Bincang-Bincang Kebangsaan Dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan


03/01/2017 | Kegiatan

Bincang-Bincang Kebangsaan Dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan

Jakarta, Badan Bahasa— Bincang-Bincang Kebangsaan dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan dengan tema “Merawat Kebinekaan Melalui Bahasa dan Sastra” diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 1 Maret 2017, pukul 08.00—13.00, di Aula Gedung D, lantai 2, Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta. 

Tema ini dipilih untuk menggali peran bahasa dan sastra sebagai sarana untuk memunculkan kembali identitas atau reidentifikasi bangsa yang beragam suku bangsa, terutama untuk menghadapi terpaan informasi dan isu-isu SARA yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa yang sedang marak di media sosial dan media daring belakangan ini.

“Ada dua faktor perekat bangsa Indonesia, yaitu bahasa dan TNI. Kita tidak perlu khawatir bangsa Indonesia akan pecah selama masyarakatnya menggunakan bahasa Indonesia dengan sungguh-sungguh dan TNI juga masih sungguh-sungguh menjaga kedaulatan Indonesia.”, ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Muhadjir menyebutkan,“Perjuangan bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa penuntun masyarakat memang semakin berat. Bahasa menjadi alat mengekspresikan perasaan dan gagasan terutama rasa kenegaraan. Jika bahasa digunakan dengan tujuan yang baik, hasilnya akan baik dan benar, serta mampu menjadikan masyarakat bersifat mandiri.”

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dadang Sunendar mengemukakan, “Inti dari Bincang-Bincang Kebangsaan dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan adalah agar masyarakat memahami peran bahasa dan sastra di tengah suasana terpaan media sosial yang seringkali tidak berkenan dan sangat cepat berubah. Permasalahan ini menjadi permasalahan kebangsaan yang semakin kompleks. Jika masyarakat tidak bijak menyikapinya, masyarakat Indonesia tidak lagi dapat memilah mana yang benar dan tidak benar. Oleh karena itu, bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai alat komunikasi sekaligus perekat bangsa perlu dipahami oleh semua orang, bukan hanya oleh orang-orang bahasa dan sastra saja.”

Acara Bincang-Bincang Kebangsaan dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan dihadiri 350 orang peserta yang terdiri atas dosen, guru, mahasiswa, sastrawan, budayawan, wartawan, tokoh agama, dan masyarakat umum peminat bahasa dan sastra. Pembicara kegiatan bincang-bincang ini mengajak para pesertanya untuk berdiskusi bersama membahas reidentifikasi bangsa. Adapun pembicara yang dihadirkan adalah Prof. Dr. Bambang Kaswanti Purwa (pakar bahasa), Prof. Dr. Suminto A. Sayuti (pakar sastra dan budayawan), Habiburrahman El-Shirazy (penulis), Tendy K. Somantri (jurnalis) dan Drs. Puji Santosa, M.Hum. (peneliti senior Badan Bahasa). (pad/td)