terhadap tatanan nilai-nilai usang yang selama ini diyakini dalam mitologi ini bahwa perempuan harus selalu menjadi subordinat laki-laki hingga maut menjemputnya di depan api. Namun, “Shinta Kepada Rama” mengajari perempuan masa kini bahwa hegemoni patriarki itu bisa dipatahkan sekalipun raga Shinta terbakar dalam api tetapi sesal Rama akan senantiasa abadi seperti yang tergambar dalam bait terakhir sajak ini:

            Penerimaanmu hanya mengembalikan aku sebagai prameswari

            Tapi luka keperempuanan yang kau nista,

            Adalah bilah keris luk tujuh yang akan berbalik menikam

Sesal menjadi kebadianmu, Rama, hingga di seberang tahta

 

Upaya yang dilakukan oleh Dhenok dalam menuangi nilai baru terhadap mitologi Rama dan Shinta itu juga sejalan dengan pandangan dan definisi sastra dari Tijnyanov yang menyebutkan bahwa sastra sebagai konstruksi bahasa yang dinamis (dalam Fokkema, 1998:29). Menurut Špet masih dalam Fokkema kata dinamis dalam konteks ini berarti teks sastra tidak merupakan kenyataan yang statis dan terisolasi melainkan merupakan bagian dari tradisi dan proses komunikasi. Dengan demikian teks sastra menjadi sangat mungkin untuk dituangi nilai-nilai baru sebagai hasil komunikasi (pembacaan) penyair terhadap mitologi Rama dan Shinta.

Identitas perempuan yang mencari kebebasan abadi juga muncul dalam sajak Dhenok dalam kumpulan sajak Ini Kata, Kuncinya Namanya. Sajak yang berjudul “Drama Satu Babak” (dari pentas ‘Kebebasan Abadi’ mengenang Masroom Bara) menggambarkan seorang primadona panggung bernama Meutia yang memiliki kisah dalam drama satu babak bersama sutradaranya. Perhatikan bait sajak berikut ini:

Ada banyak rasa tabu yang harus dibelenggu

Cinta dan kebencian yang tak pantas,

Bagaimana membebaskannya?

Aku Meutia, tetap yakin kebebasan abadi di seberang dunia

Kita pun kembali mencari, tak usai-usai

Hingga kemudian kamu lebih dulu sampai

 

Kebebasan abadi adalah tujuan yang hendak dicapai oleh aku lirik dalam sajak ini dan kedua kata itu merupakan kata kunci yang hendak disampaikan oleh penyair dalam  sajak ini.

Sajak sebagai hasil pengalaman psikologis penyair sebagaimana yang disebutkan oleh Šklovskij di atas juga dapat ditemukan dalam karya Dhenok berikut ini.

            Pokok Anggur di Halaman Belakang

 

            Mengering pokok anggur tua yang merambat di para-para

            Sudah lama ia tak kami sirami

            Suamiku ingin menggantinya

            Telah dipesan tanaman rambat lain yang lebih segar,

            yang buahnya tidak berwarna ungu

            Entah kapan tanaman itu akan dibawanya pulang

 

            Halaman belakang menjadi tempat paling menyedihkan

Pokok anggur tua mulai kerontang

Dulu ia menandai cinta suami kepadaku

Kini penantiannya hampa pada kucur air

Di setiap pagi dan petang

Hampa kerinduannya mendapat seteguk cinta

Tak sampai hitungan bulan ia pasti luruh

Tanpa mereguk cinta siapa pula ingin memperpanjang usia?

Serasa kudengar namaku didesahkan oleh kerisiknya

Untuk kembali menyanyangi, menghidupkan yang hampir mati.

 

Kata kunci dalam sajak di atas terdapat dalam baris terakhir sajak itu yakni /untuk kembali menyayangi, menghidupkan yang hampir mati/ adalah satu wujud kesadaran diri yang hendak dicapai oleh etos diri perempuan yang diciptakan dalam sajak tersebut.

 

Sajak-Sajak Kontemplatif Dhenok

Sajak-sajak kontemplatif Dhenok yang menggambarkan hubungan yang bersifat transendental antara hamba dengan Penciptanya juga merupakan tema yang banyak ditemukan. Beberapa diantaranya adalah sajak yang berjudul “Aku Debu” / aku debu, aku cuma debu!/Disuruh-Nya angin membawaku/bergulir di meja-meja perjamuan/lain waktu diterbangkan melintasi samudera dan benua/. Pada kesempatan lain kontemplasi dalam sajak Dhenok melahirkan bait sajak yang sangat kuat dan berbunyi /sungguh aku ingin menjadi garam/karena garam garam mengerti untuk apa ia dicipta/. Bait sajak itu sederhana piranti puitiknya seperti sederhanya kesadaran entitas garam yang disampaikan dalam sajak yang berjudul “Aku Mau Jadi Garam”. Dalam sajak lain yang juga menggambarkan hubungan transendental penyair dengan Tuhannya disampaikan dalam gaya yang ringan dan kekinian seperti sajak yang berjudul “Ngopi Bareng Tuhan” /Ngopi bareng Tuhan sungguh tak nikmat/ Ia tolak ajakan ngopi di cafe mahal di pinggir pantai/ “malu”, katanya/ Maka, beginilah, Tuhan dan kau berhadap-hadapan/di kedai kecil di pinggir jalan/. Pada sajaknya yang berjudul “Setelah Altar” Dhenok menyampaikan sikap kritisnya terhadap cara manusia dalam beragama. Pandangan kritis  terhadap sikap beragama itu digambarkan dalam bait sajaknya yang berbunyi /Tak hanya serbuk kopi mengendap di cangkir/juga sabda yang tak mudah kumengerti/Khotbah-khotbah dari altar tidak menjelaskan apa-apa/selain kepongahan sang seorang rabbi/ yang jubah putihnya menyembunyikan buah-buah terlarang/. Meskipun sajak ini ditulis tahun 2013 tetapi kritikan dalam sajak ini masih relevan dengan situasi sosial yang tengah terjadi pada hari ini di tengah kita.

