Gerakan Literasi Bangsa untuk Membentuk Budaya Literasi


02/09/2016 | Kegiatan

Gerakan Literasi Bangsa untuk Membentuk Budaya Literasi

JakartaDalam rangka menginisiasi Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa (GLB)” yang bertujuan untuk menumbuhkan budi pekerti anak melalui budaya literasi (membaca dan menulis).

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Pembinaan, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, M.S., saat diwawancarai di ruang kerjanya, Gedung Iswara, Badan Bahasa, Jakarta, Jumat, 5 Februari 2016.

Secara kultural masyarakat kita belum mempunyai budaya literasi yang tinggi, hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar. Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti.

Data statistik UNESCO tahun 2012 menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca.

Mencermati hal itu, GLB dirancang untuk membiasakan anak gemar membaca dan menulis, “GLB sendiri mengambil model penumbuhan budi pekerti lima belas menit pertama sebelum pelajaran dimulai, sebagaimana yang dituangkan dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015, dan ini adalah kegiatan ekstra kurikuler bukan intra kurikuler jadi tidak menambah jam belajar yang sudah ada,” ungkap Gufran.

Modelnya adalah membaca, mengkonstruksi, dan menulis kembali hasil bacaan, dan bahan bacaan yang nanti disiapkan tentunya relevan dengan perkembangan psikologi dan kecerdasan siswa SD,” lanjut Gufran.

“Kita fokus ke Sekolah Dasar (SD), selain karena anggaran terbatas (untuk semua jenjang pendidikan), menurut hemat kami di SD-lah kami memulai menumbuhkan dan berupaya meningkatkan kapasitas kecakapan berbahasa Indonesia melalui membaca dan menulis. Jadi GLB itu suatu sarana untuk meningkatkan kecakapan berbahasa Indonesia siswa kita. Selain SD, sasaran kita adalah komunitas di masyarakat yang setingkat dengan usia SD (anak putus sekolah dari daerah pinggiran),” tuturnya.

“Menurut saya membaca yang produktif adalah menjadi penulis kedua, pembaca yang bagus adalah menjadi penulis kedua,” tambahnya.

Badan Bahasa juga akan membangun ekosistem budaya literasi di GLB yaitu melibatkan dinas pendidikan, sekolah, komunitas, perguruan tinggi, Ditjen PAUD/DIKMAS, dan duta bahasa sebagai fasilitator.

Tahun 2016 dijadikan sebagai tahun percontohan, pelaksanaannya untuk setiap provinsi diwakili oleh satu SD dan satu komunitas. Tahapannya adalah menyediakan bahan ajar, menyusun pedoman GLB, melatih tenaga/fasilitator literasi, melaksanakan pembelajaran literasi, dan puncaknya pada tanggal 28 Oktober tahun ini akan diadakan Olimpiade Literasi.

Olimpiade literasi itu adalah hasil dari proses GLB tadi. Pesertanya adalah siswa SD dan komunitas yang sudah mengikuti pembelajaran literasi itu. “Olimpiade literasi itu kami menyebutnya sebagai “Kampung Literasi”, bisa ada di Jakarta, di Badan Bahasa, atau di suatu kampung di Indonesia, disana nantinya berkumpul 34 SD dan komunitas yang nanti akan diseleksi oleh balai/kantor bahasa di setiap provinsi,” kata Gufran.

“Jika memungkinkan, lokasi Olimpiade Literasi akan disinergikan dengan program “Bedah Desa” yang digagas Kemendikbud yaitu di Desa Kohot, Tangerang, Banten,” tutup Gufran mengakhiri wawancara siang itu. (an)