Bedah Buku "Suara Samudra Catatan dari Lamalera", Mengangkat Kearifan Lokal Lamalera dalam Sebuah Novel


10/11/2017 | Bulan Bahasa dan Sastra

Bedah Buku "Suara Samudra Catatan dari Lamalera", Mengangkat Kearifan Lokal Lamalera dalam Sebuah Novel

Jakarta, Badan Bahasa—Dalam rangka menyemarakkan Bulan Bahasa dan Sastra 2017, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali menggelar bedah buku sastra, sebuah novel berjudul Suara Samudra Catatan dari Lamalera karya Maria Matildis Banda di Aula Gedung Samudra Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta, Rabu, 11 Oktober 2017.

Badan Bahasa terus berupaya memberikan ruang apresiasi terhadap perkembangan dunia sastra, salah satunya dengan mengadakan bedah buku sastra.

“Ketika membaca buku, sejak kecil banyak sekali yang kita lupa, buku itu karangan siapa? Hal yang sama sekarang ini terjadi dalam dunia perfilman, ini contoh saja, ketika kita menonton film yang bagus, yang kita puji seringkali adalah para aktornya, kita lupa memberikan penghargaan kepada sutradaranya,”tutur Kepala Badan Bahasa, Dadang Sunendar saat memberikan sambutan.

Dadang melanjutkan bahwa dengan hadirnya novel ini, semakin mengembangkan dan memperkuat bahasa dan sastra di daerah, kekhasan yang diangkat dalam novel ini yaitu daerah Lamalera di Pulau Lembata, NTT, yang dikenal sebagai daerah yang mempunyai tradisi penangkapan ikan paus sangatlah menarik.

“Bagi orang yang belum ke Lamalera pasti bertanya-tanya, karena kita mengetahui informasi itu (tradisi penangkapan ikan paus) sebatas apa yang disampaikan oleh media. Namun, kalau kita melihat ulasan pada bedah buku ini, rupanya ada sebuah kearifan lokal yang luar biasa dari cerita Suara Samudra ini. Tentunya,  kita harus membacanya secara utuh, bagaimana latar cerita yang demikian menarik digabungkan dengan alur ceritanya dan penokohannya, pasti menjadi sesuatu yang bagus, dan pasti banyak memberikan inspirasi kepada pengarang lainnya untuk membuat karya yang bermutu dengan mengangkat kearifan lokal suatu daerah,” kata Dadang.

Lebih lanjut, menurut Dadang, pemerintah daerah juga harus ikut andil dalam pengembangan sastra daerah. “Sesuai dengan amanat UU Nomor 24 Tahun 2009, salah satu kalimatnya adalah pemerintah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah, berkoordinasi dengan lembaga kebahasaan (Badan Bahasa dan UPT-nya). Sastra daerah ini demikian banyak dan banyak juga yang berkualitas, ini harus diangkat dan dibantu terutama oleh pemerintah daerah, salah satunya dengan menerbitkan karya-karya sastra daerah, dimana kelokalan itu diangkat,”ujarnya.

Dadang menambahkan bahwa Badan Bahasa juga memiliki program pengiriman sastrawan berkarya ke daerah perbatasan. “Salah satu syaratnya, sastrawan tersebut ketika kembali ke Jakarta sudah membawa hasil berupa sebuah karya sastra yang menyampaikan ilustrasi atau latar yang indah di seluruh perbatasan Indonesia yang kita cintai ini, termasuk yang ada di wilayah-wilayah NTT, yang berbatasan dengan negara lain.  Karya tersebut selanjutnya akan dijadikan bahan literasi,” tutur Dadang.

Salah satu tamu istimewa yang hadir pada kesempatan itu adalah Sonny Keraf, mantan  Menteri Lingkungan Hidup (1999-2001). Sonny menyampaikan rasa terima kasih kepada Maria Matildis Banda yang telah mengangkat tradisi orang Lamalera ke dalam sebuah novel dan Badan Bahasa, Kemendikbud yang telah memberikan ruang diskusi dan tempat peluncuran novel tentang Lamalera, tempat kelahirannya.

“Saat ini, sudah ada puisi tentang Lamarela, sudah ada juga berbagai film dokumenter tentang Lamalera dari berbagai belahan dunia, dan sudah sejak lama banyak peneliti yang datang ke Lamalera. Kemudian, pada kesempatan ini diluncurkan novel sastra etnografis yang mencoba menggambarkan orang Lamarela itu secara sastrawi,” ungkap Sonny.