Sekalipun sajak-sajak kontemplatif Dhenok merupakan sajak yang menggambarkan hubungan imanen seorang penganut Nasrani dengan simbol-simbol keagamaan dalam ajaran Katolik, sajaknya juga mengingatkan pada ajaran wahdatul wujud dalam ilmu tarekat. Ajaran Wahdatul wujud adalah ajaran yang menggambarkan upaya seorang hamba untuk menyatu dengan Khaliknya dalam ajaran Islam, seperti sajaknya yang berjudul “Saat Manunggal”. /Mari bercinta!/Menggumpallah darah-Mu dalam nadiku/menyatulah daging-Mu dan dagingku/...walau kecewa, jangan tolak aku!/Tangkupkan langit bumi, satukan jiwa/. Kesempurnaan seorang hamba dalam ajaran wahdatul wujud adalah ketika ia dapat mencapai jalan penyatuan diri dengan Khaliknya. Demikian pula dalam sajak Dhenok di atas, nilai-nilai agama Kristiani juga merindukan tercapainya kesatuan antara hamba dan Penciptanya yang diibaratkan sebagai penyatuan antara darah dan daging seorang hamba dengan Tuhannya.

            Seperti juga Jalaluddin Rumi yang pada akhirnya mencari ke dalam diri, maka demikian pula Dhenok Kristianti menjadikan puisi sebagai jalan pencarian jati diri. Dalam sajaknya yang berjudul “Setelah Ingar-Bingar” ajakan untuk melihat ke dalam diri itu disampaikan oleh Dhenok dalam larik-larik sajak berikut ini. /Setelah ingar-bingar, kembalilah menuju sunyi diri sebelum/kau lupa jalam./Kembalilah berdua saja dengan-Nya dalam/percakapan daim dan telanjang/tak perlu kata ketika diam/ lebih nyaring memperdengarkan batinnya! Rekatkan saja/ dadamu ke dada-Nya, panas tubuhmu ke panas cinta-Nya, lalu/ diamlah!/

 

Penutup   

Selain sebagai pengalaman estetis dan psikologis, menulis sajak bagi Dhenok juga merupakan satu cara untuk menemukan taburan makna yang bagaikan mestika. Dalam sajak ia juga menyampaikan ingatan kepada manusia bahwa kita juga dapat berguru pada rajawali, pada batu, pada angin, dan pada garam. Menulis puisi bagi Dhenok Kristianti bukan hanya sekedar merangkai kata melainkan juga jalan mendapatkan makna kehidupan seperti yang disampaikannya dalam sajaknya yang berjudul “Pernyataan”.

 

Pernyataan

Aku menulis puisi bukan merangkai kata

Aku menulis puisi hendak mencapai makna

Bukan dengan pena bait-bait tercipat,

Sebab pena tak punya jiwa

 

Puisiku lahir sebagai sebuah cinta,

Mata air purba yang tak surut air mata

Jika dengki membusukannya,

Atau ketidakadilan mengkhianatinya,

Puisku pasti meronta!

Tanpa cinta, manusia tak punya mestika

 

Kubiarkan puisiku bersahabat dengan alam:

Keindahan dan kehidupan

Kemurahannya jangan dinista,

Sebab alam memberi pada yang mencinta

Jika loba menggerus sumber-sumbernya,

Dan sabda para dewa tak bisa dipercaya,

Murka alam menjadi rintihan semesta

Puisiku kan menangis di sotoh-sotoh rumah,

Di antara bait dan baris yang bergelimpangan

Di antara rima dan irama yang kian sumbang

 

Sebab puisi bukan rangkaian kata,

Sebab puisi taburan makna!

 

 

Daftar Pustaka

 

Kristianti, Dhenok. 2013. Ini Kunci, Kata Namanya. Yogyakarta: Lembaga Seni dan Sastra

            Rebong.

 

-----------------------2015. Setelah Ingar-Bingar. Yogyakarta: Lembaga Seni dan Sastra

            Rebong.

 

Kleden, Ignas.2004. Sastra Dalam Enam Pertanyaan: Esei-Esei Sastra dan Budaya. Jakarta:

            PT. Pustaka Utama Grafiti.

 

Kunne-Ibsch, Elrud. 1972. Die Stellung Nietzsche in der Entwicklung der modernen Literatur-

            wissenschaft (assen: Van Gorcum, and Tubingen: Niemeyer).

 

Sklovskij, Viktor dalam Fokkema, D.W. 1998. Teori  Sastra Abad Kedua

            Puluh. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

 

Tynjanov, Jurij dan Roman Jakobson dalam Fokkema, D.W. 1998. Teori  Sastra Abad Kedua

            Puluh. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Artikel Terpopuler