Kepala Badan Bahasa Buka Seminar Revitalisasi Bahasa dan Sastra Berbasis Komunitas


10/31/2017 | Seminar dan Lokakarya

Kepala Badan Bahasa Buka Seminar Revitalisasi Bahasa dan Sastra Berbasis Komunitas

Jakarta, Badan Bahasa—Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dadang Sunendar membuka acara Seminar Hasil Revitalisasi Bahasa dan Sastra Berbasis Komunitas di Aula Sasadu, Gedung Samudra, Badan Bahasa, Senin (31/10/ 2017).

Dadang mengungkapkan bahwa penelitian revitalisasi bahasa dan sastra harus terus ditingkatkan dengan mengundang gubernur atau wali kota yang keberadaan bahasa dan sastra di daerahnya mempunyai potensi untuk direvitalisasi.

“Perlunya pemahaman yang lebih pada setiap daerah di Indonesia. Undang gubernur atau wali kota untuk bekerja sama dalam program ini (pelestarian bahasa dan sastra daerah),”ujar Dadang kepada peserta seminar yang sebagian besar mahasiswa itu.

Seminar itu terbagi menjadi dua sesi, pagi dan siang. Satu sesi terdapat empat pemakalah yang akan memaparkan hasil penelitian mereka yang sebelumnya didokumentasikan dalam bentuk film. 

Sesi pagi berfokus pada bahasan sistem bahasa yang terbagi menjadi empat materi dari berbagai daerah penelitian, yaitu Revitalisasi Bahasa Yalahatan dari Maluku, Bahasa Tadi dari Sulawesi Tengah, Bahasa Sawai dari Maluku Utara, dan Bahasa Rote dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

Salah seorang narasumber, Cece Sobarna memberikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan revitalisasi ini. “Manfaatkan bahasa selagi masih diberi kesehatan untuk hidup. Kematian (bahasa) itu bisa diperlambat, dengan cara meneliti berbagai bahasa yang apik dari setiap daerah di Indonesia,”ucap Guru Besar Universitas Padjajaran itu.

Seminar ini diharapkan mampu membuat pemerintah daerah “melek mata” pada bahasa daerah yang wajib dilestarikan. “Jika diizinkan, saya bersedia untuk menjadi peneliti Badan Bahasa. Saya pun ingin merasakan tidak mandi selama berhari-hari seperti sahabat saya Ibu Sastri yang sering meneliti ke daerah-daerah terpencil,”ucapnya sambil tertawa kecil.

Sementara itu, sesi kedua berfokus pada sastra yang terbagi dari empat pemateri dari berbagai daerah, yaitu Bahasa Tanggomo, Gorontalo, Sastra Wayang Cecak, Kepulauan Riau, Basiacuong, Riau, dan Cigawiran, Jawa Barat.

Narasumber sesi ini adalah Pudentia, M.P.S.S. yang menuturkan bahwa sebenarnya masyarakat butuh yang namanya kesusastraan yang berfokus pada tradisi lisan. Sebab tanpa tradisi lisan, jati diri bangsa akan hilang dari peradabannya.

“Banyak teman-teman saya dari luar Indonesia, misal Australia yang meneliti tentang tradisi sastra lisan di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Nanti kalau sudah diambil oleh negara asing, baru deh kita (masyarakat Indonesia) marah-marah dan seolah-olah peduli,”ucap Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) itu.

Pada sesi tanya jawab, salah satu mahasiswa Universitas Pakuan Bogor mengajukan pertanyaan,  “Apa pengaruhnya sastra lisan dalam praktik kehidupan sehari-hari? Kenapa tidak meneliti yang jelas atau nyata dan penting saja?,”ucapnya sambil tertawa kecil dan diberikan tepuk tangan oleh seluruh peserta yang hadir.

Kepolosan penanya itu ditanggapi oleh Pudentia dengan tenang. “Saya pikir semua peserta di sini sudah paham, apa itu sastra lisan dan seberapa pentingnya dalam praktik kehidupan yang bukan sehari-hari, namun kehidupan yang akan datang,”tuturnya.

Seminar itu ditutup  oleh Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Hurip Danu Ismadi dengan catatan akan menindaklanjuti arahan dari Kepala Badan Bahasa, yaitu mengundang dan melibatkan kepala daerah dalam upaya merevitalisasi bahasa dan sastra dari setiap daerah.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap para peneliti dan berharap agar peneliti bisa merevisi hasil penelitian yang tadi dipaparkan secepatnya. (nps/an)