Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Gelar Lokakarya Pemutakhiran Kamus Besar Bahasa Indonesia


09/22/2016 | Seminar dan Lokakarya

Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum.

Jakarta—Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa membuka secara resmi Lokakarya Pemutakhiran Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di Best Western Premier The Hive Hotel, Jakarta, Rabu malam, 21 September 2016. Lokakarya tersebut merupakan kegiatan lanjutan dari lokakarya sebelumnya yang pernah dilaksanakan di Aula Gedung Samudra, Rawamangun, Jakarta Timur.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Dadang Sunendar mengapresiasi terselenggaranya kegiatan lokakarya yang dilaksanakan oleh Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terutama kepada para pakar bahasa dan bidang ilmu, tim pendaring, dan tim KBBI V yang telah bersedia melakukan pengembangan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V untuk kemajuan bangsa. Menurutnya, “merupakan tantangan yang luar biasa dalam pengembangan kamus, karena tidak semua orang mau memiliki hal ini, tidak semua orang memiliki keinginan untuk membangun bangsa Indonesia ini melalui kosakata, melalui lema, dan memberikan ilmunya yang terbaik. Ini insya Allah akan menjadi amal jariah kita, amal yang secara turun menurun,” ujarnya.

Selanjutnya, Dadang Sunendar berpesan, “Harapan kita, definisi yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terus bertambah dan tidak mengurangi yang sudah ada, dan harapan kami kepada peserta kegiatan lokakarya pemutakhiran Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah peran serta dalam memberikan masukan dan saran pengembangannya," pesannya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pengembangan, Dr. Dora Amalia mengatakan bahwa tujuan dari lokakarya tersebut adalah mengajak anggota masyarakat, terutama pakar bahasa dan bidang ilmu, untuk menelaah konten atau bahan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V yang telah disusun oleh tim penyusun KBBI V. Kegiatan itu dimaksudkan untuk meminta saran dan kritik para pakar tersebut dari segi format maupun pengolahan entri, terutama dalam penyeleksian entri dan pendefinisian.

Dora Amalia juga menambahkan bahwa ada dua hal penting yang diangkat dalam Lokakarya Pemutakhiran Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut, yaitu optimalisasi teknologi informasi dan pelibatan masyarakat. “Pekerjaan pembuatan kamus itu ternyata tidak hanya cukup dilakukan oleh tim kamus saja, tapi informasi dan data lainnya juga perlu didapatkan dari pihak luar” tambahnya.

Dalam sesi diskusi, seluruh peserta yang hadir dibagi dalam empat kelompok, yaitu kelompok bidang ilmu, kelompok struktur Kamus Besar Bahasa Indonesia, kelompok pengguna konten Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan kelompok pendaringan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Lokakarya yang dilaksanakan selama tiga hari (21—23 September 2016) tersebut dihadiri oleh 50 orang, yang terdiri dari 38 orang peserta yang berasal dari berbagai instansi pemerintahan dan swasta, serta dari Badan Bahasa dan Balai bahasa, serta 12 orang narasumber yang merupakan pakar bahasa dan bidang ilmu, diantaranya Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum. (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), Deny Arnos Kwary, Ph.D. (Universitas Airlangga), Mohammad Umar Muslim, Ph.D. (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Bambang Kaswanti Purwo (UNIKA Atma Jaya), Prof. Dr. Mien A. Rifai (AIPI), Dr. Jan Hoesada (Akuntan), T.D. Asmadi (Wartawan Senior), Widya Kirana (PT Gramedia Pustaka Utama), Dr. H. Muchlis Muhammad Hanafi, M.A. (LPMQ, Kemenag), Ivan Lanin, S.Ti., M.Ti. (Peneroka Bahasa Indonesia Daring), David Moeljadi (WordNet),  dan Ian Kamajaya (Programmer). (nav)