Badan Bahasa dan Manassa Perkuat Kerja Sama Pernaskahan Nusantara


12/19/2016 | Kegiatan

Badan Bahasa dan Manassa Perkuat Kerja Sama Pernaskahan Nusantara

Jakarta—Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Prof. Dr. Dadang Sunendar beserta jajarannya menerima kunjungan resmi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) yang dipimpin oleh ketuanya, Dr. Munawar Holil di Ruang Rapat Gaura, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin, 19 Desember 2016.

Menurut Munawar, saat ini terdapat 23 cabang Manassa, dari Aceh sampai Sulawesi Tenggara, sebagian besar anggota Manassa terdiri dari dosen, peneliti, dan orang-orang yang mencintai pernaskahan nusantara.

“Ada banyak kegiatan yang sudah kami lakukan diantaranya adalah pelatihan (filologi, konservasi, digitalisasi, dll), selain itu ada simposium yang diselenggarakan dua tahunan, penerbitan jurnal Manuskripta (online jurnal systems), dan lain-lain. Oleh karena itu, beberapa hal yang dikerjakan oleh Manassa sangat berkaitan erat dengan Badan Bahasa,” kata Munawar.  

Sementara itu, Kepala Badan Bahasa, Prof. Dr. Dadang Sunendar mengatakan bahwa kerja sama Manassa dengan Badan Bahasa yang dapat dilakukan terkait penelitian, konservasi dan revitalisasi bahasa dan sastra daerah, “Kerja sama yang sudah terjalin tinggal diteruskan, yang penting rancangan pekerjaannya sudah ada,” kata Dadang.

“Untuk program pengayaan kosakata bahasa daerah dan penyusunan kamus etimologi, Manassa bisa ikut terlibat, kemudian di Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) yang saat ini sedang dirancang sebuah laboratorium kebinekaan, kajian-kajian bahasa daerah yang didalamnya terkait pernaskahan nusantara (kajian aksara) bisa disinergikan dengan Manassa. Jadi, data yang dimiliki oleh Manassa dipublikasikan untuk masyarakat umum melalui Laboratorium itu dan Badan Bahasa dengan Manassa bisa saling bertukar data,” ujar Dadang.

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Badan Bahasa, Dr. Mu’jizah mengatakan bahwa saat ini yang diperlukan adalah digitalisasi naskah, “Karena naskah bukan sekadar foto saja, tetapi perlu diperhatikan keterbacaan dan dokumentasinya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah peningkatan SDM terkait metodologi penelitian filologi, sehingga perlu disegarkan kembali melalui pelatihan intensif,” ujar Mu’jizah.  

Koordinator Bidang Penerbitan dan Publikasi Manassa, Aditya Gunawan mengutarakan bahwa terkait penerbitan hasil kajian naskah, Manassa mempunyai Jurnal Manuskripta yang diterbitkan dua kali dalam setahun dan seri penerbitan naskah nusantara. “Jangka panjangnya adalah adanya Ensiklopedi Tradisi Tulis Nusantara dan diharapkan pengerjaannya melibatkan Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Badan Bahasa, dan Manassa,” ungkap Aditya yang baru saja menyelesaikan S-2 Filologinya dari INALCO, Paris, Prancis.  

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa saat ini, hal yang menarik dari pernaskahan nusantara adalah terkait dengan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi, “Misalnya tentang kain, terkait dengan upaya batik, di dalam naskah nusantara banyak dokumen tentang kain, tentang bagaimana memproduksi kain, dan jenis teknik tradisionalnya seperti apa, tutur Aditya yang juga pegawai Perpusnas itu.       

Manassa merupakan kependekan dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara, organisasi profesi itu didirikan pada tanggal 5 Juli 1996 oleh sejumlah sarjana filologi dan peminat kajian naskah nusantara di Fakultas Ilmu Budaya, saat itu Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. (an)