Badan Bahasa Gelar Diseminasi KBBI V


12/13/2016 | Kegiatan

Badan Bahasa Gelar Diseminasi KBBI V

Jakarta—Sebagai produk yang ditujukan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) masih memerlukan masukan, baik berupa tanggapan, kritik, maupun saran, dari masyarakat untuk kesempurnaan KBBI. Untuk memfasilitasi masukan tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan kegiatan Diseminasi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima di Aula Gedung Samudra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta, Selasa, 13 Desember 2016.

“Tentu untuk kamus sebesar ini, pasti banyak kekurangan-kekurangannya, banyak kelemahannya, oleh karena itu, marilah kita perbaiki bersama. Beberapa catatan terkait KBBI V yang masuk antara lain, masalah deifinisi yang kurang tepat, diakritik (tanda tambahan pada huruf) yang belum sempurna, pembahasan tentang lampiran dan batang tubuh, serta termasuk tentang lema bahasa asing dan bahasa daerah,” kata Kepala Badan Bahasa, Prof. Dr. Dadang Sunendar saat membuka acara itu.

Untuk itu, Dadang menyarankan bahwa adanya rencana pemutakhiran KBBI V setiap enam bulan sekali, dapat dijadikan sarana untuk mengundang berbagai kalangan internal maupun eksternal untuk membahas bersama. “Karena ini (KBBI) bukan untuk Badan Bahasa saja, bukan untuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ini untuk kita, KBBI adalah kita,” ungkap Dadang.

Selain itu, “Jumlah pekamus (leksikograf)  yang dimiliki oleh Badan Bahasa tidak banyak, jumlahnya hanya 11 orang, begitu  juga jumlah pekamus (leksikograf) yang ada di tanah air masih sangat sedikit, artinya Indonesia ini sangat kekurangan tenaga-tenaga pekamus (leksikograf),” kata Dadang.

Padahal, menurut Dadang, ke depan, untuk sebuah kamus seperti KBBI, diperlukan editor yang lebih banyak, “Apabila dimungkinkan, melalui forum ini mungkin bisa diundang oleh Pusat Pengembangan dan Pelindungan, siapa pun yang memiliki minat, perhatian, dan terutama kemampuan, bisa menjadi editor dari KBBI ini,” tuturnya.

Kemudian Dadang mengungkapkan, “Dalam sebuah tulisan di sebuah surat kabar nasional beberapa waktu lalu, ada yang mengeluhkan bahwa KBBI terlalu tebal dan mahal harganya, menanggapi hal itu, mungkin bisa diikuti cara yang dilakukan oleh Oxford English Dictionary (OED), yang tidak lagi menerbitkan edisi cetak, tetapi hanya edisi daring, dan itu tidak mustahil pemerintah melalui Badan Bahasa untuk tahun yang akan datang hanya menerbitkan edisi daring, dengan catatan untuk kondisi wilayah tertentu di Indonesia (yang memiliki keterbatasan jaringan internet), masih diperlukan KBBI edisi cetak. Kemudian, sebagai tambahan informasi, selain karena tuntutan kemajuan teknologi dan kebutuhan masyarakat, KBBI V Daring dibuat agar siapa pun dapat mengakses tanpa mengeluarkan uang (gratis),” ungkap Dadang.

Dadang menambahkan, “KBBI V Daring memungkinkan setiap orang untuk turut memberikan saran, tanggapan, pujian, dan kritikan, itu semua merupakan balikan bagi tim untuk menyempurnakan ini (KBBI V), dan itulah kelebihan KBBI V daring. Meskipun yang terjadi, hal tersebut tidak dilakukan melalui fitur koreksi atau usulan yang ada pada KBBI V Daring, tetapi melalui sms, posel, dan media sosial. Jadi, saya sarankan lebih baik menggunakan fitur yang ada pada KBBI V Daring tersebut, karena akan langsung ke meja redaksi, tercatat kapan masuknya baik hari, jam, bahkan detiknya,” ujar Dadang.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pengembangan, Dr. Dora Amalia mengungkapkan bahwa nantinya akan disusun Kamus Baku Bahasa Indonesia yang isinya khusus kata-kata baku bahasa Indonesia, Kamus Pemelajar Bahasa Indonesia yang dikhususkan untuk guru (direncanakan tahun depan), dan Kamus Etimologi Bahasa Indonesia yang berisi tentang sejarah asal kata, saat ini masih dalam proses pengerjaan yaitu bahasa Sansekerta, tahun selanjutnya, secara bertahap bahasa Jawa Kuno dan bahasa asing lainnya, seperti bahasa Arab dan bahasa Belanda.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah salah satu produk Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang menjadi acuan bagi pengguna bahasa Indonesia. Selain itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan salah satu bentuk upaya pengembangan bahasa dan sarana informasi kebahasaan. Di dalam kamus ini termuat hasil peningkatan mutu bahasa dan sastra Indonesia yang secara rutin dilakukan Badan Bahasa sebagai upaya pemodernan bahasa Indonesia.

KBBI Edisi Kelima telah mengalami perbaikan dan perkembangan dari KBBI Edisi Keempat sebelumnya. Perbaikan dan perkembangan data jumlah lema dan makna KBBI Edisi Kelima meliputi lema dan sublema baru sejumlah 16.841 lema/sublema, makna baru sejumlah 17.240 makna, keseluruhan lema sejumlah 108.844 lema, dan total lema dan makna sejumlah 127.036 lema dan makna. Selain jumlah lema yang bertambah sebanyak 100.000 lebih, pengerjaan KBBI Edisi Kelima mulai menggunakan aplikasi penyusunan kamus yang diberi nama KBBI Daring. Penggunaan aplikasi dalam KBBI Edisi Kelima tersebut memungkinkan penyusunan kamus menjadi lebih mudah dan cepat. Aplikasi ini selain dirancang sebagai mesin pencarian yang diperuntukkan bagi pengguna KBBI, juga terintegrasi dengan pekerjaan menyusun dan menyunting kamus yang diperuntukkan bagi tim penyusun KBBI. Selain itu, dalam aplikasi ini pula tersedia fitur interaktif yang memungkinkan pengguna menyumbangkan kata baru, mengomentari entri kamus, dan bahkan mengoreksi entri tersebut. Fitur-fitur ini sengaja diciptakan untuk mengundang keterlibatan masyarakat dalam penggunaan dan penyusunan KBBI.

Kegiatan yang dihadiri oleh kalangan media, pemerhati bahasa, sastrawan, pekamus, dan masyarakat pengguna Kamus Besar Bahasa Indonesia itu menghadirkan empat orang narasumber utama, yaitu Dr. Dora Amalia (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima), Deny Arnos Kwary, Ph.D. (Sejarah dan Perkembangan Perkamusan), Ian Kamajaya (Aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring), dan David Moeljadi (Pangkalan Data Kamus Besar Bahasa Indonesia). (an)