Lomba Debat, Bidik Pikiran Kritis Mahasiswa terhadap Isu Kebahasaan


10/17/2017 | Bulan Bahasa dan Sastra

Lomba Debat, Bidik Pikiran Kritis Mahasiswa terhadap Isu Kebahasaan

Jakarta, Badan Bahasa – Dalam rangka menyemarakkan Bulan Bahasa, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan Final “Debat Bahasa Antarmahasiswa se-Jabodetabek Tahun 2017” di Aula Gedung Samudra Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta, Selasa, 17 Oktober 2017.

Kegiatan yang  mengusung tema “Bahasa Indonesia sebagai Perekat Kebinekaan” ini dimeriahkan oleh 23 tim dari perguruan tinggi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Masing-masing tim terdiri dari dua orang yang sebelum mengikuti lomba debat ini,  mereka mengirimkan esai sebagai salah satu syarat untuk mengikuti lomba debat.

Esai yang terdiri dari 1.500-2.000 kata itu menjadi acuan penentu kelulusan peserta debat. Selain itu kriteria esai juga sangat mengharuskan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang tentunya sesuai dengan tema yang diangkat oleh panitia. Setelah mengikuti proses seleksi yang ketat, akhirnya diputuskanlah peserta yang mampu mampu lolos ke tahap pelaksanaan debat.

Hal yang membuat berbeda dari lomba debat ini adalah, peserta diberikan pembekalan materi pada 12 oktober 2017 lalu, dan setelah diberikan peserta akan berlaga pada 3 babak yakni babak penyisihan, semilfinal dan final berlangsung pada 17-19 Oktober 2017. Sistem yang digunakan dalam pelaksanaan debat adalah Sistem Parlemen Inggris yang mengharuskan empat tim saling berdebat dan mengadu argumennya di setiap putaran permainan.

Topik yang diangkat dalam kegiatan Debat Bahasa Antarmahasiswa ini adalah isu global kebahasaan dan kesastraan yang hangat saat ini. Topik yang disediakan ada 8 topik yang mana setiap tim dituntut untuk berpikir kreatif, bersikap komunikatif, percaya diri, dan mengunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam menyampaikan ide-ide pada setiap topik yang diberikan oleh para juri. Hal ini sesuai dengan kriteria penilaian juri yang didasarkan pada logika berpikir terkait argument, kebenaran data dukung, informasi, dan referensi, penyampaian dengan bahasa yang baik, penggunaan diksi yang baik dan tertata,  serta komunikasi yang baik Adapun juri yang menilai adalah Tim Juri Badan Bahasa dan Tim Juri dari OTP Institute of Professional Development.

Kegiatan yang menjadi rutinitas tahunan ini bertujuan untuk menggali pemikiran kritis mahasiswa mengenai isu-isu kebahasaan dan kesastraan, meningkatkan apresiasi terhadap upaya berkomunikasi melalui argumen dan/atau opini serta membangun daya pikir kreatif mahasiswa tentang penanganan masalah kebahasaan dan kesastraan serta memperluas wawasan peserta dan membangun sikap tanggap terhadap isu-isu nasional dan global kebahasaan dan kesastraan.

Denda Rinjaya, koordinator debat bahasa, ketika ditemui di Aula Samudra mengaku bahwa persiapan dilakukan sangat luar biasa dan matang, mulai dari persiapan materi, persiapan cakupan peserta, cakupan wilayah, hingga pada teknis-teknis perlombaan. “Kita sudah memiliki kesiapan yang sangat matang untuk kegiataan ini, berbagai upaya kita lakukan agar kegiatan ini berjalan dengan lancar, dan semoga tahun depan bisa diadakan lomba debat tingkat Nasional”, ujarnya.

Venansia Ajeng salah satu pendamping dari Language Center Universitas Bina Nusantara(Binus) mengutarakan kompetisi ini merupakan yang pertama kali diikuti oleh anak didiknya, berbekal persiapan yang hanya dua kali latihan, Ajeng dan pendamping lainnya mampu menguatkan tekad peserta Binus hingga maju di ajang debat ini meskipun topik yang ditawarkan cukup beragam. Ajeng terlihat begitu semangat melihat anak didiknya yang sedang beradu argumen, diapun berharap orang kepercayaan Binus ini mampu merobos babak final dan menjadi juara sesuai dengan yang diusahakan selama ini.

Lain sisi, Sony Ardy Effendy peserta dari Universitas Pertamina berpendapat bahwa, cakupan lomba ini terlalu kecil, dan topik yang ditawarkan pun merupakan bahan yang sudah ia kuasai. Saat dikonfirmasi, ternyata pria bertubuh tinggi ini kerap mengikuti perlombaan debat bahasa indonesia, tidak hanya di tingkat Propinsi tetapi ia juga sudah mengenyam lomba debat di tingkat Nasional. Dia berharap, semoga tahun depan cakupan lebih besar, agar lebih besar pula tantangannya. (Dv)