Ia menambahkan bahwa kehidupan orang Lamalera berpusat pada dua titik sentral, yakni tena yang akan banyak ditemukan dalam novel ini, yaitu perahu orang Lamalera, dan yang kedua adalah rumah adat. “Novel ini mengisahkan tradisi penangkapan ikan paus yang memang menarik karena berbagai dimensi yang ada di dalamnya,” kata Sonny.

Pada kesempatan yang sama, Yoseph Yapi Taum selaku pembedah novel mengungkapkan bahwa novel Suara Samudra Catatan dari Lamalera adalah sebuah renungan yang bersifat eksistensial, sangat mendalam mencakup aspek religiositas yang cukup tinggi.

“Novel ini menggarap sebuah persoalan kemanusiaan yang sangat mendasar jika dilihat dari perspektif sosial budaya dan religiositas. Saya menyebutnya sebagai persoalan langit,”ungkap Yoseph.

Selain itu, Yoseph berpendapat bahwa Maria Matildis Banda sebagai penulis mampu menjelaskan seluk-beluk kehidupan nelayan Lamalera, tantangan yang mereka hadapi, dan tradisi yang mereka hidupi berdasarkan riset dengan observasi dan wawancara mendalam yang ketat. Kepiawaiannya dalam menceritakan keadaan Pulau Flores, Pulau Lembata, dan Lamalera, serta Pulau Bali lancar mengalir dari tulisannya.

“Gambaran dari sudut sejarah, sosial, dan budaya Lamalera termasuk luar biasa. Dapat dikatakan bahwa novel ini adalah hasil riset yang serius, yang patut diberi apresiasi tinggi. Kita seperti terlibat dalam lingkungan kehidupan masyarakat nelayan Lamalera dengan segala filosofi dan persoalan hidup mereka,” papar Yoseph.

Menurut Yoseph, hanya sastrawan yang memiliki keteduhan hati dan kemampuan mengolah kata-kata, yang dapat membuat akhir cerita menjadi sebuah penutup yang indah.

“Sebagaimana sastrawan besar Armijn Pane mengakhiri novel Belenggu, Maria pun mengakhiri novelnya tanpa menggurui. Ia membentangkan dua pilihan tanpa memastikan mengapa tokoh utama memilih salah satu jalan. Pembaca sendirilah yang akan menafsirkan, mengapa tokoh utama memilih jalan ini,”tutur Yoseph mengakhiri ulasannya.

Sementara itu, Maria Matildis Banda menuturkan bahwa novel Suara Samudra Catatan dari Lamalera ditulis dalam proses yang panjang, sekitar sepuluh tahun (2007—2017). Gagasan penulisan novel dengan latar penangkapan ikan paus di Lamalera, berawal dari sebuah film dokumenter tentang tradisi penangkapan ikan paus di sana pada akhir tahun 1980 atau awal tahun 1990-an di rumah Bapak Ben Oleona.

“Pak Ben bercerita tentang lamafa (juru tikam ikan paus), tragedi yang menimpa nelayan, kehilangan maupun kematian di laut, serta pro-kontra soal konservasi dan perlindungan ikan paus. Saya juga mendapat masukan tentang kampung nelayan Lamalera, aktivitas nelayan pada musim leva, teriakan baleo, minyak ikan paus, dan sistem barter di Pasar Wulandoni. Kemudian, muncul pertanyaan dalam benak saya, mengapa harus ikan paus yang besar dan terkenal sebagai raja laut. Bagaimana menghadapi ikan besar itu secara tradisional. Melompat dan terjun ke dalam gelora samudra? Mengapa begitu berani dan apa yang mereka cari,” ungkap Maria.

Lebih lanjut, Maria menuturkan bahwa baginya, Lamalera, laut Sawu, dan tradisi nelayan ikan paus adalah sebuah tempat, ruang, dan waktu imajiner. Perjuangan di laut, bencana yang terjadi di laut adalah sesuatu yang sangat dalam maknanya untuk memenuhi hakikat karya sastra yang universal.

“Bukankah “nenek moyangku orang pelaut?” Yang mempersatukan NTT adalah alam laut, yang mempersatukan tanah airku Indonesia adalah alam laut. Jadi, laut, samudra raya adalah repertoar imajiner yang kaya raya secara fisik, mental, dan spiritual. Lamalera adalah salah satu jalan bagi saya untuk memahami alam, kembali ke alam, belajar apa artinya pencarian identitas di tengah tekanan perubahan pada tingkat lokal, nasional, maupun global,”tutur Maria.

Pada akhir acara, menanggapi seorang penanya terkait resepnya menulis hingga menghasilkan novelnya yang kesepuluh, Maria memberikan jawaban dengan mengutip pernyataan sastrawan terkemuka Indonesia, Mochtar Lubis, “Jika Anda ingin bisa menulis, tulis,” ucap Maria singkat. (an)