Membaca sebagai Batu Asah Penajam Nalar

Dalam menepis budaya negatif dan memperkuat nilai-nilai luhur bangsa yang sudah ada, peran dunia pendidikan, terutama pendidikan formal di sekolah, sangatlah penting. Anak-anak usia sekolah perlu mendapatkan bekal nilai-nilai budaya luhur bangsa melalui pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler. Terkait dengan penanaman nilai-nilai budaya bangsa, peran guru sangat penting dan vital karena mereka berperan dalam pembentukan karakter dan menjadi teladan bagi siswa. Oleh karena itu, guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk ditularkan kepada siswa. Salah satu upaya dalam meningkatkan keterampilan guru, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, mengadakan kegiatan bimbingan teknis peningkatan apresiasi sastra: Bengkel Sastra bagi Guru SD/MI dan SMP/Mts di DKI Jakarta.

Kegiatan kesastraan ini dilakukan secara intensif untuk membahas hal- hal yang berhubungan dengan penciptaan dan  apresiasi karya sastra, baik bentuk puisi, prosa, maupun drama. Sebagai rutinitas tahunan, kegiatan bengkel sastra ini bertujuan untuk meningkatkan minat berkarya sastra bagi guru dengan memberikan tambahan pengetahuan, wawasan, dan pengalaman dalam aktivitas bersastra bersama sastrawan. Demikian dikatakan oleh  Dr. Tengku Syarfina, Kepala Bidang Pembelajaran, ketika menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan itu di Aula Sasadu, Gedung Samudra, Badan Bahasa, Selasa 10 April 2018.

Lebih lanjut Fina mengharapkan, melalui kegiatan bengkel sastra tersebut dapat dilahirkan kumpulan cerpen karya peserta setelah  menyerap sajian materi yang disampaikan oleh narasumber. Produk karya sastra itu bermanfaat sebagai informasi tambahan bagi peserta dalam meningkatkan wawasan bersastra. Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, Kepala Pusat Pembinaan, saat membuka kegiatan tersebut. Ia memotivasi peserta agar gemar dan senang membaca, yang kelak dapat  mempermudah mereka  untuk menulis hingga bisa menghasilkan  antologi cerpen.

Di hadapan lima puluh peserta pertemuan, Gufran juga mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap masalah literasi baca anak Indonesia saat ini. Ia menilai tingkat literasi anak, terutama literasi baca tulis, sangatlah rendah. Pada saat membaca soal ujian berupa paragraf panjang, anak menjadi malas, lalu memakai ilmu tebak-tebak buah manggis. Selain itu, Gufran juga mengajak para guru untuk menilai dan mengamati budaya baca masyarakat di tempat umum, misalnya di stasiun kereta api atau di bandar udara. Kebanyakan dari mereka yang menunggu waktu keberangkatan menghabiskan waktu bermain gawai daripada membaca buku. Hal itu  berbanding terbalik dengan budaya literasi yang ada di negara Barat. “Saya sangat prihatin dengan budaya baca anak yang lemah. Hal itulah yang menyebabkan anak malas membaca paragraf soal ujian yang panjang. Mereka hanya menggunakan ilmu tebak-tebak buah manggis sehingga banyak soal yang dijawab salah,” ujarnya.

Lebih dalam Gufran juga mengingatkan bahwa tata bahasa memang perlu diajarkan kepada anak, tetapi jangan meninggalkan pengalaman berbahasa. Menguasai teori saja tidak cukup untuk belajar bahasa, tetapi harus dipraktikkan. Salah satu bentuk praktik tersebut adalah membaca, lalu menuliskan apa yang dibaca. “Mengajarkan tata bahasa memang sangat perlu, tetapi jangan melupakan pengalaman berbahasa, yakni dengan membaca dan menuliskan apa yang dibaca,” tambahnya.

Pada akhir sambutannya, Gufran menyampaikan ada tiga hal yang harus dilakukan oleh guru, yakni guru harus banyak membaca, guru harus banyak menulis, dan guru harus memberikan atau membagikan pengalamannya. Tidak hanya itu, Gufran juga mengungkapkan ada tiga manfaat yang akan diperoleh jika seseorang senang membaca, yakni dengan banyak membaca kosakata akan bertambah, gemar membaca akan meningkatkan pengetahuan, dan membaca adalah batu asah bagi tajamnya  nalar. (DV)

 

Artikel Terpopuler