Penulis Bahan Bacaan, Pencerah Masa Depan


10/06/2017 | Kegiatan

Penulis Bahan Bacaan, Pencerah Masa Depan

Jakarta— Prof. Dr. Muhadjir Efendi, M.AP. , Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) , secara resmi membuka acara pertemuan penulis tahap ke-2 dalam rangka penyelarasan bahan bacaan literasi dengan slogan "Penulis Bahan Bacaan, Pencerah Masa Depan". Kegiatan yang digelar oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) selama tiga hari, sejak tanggal 5—7 Oktober 2017, bertempat di Hotel Santika, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk menyempurnakan buku berdasarkan rekomendasi dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), serta memperkuat pemahaman penulis mengenai bacaan yang baik dan layak digunakan serta dapat menumbuhkan budi pekerti.

Badan Bahasa memegang peranan strategis penyediaan bahan literasi dalam Gerakan Literasi Nasional di Kemendikbud. “Gerakan Literasi Nasional saat ini sedang mengidentifikasi, mendokumentasi para pegiat literasi mulai dari yang terutama para penulis-penulisnya. Keberhasilan Gerakan literasi Nasional berpangkal pada seberapa memadai jumlah maupun kualitas dari para pegiat literasi pada sektor hulunya yaitu para penulis,”ujar Mendikbud saat ditanya wartawan terkait Gerakan Literasi Nasional.

Pada kesempatan lain, Prof. Dr. Muhadjir Efendi, M.AP. mengingatkan kepada penulis, bahwa kita harus berusaha untuk menggunakan bahasa pembaca, bukan bahasa kita. “Usahakan ketika kita menulis, harus membayangkan siapa sebetulnya yang nanti akan berdialog dengan karya kita” terang Mendikbud. “Penulis yang baik pasti akan berusaha untuk menggunakan bahasa pembaca”tegasnya. “Harus ada moral cerita dalam tulisan kita” tambah Prof. Muhadjir Efendi.

Penyediaan bahan bacaan literasi yang dilakukan oleh Badan Bahasa melalui Pusat Pembinaan pada tahun 2017, dilakukan melalui Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi 2017, dan telah menghasilkan bahan bacaan yang bertema lanskap dan perubahan sosial masyarakat perdesaan dan perkotaan, kekayaan bahasa daerah, pelajaran penting dari tokoh-tokoh Indonesia, kuliner Indonesia, dan arsitektur tradisional Indonesia. Bahan bacaan tersebut telah melalui berbagai proses penilaian dan perbaikan. Saat ini, bahan bacaan tersebut sudah masuk pada tahap akhir penyelarasan buku berdasarkan hasil penilaian dari Puskurbuk, Kemendikbud. Semua proses tersebut dilakukan untuk menghasilkan bahan bacaan yang layak bagi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

“Tahun lalu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sudah menerbitkan 165 buku bacaan cerita rakyat. Tahun ini, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sudah menyerahkan 226 buku bahan bacaan kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan untuk dinilai, dan selanjutnya akan diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa jika lolos,” jelas Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Ditambahkan Kepala Badan Bahasa, bahwa dari 727 naskah yang masuk, telah terpilih 120 naskah bacaan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Aspek yang ditinjau dan diperbaiki adalah kesesuaiannya dengan tingkat pendidikan, materi yang mendukung budi pekerti, penggunan bahasa Indonesia, dan aspek grafika.

Selain itu, Prof. Dr. Dadang juga menerangkan bahwa dengan diadakannya pertemuan penulis tahap II tersebut, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai media bagi penulis untuk menyelaraskan bahan bacaannya sesuai dengan penilaian dan rekomendasi Puskurbuk.

“Hasil penyempurnaan buku yang dilakukan penulis dalam kegiatan ini akan dikumpulkan dan disunting kembali serta diselerasakhirkan oleh Tim Badan Bahasa agar siap diterbitkan dan didistribusikan kepada anak Indonesia. Selain itu, pertemuan itu juga bermaksud untuk memperkuat pemahaman penulis mengenai bacaan yang baik dan menumbuhkan budi pekerti,” Tambah Prof. Dadang Sunendar.

Pertemuan ini dihadiri oleh 110 penulis dan berbagai daerah di Indonesia. Acara pembukaan kegiatan dimeriahkan oleh Paduan Suara Labschool Jakarta dan penampilan dongeng anak, serta pemberian piagam penghargaan kepada pemenang sayembara secara simbolis untuk enam penulis, antara lain Zulfitra (Sumatra Barat, Jembatan Ratapan Ibu dan Kawa Daun), Rismawati (Aceh, Lanskap Negeri Saman), Tria Ayu K. (Yogyakarta, Batik Tambal untuk Kakek), Paskalina (Jakarta, Jajanan Tradisional Asli Indonesia), I Gusti Made Dwiguna (Bali, Nyoman Nuarta: Pematung Internasional yang Pantang Menyerah), Dzikri el Han (Papua, Cerita dari Lembah Baliem(nav/naf)