Tenaga Kerja Asing Perlu Edukasi Bahasa Indonesia


10/12/2017 | Kegiatan

Tenaga Kerja Asing Perlu Edukasi Bahasa Indonesia

PEKANBARU-Sebagai syarat kemampuan dalam bekerja, Tenaga Kerja Asing (TKA) memerlukan edukasi berbahasa Indonesia. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Pekanbaru sangat mendukung program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) agar tenaga asing bisa menjalankan aktivitas dan juga mampu berinteraksi dengan pekerja lokal lainnya. ucap Syaharuddin, Sekretaris Disnaker Kota Pekanbaru saat  memaparkan materinya dalam acara Sosialisasi Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Hotel Alpha, Pekanbaru,  Rabu (11/10/2017).  

Umar Solikhan, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan bahwa tenaga kerja asing sebaiknya mengerti berbahasa Indonesia sebagai salah satu syarat keahlian untuk bekerja di Indonesia. “Program BIPA sebenarnya sudah lama berjalan, namun kurang sosialisasi sehingga sedikit orang yang ikut terlibat dalam memberikan pemahaman berbahasa Indonesia ke tenaga kerja asing,” tegas Umar.

Lebih lanjut, Umar juga menjelaskan bahwa bagi para pengajar BIPA, Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa tiap tahun mengadakan seleksi untuk program mengajar BIPA ke luar negeri. Wadah Aliansi Pengajar dan Pengiat BIPA (APPBIPA) sangat diperlukan di Provinsi Riau. “Saat ini sudah ada ada 10 perwakilan APPBIPA di Indonesia dan dua luar negeri, yaitu di Jepang dan Thailand. “Saya harap setelah pertemuan ini bisa dibentuk APPBIPA di Riau,” harap Umar.

Sementara itu, Aris Budiarto, instruktur Peningkatan Produktivitas Disnaker dan Transmigrasi Provinsi Riau mengatakan pihaknya mendukung apa yang dilakukan Balai Bahasa, "di Riau, mereka, para TKA, yang berkerja di daerah kita harus bisa berbahasa Indonesia,” jelas Aris.

Acara ini dihadiri berbagai perwakilan yang berhubungan dengan tenaga TKI. Di antaranya dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, biro perjalanan, lembaga pendidikan bahasa,   dan perguruan tinggi yang ada di Pekanbaru. Di akhir pertemuan juga diceritakan pengalaman Noezafri Amar dan Yalta Jalinus dua pengajar program BIPA yang mengajar bahasa Indonesia di Tunisia dan Davao, Filipina sebagai motivasi peserta sosialisasi. Program mengajar BIPA di luar negeri tersebut berlangsung selama 3-4 bulan dan mencoba menyosialisasikan bahasa Indonesia di sejumlah negara di dunia. (Ir/Balai Bahasa Riau)