Obituarium J.S. Badudu: Sosok Guru Bahasa Bangsa


03/16/2016 |

Obituarium J.S. Badudu: Sosok Guru Bahasa Bangsa

Jika menelusuri mesin pencarian Google pada pukul sembilanan malam (13/3) dengan menuliskan nama “Badudu”, kita akan menemukan resultan tentang sosok  Jusuf Sjarif Badudu sebanyak 196.000; dua puluh satu jam terakhir terisi berita meninggalnya beliau. Di media sosial (medsos) pun, dari FB hingga BBM, sejak pagi tersiar kabar duka itu. Setidaknya, apa yang terunggah di dunia maya dan medsos menggambarkan keterkenalan sosok Yus Badudu—demikian kita akrab mengenalnya.

Beliau memang tidak asing, khususnya untuk dunia bahasa di Indonesia.  Dedikasi dan kecintaan beliau dalam membina bahasa Indonesia merupakan contoh yang tidak pernah kering untuk ditiru.  Hingga tak berlebihan jika beliau dijuluki “pendekar” bahasa.  Sejak medio 1970-an hingga awal 1980-an dan dilanjutkan antara tahun 1985—1986,  melalui acara Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI Pusat Jakarta, beliau menjadi kepanjangan tangan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa, dulu Pusat Bahasa) dalam membina masyarakat untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar.  Di samping itu, beliau pun melakukan pembinaan bahasa Indonesia melalui pengajaran dan penataran-penataran kebahasaan bagi guru, pegawai di instansi-instansi pemerintahan, dan para wartawan. Tidak berlebihan pula apabila generasi yang mengikuti acara beliau di era tahun 1980-an itu, mengidentikkan “Yus Badudu” dengan idiom “bahasa Indonesia yang baik dan benar”.  Atau, jika mendengar ungkapan “berbahasalah Indonesia dengan baik dan benar”, lalu akan teringat pula sosok “Yus Badudu”.

Pemikiran beliau tentang pembinaan bahasa Indonesia dituangkan dalam bentuk buku panduan praktis, seperti (1) Pelik-Pelik Bahasa Indonesia, (2) Membina Bahasa Indonesia Baku (2 jilid), (3) Bahasa Indonesia: Anda bertanya? Inilah jawabnya, (4) Ejaan Bahasa Indonesia, dan (5) Mari Membina Bahasa Indonesia Seragam (3 jilid).  Beliau pun pernah menyumbangkan pemikirannya untuk Badan Bahasa lewat penelitian tentang (1) Morfologi Bahasa Indonesia Lisan, (2) Morfologi Bahasa Indonesia Tulisan, (3) Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga tahun 40-an, dan (4) Panduan Penulisan Tata Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama.

Tidak sekadar “pendekar bahasa”, beliau pun adalah “guru bahasa bangsa”.  Beliau sangat peduli terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan bahasa Indonesia.  Pun, sebelum menjadi “guru besar”, Badudu pernah menjadi “guru kecil” sejak usia 15 tahun di sebuah SD di Ampana, Sulawesi Tengah sampai tahun 1951. Beliau pernah menjadi guru SMP (Poso, Sulawesi Tengah, 1951—1955), guru SMA (Bandung, 1955—1964), dosen (Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, 1965–1991), dan hingga akhirnya beliau pulalah orang pertama yang mendapat gelar guru besar bidang bahasa dari Fakultas Sastra Unpad tahun 1985 dalam usia 59 tahun.  Pada 1982—2016, beliau menjadi guru besar linguistik pada Program Pascasarjana (S-2 dan S-3) Universitas Padjadjaran dan mengajar pula di Universitas Pendidikan Indonesia (dulu IKIP Bandung). Beliau  juga menjadi guru besar di Universitas Pakuan Bogor pada tahun 1991—2016 dan di Universitas Nasional, Jakarta pada tahun 1994—2016. Beliau telah membimbing penulisan skripsi, tesis, dan disertasi. Di antara yang dibimbing dalam penulisan disertasinya sekarang telah menjadi guru besar pula dan tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Hasanuddin (Makassar), STKIP Gorontalo, Universitas Sumatra Utara, dan Universitas Lambung Mangkurat (Samarinda).

Sang guru besar telah menjadi guru bangsa dalam cara mendidik masyarakat tentang bagaimana seharusnya mengawal marwah bahasa Indonesia. Keteladanan Beliau merupakan inspirasi bagi semua masyarakat Indonesia yang dipersatukan dengan bahasa Indonesia.

Saat memberikan kuliah, sosok Yus Badudu yang bersahaja memberi keberanian kepada para mahasiswa untuk bertanya dan berdialog. Perasaan tegang menghadapi tokoh besar bahasa itu sedikit demi sedikit hilang di antara mereka. Tidak ada lagi keseganan para mahasiswa untuk mengajukan pendapat dan tanggapan. Yus Badudu hampir selalu menjawab “ya” kepada setiap pendapat mahasiswanya, namun setelah itu mengemukakan pendapatnya sendiri tanpa mengurangi makna yang disampaikan para mahasiswa. Dalam konteks pembelajaran, beliau selalu membangun rasa percaya diri peserta didik.

Melalui televisi yang merupakan media audio-visual tunggal masyarakat saat itu, Yus Badudu menjelma menjadi sosok guru bahasa bangsa yang dilihat dan didengarkan oleh jutaan masyarakat Indonesia. Selamat jalan guru bahasa bangsa…(Dadang Sunendar)