Seminar Leksikografi Indonesia 2017 Resmi ditutup


08/12/2017 | Seminar dan Lokakarya

Seminar Leksikografi Indonesia 2017 Resmi ditutup

Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Dr. Hurip Danu Ismadi, M.Pd. mengatakan bahwa strategi pemutakhiran  KBBI dilakukan dengan program kosakata dan istilah  bidang ilmu dan bahasa daerah dengan menyajikan penerbitan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam versi cetak dan daring. Ia juga menambahkan bahwa penyusunan kamus secara daring memungkinkan editor yang bekerja di tempat yang berbeda dapat saling terhubung. Danu menegaskan bahwa dalam pemutakhiran KBBI edisi ke-5 tim perumus tidak memiliki kendala yang berarti sehingga peluncuran KBBI tersebut dapat diselesaikan.

Selanjutnya, ia pun menjelaskan bahwa dalam kaitannnya dengan leksikografi sampai saat ini belum ada perguruan tinggi yang membuka program studi bidang itu. Oleh karena itu,  Badan Bahasa dalam hal ini Pusat Pengembangan dan Pelindungan mengupayakan cara lain untuk mengembangkan kamus, antara lain dengan membuat bengkel leksikografi. Bengkel tersebut sudah terbentuk dan berfungsi sebagai patner untuk mengembangkan program keilmuan  tentang perkamusan, tegasnya.

Muhammad Ridwan, S.S., M.A, salah satu pemakalah dalam Seminar Leksikografi Indonesia menjelaskan bahwa pengembangan kamus tematik Jawabi (Jawa-Arab-Indonesia) sebagai upaya menstimulasi anak usia dini dengan program Lexique Pro. Lebih jauh ia menjelaskan ada beberapa tema yang disajikan dalam program ini, antara lain diri sendiri, lingkungan, kebutuhan, alam semesta, alat komunikasi, alat transportasi, tumbuhan, binatang, angka, huruf, dan juga buah-buahan. Pemilihan tema tersebut dimaksudkan agar sesuai dengan perkembengan kognitif anak yaitu, kecerdasan untuk mempertahankan dan menetapkan tujuan, kemampuan menyesuaikan dan kemampuan melakukan autokritik dan belajar dari kesalahan yang pernah dibuat.

Pemakalah Dita Dewi Palupi, S.Hum. dan Athaya Prita Belia, S.Hum. dari Universitas Airlangga memaparkan “Pemanfaatan Korpus dalam Penyusunan Kamus Pemelajar: Studi Kasus pada Buku Soal Detik-Detik UN Bahasa Inggris SMP”. Ia mengatakan pada era globalisasi siswa dipersiapkan untuk menjadi warga internasional. Hal ini dapat terwujud jika ia mampu menguasai banyak bahasa, khususnya bahasa Inggris. Siswa juga harus menguasai sejumlah kosakata untuk mengerti bacaan (reading), dengaran (listening), percakapan (speaking). Dia menyusun korpus dari kumpulan soal Detik-Detik Ujian Nasional Bahasa Inggris SMP,  terbitan PT Intan Pariwara.

Prihantoro dan Elsa, dua pemakalah dari Universitas Diponegoro, melalui paparannya yang berjudul “Tantangan dan Peluang Desain Korpus Pemelajar Bahasa Indonesia”,  menjelaskan bahwa korpus pemelajar sangat penting untuk membangun sumber daya linguistik,  merancang materi pengajaran dan menyediakan pangkalan data linguistik yang layak agar sesuai dengan aspek bahasa Indonesia yang berkaitan dengan kebutuhan pengguna.

Selanjutnya, dalam paparan pemakalah Rai Bagus Triadi dan Siti Hamidah dari Universitas Pamulang yang bertajuk  “Pemurnian Bahasa dan Pemanfaatan Korpus pada Kosakata Bidang Kecantikan: Register Pegawai Salon” disampaikan bahwa pemurnian bahasa, penyesuaian bahasa, dan penghilangan kosakata asing dalam suatu bahasa dapat  menghasilkan rekomendasi dan entri dalam penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Penutupan Seminar Leksikografi Indonesia 2017, yang dilaksanakan di Hotel Aryaduta kali ini, diakhiri dengan menghasilkan beberapa rumusan rekomendasi yang dibacakan oleh Azhari Dasman Darmis, M. Hum. sebagai ketua panitia. Rekomendasi tersebut, antara lain berupa peningkatan fungsi kamus sebagai alat pemelajar bahasa kedua, pemahaman menyeluruh  oleh pemelajar tentang kamus pemelajar, aspek penyusunan kamus pemelajar yang sesuai dengan profil pengguna, situasi penggunaan serta tingkat kemahiran pemelajar. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa hubungan penggunaan kamus pemelajar dalam peningkatan literasi peserta didik dari aspek pemahaman terhadap makna dan pengayaan kosakata bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa daerah yang berkerabat atau serumpun.  Selain itu peran korpus dalam penyusunan kamus sangat penting dalam memastikan ketetapan makna dan tingkat kealamiannya. Pemanfaatan teknologi informasi dalam penyusunan kamus dapat memudahkan pemelajar, termasuk juga membentuk forum Perhimpunan Perkamus Seluruh Indonesia (Perkamusi), dan menjadikan Seminar Leksikografi Indonesia sebagai agenda rutin Perkamusi, tegasnya.

Selanjutnya, Seminar Leksikografi Indonesia ditutup oleh Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Dr. Hurip Danu Ismadi, M.Pd., dengan memberikan cendera mata kepada Prof. Dr. George Quinn, Prof. Dr. I Gusti Made Sutjaja, M.A, dan Deny Armos Kwary, Ph.D. sebagai pemakalah utama.(ari).