Badan Bahasa Gelar Kegiatan Peningkatan Kompetensi Penerjemah Tulis


07/11/2017 | Kegiatan

Bapak Indra Listyo sedang membahas contoh terjemahan nota kesepahaman milik salah satu peserta.

Jakarta- “Kebutuhan penerjemah di Indonesia semakin hari semakin meningkat,” ungkap Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., dalam paparannya mengenai Kebijakan Penerjemahan pada Kegiatan Peningkatan Kompetensi Penerjemah Tulis.  Prof. Dadang sebelumnya membuka kegiatan tersebut yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) di Hotel Swiss-Belresidences, Kalibata, Jakarta yang berlangsung pada 10--14 Juli 2017.

“Ibu dan Bapak harus bangga menjadi penerjemah karena penerjemahan bukanlah hal yang sepele. Penerjemahan sangat dibutuhkan dalam hampir setiap sendi kehidupan kita. Tujuannya sangat besar, yaitu memberikan penguatan pada jati diri dan daya saing bangsa,” tambah Prof. Dadang. Lebih lanjut, Prof. Dadang menjelaskan bahwa kegiatan pelatihan penerjemahan ini merupakan realisasi dari salah satu tugas dan fungsi Badan Bahasa dalam hal ini Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, yaitu penyusunan bahan pelatihan calon penerjemah.

Sementara itu, dalam laporannya kepada Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kepala Bidang Diplomasi Kebahasaan, Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, Dony Setiawan, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan Peningkatan Kompetensi Penerjemah Tulis ini adalah salah satu kegiatan rutin yang merupakan pendukung kegiatan utama, yaitu kegiatan penerjemahan dokumen strategis yang dikelola PPSDK. “Selain melaksanakan kegiatan peningkatan kompetensi penerjemah tulis ini, kami di PPSDK juga secara rutin menyelenggarakan peningkatan kompetensi penerjemah lisan. Namun, pesertanya masih terbatas untuk staf internal saja,” tambah Dony.

Materi pelatihan terdiri atas tiga bidang penerjemahan, yaitu sosial budaya, sastra, dan hukum. Setiap bidang dibimbing oleh pakar penerjemahan di bidangnya masing-masing. Bidang sosial budaya dibimbing oleh Prof. Rahayu Surtiati Hidayat, bidang sastra oleh Dr. Grace Wiradisastra, dan bidang hukum oleh Indra Listyo. Selain ketiga bidang materi tersebut, tambahan berupa pengenalan penerjemahan dalam tim juga disampaikan oleh Kepala Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, Prof. Emi Emilia, M.Ed., Ph.D. untuk memberikan gambaran kepada para peserta mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan sebuah tim penerjemah, terutama untuk menyelesaikan penerjemahan teks dengan tenggat waktu yang sangat singkat.

Sebelum mengikuti pelatihan ini, peserta diminta untuk memilih salah satu bidang peminatan dan kemudian mengirimkan salah satu karya terjemahannya di bidang tersebut. Pelatihan ini juga lebih menekankan praktik daripada teori untuk mengasah kemampuan peserta agar semakin baik dalam penerjemahan.

Kegiatan ini diikuti oleh tiga puluh peserta yang berasal dari lingkungan Badan Bahasa dan dari luar lingkungan Badan Bahasa. Peserta dari Badan Bahasa merupakan calon-calon penerjemah dari PPSDK dan para pejabat fungsional penerjemah dari kantor dan balai bahasa. Sementara itu, peserta dari luar Badan Bahasa berasal dari kalangan universitas dan perwakilan dari kawasan Indonesia Peace and Security Center, Sentul.

Para peserta pelatihan sangat mengapresiasi dan berharap untuk dapat terus dilibatkan dalam kegiatan seperti ini. “Pelatihan ini semakin memperdalam pemahaman saya terhadap penerjemahan, terutama bagaimana cara menerjemahkan teks dalam sebuah tim,” ungkap Indra Nugraha, peserta pelatihan yang berasal dari Universitas Wiralodra, Indramayu. (bps/hw)