Mendikbud Dorong Mabbim Menciptakan Kamus Bersama


04/05/2017 | Mabbim

Mendikbud Dorong Mabbim Menciptakan Kamus Bersama

Jakarta, Badan Bahasa – Dalam rangka meningkatkan  peran  bahasa lndonesia/Melayu sebagai bahasa perhubungan di tingkat ASEAN, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Seminar Kebahasaan Majelis Bahasa Brunei  Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim) di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Rabu, 5 April 2017.

Pada pembukaan seminar, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menyampaikan gagasannya, “Kalau saja kita menciptakan kamus bahasa bersama, saling mengisi dari serapan masing-masing pengguna bahasa ini, saya yakin bahasa ini akan berkembang dan mempunyai posisi yang kuat dalam percaturan internasional atau dalam rangka merawat dan menjaga identitas regional kita,” ujar Mendikbud.

Selanjutnya, menurut Mendikbud, bahasa bisa menjadi alat perekat sekaligus alat diplomasi antarnegara di kawasan ASEAN, “Ketika kita keluar dari masing-masing negara bisa menggunakan satu bahasa, di dalam kita menggunakan bahasa Indonesia, mungkin kalau sudah di luar kita cukup menyebut bahasa saja, begitu juga di Malaysia dan Brunei Darussalam, bahkan termasuk di Timor Leste, pengalaman saya di luar negeri, mereka memang tidak menambah, apakah itu Melayu atau Indonesia tetapi cukup menyebutkan bahasa saja, dengan bahasa orang itu sudah tahu yang dimaksud adalah Melayu atau Indonesia, sehingga akan lebih sederhana dan menjadi alat pemersatu dan perekat antarnegara,” tutur Mendikbud.

Seminar ini diharapkan dapat membangun strategi bersama dalam rangka memperkuat posisi bahasa di tengah-tengah pergaulan dunia terutama kawasan ASEAN. “Saya yakin di beberapa negara termasuk di Thailand terutama bagian selatan, dan Filipina selatan, Timor Leste, serta Papua Nugini sangat mengenal bahasa ini, karena itu saya kira perlu ada kerja sama yang baik, misalnya di dalam memperkaya kosakata, dan Indonesia mempunyai kekayaan yang luar biasa dengan potensi luas wilayah, keberagaman suku, dan jumlah penduduk yang paling besar,” pesan Mendikbud.

Seminar Kebahasaan Mabbim yang diselenggarakan selama dua hari (5—6 April 2017) ini menyajikan 12 makalah dari negara anggota, yang terdiri atas empat makalah dari Indonesia, tiga makalah dari Brunei Darussalam, dan empat makalah dari Malaysia, serta satu makalah dari negara pemerhati, Singapura.

Peserta yang mengikuti seminar ini berasal dari negara anggota Mabbim (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darusalam), negara anggota pemerhati Mabbim dari Singapura, mahasiswa, dosen,  guru, jurnalis, TNI, pakar, dan para akademisi dari perguruan tinggi  di Indonesia. (an)