Bahasa Lembak: Sejarah Singkat, Bentuk Pelestarian, dan Statusnya Kini

Indonesia, menurut catatan Ethnologue.com hingga tahun 2020, memiliki 671 bahasa daerah. Lebih dari setengah jumlah bahasa ini sudah mengalami penurunan jumlah penutur dan berstatus terancam punah dengan rincian, yaitu 19 bahasa telah terlembaga, 35 bahasa sedang berkembang, 180 bahasa masih kuat, 357 bahasa dalam bahaya, 79 bahasa dalam ambang kepunahan, dan 1 bahasa tidak berdiri tetap (Eberhard dkk, 2020). Kondisi ini membuat kita sadar bahwa kekayaan bahasa daerah di Indonesia saat ini berbanding terbalik dengan kondisi bahasa daerah tersebut, mereka tidak benar-benar kaya.

Dari beberapa bahasa daerah di Indonesia yang terklasifikasi menjadi bahasa ibu yang ada di Indonesia, menurut Tondo (2009, h. 280) salah satu bahasa ibu yang belum tertangani secara menyeluruh dari segi pelestarian dan pengawasan penutur adalah bahasa Melayu. Hal ini disebabkan oleh bahasa melayu acap kali tersamarkan dengan bahasa lain, seperti bahasa Jawa atau bahasa Indonesia karena bahasa melayu memiliki fonem yang mirip antara satu bahasa daerah dengan bahasa daerah lainnya sehingga rumpun bahasa Melayu seringkali tidak terdeteksi sebagai bahasa Melayu (Lauder 2006, 4; Tondo 2009, 280).

Dari 20 jenis bahasa Melayu yang terdata, salah satu variasi bahasa Melayu yang masih eksis di tengah masyarakat adalah bahasa Lembak. Bahasa Lembak merupakan bahasa masyarakat suku Lembak dan masih menjadi salah satu bahasa yang masih bertahan hingga sekarang.

Bahasa Lembak lahir dari fonologi Melayu Col/Cul. Berdasarkan penelitian terdahulu, bahasa Lembak pertama kali terekam pada tulisan aksara daerah. Aksara daerah yang dimaksud adalah aksara Ulu, yaitu aksara turunan dan perkembangan dari aksara Pasca Pallava (Gonda, 1973 dalam Sedyawati, 2004). Naskah-naskah Ulu Lembak itu ditulis pada bambu, kertas, dan kulit kayu. Noermanzah (2017) mengatakan salah satu ciri khas bahasa Lembak adalah penggunaan akhiran –e. Sebagai contoh, kata apa dalam bahasa Lembak berarti ape [apé]. Bahasa Lembak juga memiliki beberapa kosakata yang berbeda dibandingkan dengan bahasa daerah Bengkulu lainnya.

Di pulau Sumatra yang menjadi tempat persebaran bahasa induk Melayu, pengguna bahasa Lembak tersebar hampir di seluruh provinsi. Salah satunya adalah Provinsi Bengkulu yang tersebar di Kecamatan Kota Padang, Padang Ulak Tanding, Kepala Curup, desa Pagar Dewa, desa Sukarami, desa Dusun Besar, Kelurahan Panorama, dan Kelurahan Jembatan Kecil (Misriani, 2019).

Bahasa Lembak memiliki beberapa subkelompok dialek. Menurut Melati (2016), bahasa Lembak memiliki tiga subkelompok dialek yang mayoritas tersebar di Provinsi Sumatra Selatan dan Bengkulu. Di Provinsi Sumatera Selatan, bahasa Lembak memiliki subkelompok dialek Lembak Kayu Agung yang berada di daerah Kayu Agung dan dialek Lembak Beliti yang berada di daerah Lubuk Linggau. Sementara itu, di Provinsi Bengkulu, bahasa Lembak memiliki subkelompok dialek Lembak Delapan. Konon, Provinsi Bengkulu ini merupakan awal mula penggunaan bahasa Lembak sebab dahulu terdapat satu kerajaan Sungai Serut yang bermukim di sepanjang Provinsi Bengkulu hingga Lubuk Linggau.

