Badan Bahasa dan LLPDI Dorong Tumbuhnya Kegiatan Mendongeng di Masyarakat


09/05/2017 | Kegiatan

Badan Bahasa dan LLPDI Dorong Tumbuhnya Kegiatan Mendongeng di Masyarakat

Jakarta, Badan Bahasa – Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kemendikbud, Dadang Sunendar ditemani Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Dr. Hurip Danu Ismadi, dan Kepala Pusat Pembinaan, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, serta jajarannya menerima kunjungan resmi Lembaga Pelestarian Pengembangan Dongeng Indonesia (LPPDI) yang dipimpin oleh Kusumo Priyono (Kak Kusumo) di Ruang Rapat Gaura, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa, 5 September 2017.

Kunjungan tersebut terkait kerja sama untuk memasyarakatkan kembali kegiatan mendongeng yang sudah mulai hilang di tengah masyarakat Indonesia dan usulan penetapan Hari Dongeng Nasional.

Pada kesempatan itu, Kepala Badan Bahasa, Dadang Sunendar mengungkapkan bahwa Badan Bahasa sudah menyiapkan bahan literasi berupa 165 cerita rakyat, yang bisa digunakan juga oleh para pendongeng. “Kami memiliki anggaran terbatas, jadi hanya bisa mencetak secara terbatas. Kami mengantisipasi hal tersebut dengan menyediakannya secara daring,”ungkap Dadang.

Dadang melanjutkan bahwa pada zaman sebelum renaissance, banyak yang buta huruf, kemudian banyak pendongeng yang membantu menanggulangi kondisi tersebut. “Mereka (pendongeng) menceritakan kondisi negaranya kepada masyarakat yang buta huruf itu,”ujar Dadang.

Sementara itu, Ketua LPPDI, Kusumo Priyono mengatakan bahwa sekarang ini, anak-anak sudah jarang mengenal dongeng karena yang ditemui setiap hari adalah gawai (posnel pintar). “Dongeng adalah media efektif untuk memberikan kasih sayang orang tua. Untuk itu, Hari Dongeng perlu ada untuk menjadi hari bahagia untuk seluruh anak Indonesia, diusulkan pada tanggal 28 November atau bertepatan dengan kelahiran Pak Raden (Drs. Suyadi).

Ia meneruskan, di dalam dongeng itu terdapat penanaman karakter, bagaimana si anak bisa terinspirasi hal-hal positif melalui dongeng.

Selanjutnya, Edy Supratno, pendongeng dari Kudus mengutarakan pengalamannya mendongeng dari rumah ke rumah dengan menceritakan kue masa lalu, yang menurutnya mengandung kearifan lokal.

“Akan sangat luar biasa imbasnya bila dilegalisasi oleh negara, yaitu dengan menetapkan Hari Dongeng,”serunya.

Kemudian, Kak Mila dari Rumah Dongeng Pelangi Bekasi menuturkan harapannya jika Hari Dongeng diresmikan pemerintah, tidak hanya milik anak-anak yang mampu dan lengkap, tetapi dapat dirasakan oleh semua anak termasuk yang berkebutuhan khusus.

“Semoga, gerakan mendongeng dan hari mendongeng menjadi kenyataan. Karena anak-anak dapat  diperkenalkan bacaan yang berkualitas, agar lebih berkarakter,”harapnya. (an)