Makanan Indonesia Disukai Mahasiswa Bulgaria

Makanan Indonesia menarik perhatian mahasiswa Bulgaria. Kamis (19/4), 30 mahasiswa dari jurusan East, South, and Southeast Asia, Universitas Sofia, mengikuti kelas memasak di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sofia. Mereka adalah mahasiswa yang mengontrak mata kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Sofia, Bulgaria.

Pak Pras, juru masak KBRI Sofia, dengan cekatan mendemonstrasikan cara membuat gado-gado dan mi goreng seafood. Kedua menu ini dipilih karena pembuatannya mudah dan bahan-bahannya mudah pula ditemukan di Bulgaria. Mi goreng, misalnya, menggunakan bahan dasar mi instan Indonesia yang juga dipasarkan di Bulgaria.

Para mahasiswa antusias melihat kecakapan Pak Pras dalam mengolah bahan masakan. Mereka juga takjub dengan aroma masakan yang menggugah selera. Mereka bertepuk tangan setiap satu menu selesai dibuat.

Tidak cukup sampai di situ. Setelah demonstrasi selesai, sederetan menu makan siang telah menanti para mahasiswa ini: nasi putih, mi goreng, ayam bakar bumbu Bali, ikan bumbu kuning, gado-gado, dan kerupuk. Disajikan pula semangka, anggur, dan stroberi sebagai pelengkap.

Maraya, salah satu mahasiswa, mengaku bahwa dia suka makanan Indonesia, karena rasanya enak. Dia bukan saja tertarik dengan masakan Indonesia, tapi juga bahasa dan kebudayaan Indonesia. Inilah yang menyebabkan dirinya sangat ingin mengunjungi Indonesia.

Kelas memasak ini diselenggarakan atas kerjasama KBRI Sofia dengan pengajar BIPA dari Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud RI.

Nida, pengajar BIPA dari PPSDK, Badan Bahasa, mengatakan, “Tujuan dari kegiatan ini adalah memfasilitasi mahasiswa untuk belajar Bahasa Indonesia melalui makanannya. Sebelumnya mahasiswa sudah memelajari teori tentang teks prosedur. Di sini, mereka bisa melihat implementasi teks tersebut di kehidupan nyata.”

“Mahasiswa juga diberi tugas membuat video singkat mengenai cara memasak sesuatu. Saya berharap, siswa bisa menggunakan kemampuan berbahasa Indonesia mereka untuk tujuan yang lebih luas. Siapa tahu mereka bisa mempromosikan Indonesia melalui youtube, misalnya,” pungkas Nida. (Nida Fauziah)

 

Artikel Terpopuler