Untuk mempertahankan eksitensi bahasa Lembak, setiap kelompok penutur memiliki ciri khas enkulturasi pola komunikasi bahasa Lembaknya masing-masing. Salah satu contoh kelompok masyarakat suku Lembak yang masih melestarikan bahasa Lembak adalah kelompok suku Lembak masyarakat Padang Ulak Tading (Pelangi, 2006). Masyarakat Padang Ulak Tading melestarikan bahasa Lembak dengan cara menurunkan enkulturasi pola komunikasi melalui peribahasa. Peribahasa yang menjadi ciri khas utama masyarakat Lembak Padang Ulak Tading adalah pepatah yang berisi nasihat-nasihat hidup. Salah satu pepatah yang digunakan adalah “Hinggap nga kayu rimbon (mampir di kayu rimbun) (Pelangi, 2006). Pepatah ini digunakan untuk mengungkapkan keresahan terhadap fenomena masyarakat yang sombong setelah mendapat keuntungan atau kekayaan yang besar. Masyarakat suku Lembak Padang Ulak Tading merasa bahwa fenomena ini merupakan fenomena yang tidak diterima di masyarakatnya sehingga masyarakat menggunakan pepatah ini sebagai salah satu ungkapan nasihat antarmasyarakat (Pelangi, 2006).

Seperti masyarakat melayu pada umumnya, masyarakat suku Lembak juga menggunakan pantun sebagai upaya melestarikan bahasa Lembak. Pantun ini biasa diucapkan atau dilafalkan pada saat prapernikahan, upacara pernikahan, dan setelah peristiwa pernikahan.

Ahyan (2013) mencatat beberapa model pantun yang biasa dilafalkan masyarakat suku Lembak dalam upacara adat pernikahan (studi penutur bahasa Lembak di daerah Kota Bengkulu). Salah satu contoh pelafalan pantun di kalangan masyarakat suku Lembak adalah sebagai berikut.

 

Kok la babunyi gendang kek serunai

  (kok sudah berbunyi gendang dan serunai)

  Adat lame pusako usang

  Adat lama pusaka using

  Adik, sanak, jiran tetangge yang diundang lah sapai,

  keluarga dan jiran tetangga sudah datang

  Rombongan jak jauhpun la datang.

 Undangan dari jauh pun sudah datang.” (Ahyan, 2013).

 

Pantun ini merupakan salah satu pantun penyambutan tamu bagi mempelai laki-laki saat tiba di kediaman mempelai perempuan (Ahyan, 2013). Pantun ini merupakan salah satu bentuk ungkapan penyambutan mempelai perempuan secara sopan.

Bahasa Lembak sering mengalami campur alih kode dengan bahasa Melayu lain dan bahasa daerah masyarakat pendatang, paling banyak bercampur kode dengan bahasa Jawa. Salah satu contoh penelitian yang membuktikan adanya campur kode adalah penelitian yang dilakukan oleh Misriani (2019). Penelitian yang dilaksanakan di daerah Tahura Bengkulu Tengah ini memperlihatkan bahwa bahasa Lembak saat ini telah bercampur kode dengan bahasa Jawa, Melayu Bengkulu, dan bahasa Rejang. Hal ini menyebabkan bahasa Lembak semakin sulit untuk dibedakan.

Misriani (2019) menyimpulkan beberapa faktor yang memengaruhi campur kode bahasa Lembak dengan bahasa lainnya. Beberapa faktor tersebut sebagai berikut.

  1. Kemiripan bentuk bahasa;
  2. Kehadiran penutur dari bahasa lain;
  3. Peran utama penutur sebagai pelestari kurang tersampaikan;
  4. Sekadar mengutamakan gengsi;
  5.  Keperluan humor; dan
  6. Jumlah mitra tutur dalam sebuah percakapan yang lebih sedikit.

Pada saat ini, kondisi identitas bahasa Lembak di tengah masyarakat semakin melebur dengan bahasa Melayu Bengkulu dan bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, yaitu pengajaran orang tua terhadap anaknya yang tidak maksimal, faktor lingkungan yang sudah bercampur dengan adat dari suku lain, dan kurangnya pengajaran bahasa daerah di sekolah (Zakaria dkk, 2020).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Zakaria, dkk. (2020) ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa bahasa Lembak yang mulai tercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Salah satu contoh campur kode dalam bahasa lisan adalah penggunaan bahasa lisan “wang” dalam bahasa Lembak yang sering berubah menjadi “orang” dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Lembak merupakan salah satu varian bahasa Melayu yang digunakan oleh beberapa kelompok masyarakat yang berada di pulau Sumatra. Penutur bahasa Lembak akan semakin berkurang apabila kita sebagai warga negara Indonesia tidak menghargai bahasa daerah sebagai motor penggerak bahasa nasional. Jika ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin bahasa Lembak akan punah di masa mendatang sebelum benar-benar terdaftar sebagai bahasa daerah resmi yang digunakan di pulau Sumatra.


