Belajar Bahasa Melalui Sastra


03/14/2017 | Kegiatan

Belajar Bahasa Melalui Sastra

Jakarta, Badan Bahasa — Paradigma pembelajaran bahasa kita harus diubah, yaitu belajar bahasa melalui sastra. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim saat membuka Bengkel Sastra: Cerita Rakyat bagi Guru SMP di Aula Gedung Samudra, Badan Bahasa, Jakarta, Selasa, 14 Maret 2017.

“Karena tidak cukup kita mengajarkan subjek, predikat, dan objek, tetapi kita bawa anak-anak didik itu mengalami subjek, predikat, dan objek dengan menulis. Yakin dan percaya, bahwa orang yang banyak membaca nalarnya bagus,  Jadi salah satu cara agar pembelajaran bahasa Indonesia berhasil, menurut saya yaitu dengan belajar bahasa melalui sastra, karena di sastra lah pengalaman paling nyata dan riil dapat ditemui,”ujar Gufran.

Hasil penelitian PISA (Programme for International Students Assessment) tahun 2015 yang dirilis pada Desember 2016 lalu (melibatkan 540.000 siswa di 72 negara) menunjukkan peningkatan nilai PISA Indonesia di tiga kompetensi yang diujikan. Peningkatan terbesar terlihat pada kompetensi sains, dari 382 poin pada tahun 2012 menjadi 403 poin di tahun 2015. Kompetensi matematika juga meningkat dari 375 poin di tahun 2012 menjadi 386 poin di tahun 2015. Sementara itu, kompetensi membaca belum menunjukkan peningkatan yang signifikan, dari 396 di tahun 2012 menjadi 397 poin di tahun 2015 (hanya meningkat satu poin).

PISA merupakan sistem ujian yang digagas oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), yang bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia. Setiap tiga tahun, siswa berusia 15 tahun dipilih secara acak, untuk mengikuti tes dari tiga kompetensi dasar yaitu membaca, matematika dan sains.

Gufran menuturkan bahwa seperti yang telah diungkapkan oleh Mendikbud, ada tiga hal penting berkaitan dengan tumbuh kembangnya literasi, (1) tersedianya bahan bacaan yang memadai, (2) model-model pembelajaran literasi yang bisa meningkatkan indeks literasi bangsa, dan (3) pembiasaan membaca (bisa karena terbiasa).

“Bawalah anak-anak kita membaca novel, coba dipraktikkan satu semester satu novel dibaca. Hal itu penting, karena dengan membaca kita akan mendapatkan tiga keuntungan yaitu menambah pengetahuan dan wawasan, menambah perbendaharaan kosakata, dan mengasah nalar. Satu hal yang penting untuk bengkel sastra di tahun 2017, dan pada tahun-tahun selanjutnya akan menghasilkan karya-karya dari peserta, itu yang penting supaya kita bisa menjadi penyumbang gerakan literasi nasional,”ungkap Gufran.

Bengkel sastra tidak hanya meningkatkan kemampuan dan kompetensi guru (peserta) dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sastra melalui pendampingan sastrawan berpengalaman, tetapi juga memproduksi karya. “Ini memang bukan perkara gampang karena semua orang bisa bicara, tetapi tidak semua orang bisa menulis, menulis merupakan keterampilan berbahasa tertinggi. Terdapat empat keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Artinya menulis ini harus diumpan oleh keterampilan sebelumnya, dan pasti orang yang bisa dan biasa menulis adalah orang-orang yang rajin membaca,”tambah Gufran.

Gufran bercerita bahwa ada kisah menarik, dalam suatu kesempatan, Anton Pavlovich Chekhov, seorang penulis terkenal Rusia menjadi pembicara dalam suatu pelatihan menulis yang diikuti oleh para penulis pemula. “Ketika sesi diskusi seorang peserta bertanya kepadanya, bagaimana caranya menjadi seorang penulis? Anton Chekhov menjawab, kalau Anda ingin menjadi penulis, ya menulis. Berdasarkan kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang ingin mahir terhadap suatu keterampilan, maka harus digeluti keterampilan tersebut, sama seperti ketika ingin pandai berenang, maka harus berenang dahulu, supaya pengalaman berenang itu dialami karena tidak cukup kita mengajari anak-anak teori berenang, begitu pun menjadi seorang penulis, harus dimulai dengan menulis,” tutur Gufran .

Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 14—16 Maret 2017 mengambil tema cerita rakyat, karena ke depan Badan Bahasa berupaya agar cerita rakyat digunakan sebagai bahan literasi. Oleh karena itu, hasil akhir kegiatan ini berupa antologi cerita rakyat dari peserta.

Peserta kegiatan ini diikuti oleh guru SMP se-Jabodetabek, yang belum pernah mengikuti kegiatan bengkel sastra (50 orang peserta yang terseleksi dari 200 orang yang mendaftar). “Kami berharap bapak/Ibu guru dapat memanfaatkan waktu tiga hari untuk berkontribusi dalam pengembangan diri menulis cerita rakyat dengan belajar kepada dua pakar sastra,  Kurnia Effendi dan Okky Madasari. Paling tidak dapat memberikan pengayaan, bagaimana mengolah cerita rakyat menjadi bahan ajar yang dibutuhkan di dalam proses pembelajaran di sekolah,”ungkap Kepala Bidang Pembelajaran, Dr. Fairul Zabadi selaku ketua panitia. (an)