Daftar Pustaka

Ahyan, A. 2013. “Analisis Bahasa Simbol dalam Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Lembak Kota Bengkulu”. Tesis. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu. Bengkulu. Indonesia. Diunduh dari: http://repository.unib.ac.id/6016/

Ariyani, D. 2011. “Komunikasi Antarbudaya dan Kearifan Lokal Suku Lembak pada Pendatang Suku Jawa di Desa Tanjung Terdana”. Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu. Bengkulu. Indonesia. Diunduh dari: http://repository.unib.ac.id/1461/

Eberhard, D. M., G.F. Simons, dan C.D. Fennig. 2019. Ethnologue: Languages of the World. Edisi ke-22. SIL International. Dallas, Texas. USA. Hastika, I., S. Sari, dan A. Imanda. 2016. “Etnografi Komunikasi dalam Adat Perkawinan Antar Suku”. Jurnal Proffesional FIS UNIVED. 3 (1): h. 71-86.

Ibrahim, G.A. 2011. “Bahasa Terancam Punah: Fakta, Sebab-Musabab, Gejala, dan Strategi Perawatannya”. Linguistik Indonesia. 29 (1): h. 35-52. Diunduh dari: https://www.linguistik-indonesia.org/images/files/03%20-%20Gufran%20Ali%20Ibrahim%20-%20UKT%20-%20Bahasa%20Terancam%20%20Punah%20.%20.%20.%20-%20EAK%20-%2018%20-%20120411.pdf

Melati, D. R. 2016. “Pola Komunikasi Suku Lembak Delapan dalam Menjaga Eksistensi Adat Istiadat (Studi pada Masyarakat Suku Lembak Delapan di Kelurahan Sukarami Kecamatan Selebar Kota Bengkulu)”. Skripsi. Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu. Bengkulu. Indonesia.

Misriani, A. 2019. “Campur Kode dan Alih Kode pada Komunikasi Sehari – Hari Masyarakat di Sekitar Tahura Bengkulu Tengah”. Estetik, 2 (1), h. 68-87. Diunduh dari: http://journal.iaincurup.ac.id/index.php/estetik/article/view/900

Noermanzah. 2017. “Struktur Kalimat Tunggal Bahasa Sindang di Kota Lubuklinggau dan Pengaruhnya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia”. AKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 1(1): h. 1-26. Diunduh dari: http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/aksis/article/view/3064

Pelangi, R. 2006. “Analisis Peribahasa Bahasa Lembak”. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu. Bengkulu. Indonesia. Diunduh dari: http://repository.unib.ac.id/2092/

Sedyawati, E., D.S. Sugono, A.R. Zaidan, E. Djamaris, dan A. Ikram (editor). 2004. Sastra Melayu Lintas Daerah. Pusat Bahasa. Jakarta. Indonesia.

Tondo, H. 2009. “Kepunahan Bahasa-Bahasa Daerah: Faktor Penyebab dan Implikasi Etnolinguistis”. Jurnal Masyarakat dan Budaya. 11 (2): h. 277-296.

Zakaria, J., Aisyah, S., & Paulina, Y. 2020. “Pergeseran Bahasa Lembak di Kalangan Remaja Suku Lembak Kelurahan Pagar Dewa Kota Bengkulu”. Lateralisasi. 8 (1): h. 44-61. Diunduh dari: http://jurnal.umb.ac.id/index.php/lateralisasi/article/view/811.


*Penulis adalah mahasiswa dari Universitas Brawijaya

Selingan

Daftar Selingan

  • zoonosis = zoonosis
  • work from office = kerja dari kantor (KDK)

  • work from home = kerja dari rumah (KDR)

  • ventilator = ventilator

  • tracing = penelusuran; pelacakan

  • throat swab test = tes usap tenggorokan

  • thermo gun = pistol termometer

  • swab test = uji usap

  • survivor = penyintas

  • specimen = spesimen; contoh

  • social restriction = pembatasan sosial

  • social media distancing = penjarakan media sosial

  • social distancing = penjarakan sosial; jarak sosial

  • self-quarantine = swakarantina; karantina mandiri

  • self isolation = isolasi mandiri

  • screening = penyaringan

  • respirator = respirator

  • rapid test = uji cepat

  • rapid strep tes =t uji strep cepat

  • protocol = protokol

  • physical distancing = penjarakan fisik

  • pandemic = pandemi

  • new normal = kenormalan baru

  • massive test = tes serentak

  • mask = masker

  • lockdown = karantina wilayah

  • local transmission = penularan lokal

  • isolation = isolasi

  • incubation = inkubasi

  • imported case = kasus impor