Pembekalan Peserta Didik Literasi Baca Tulis

PEKANBARU-Kepala Pusat (Kapus) Pembinaan, Badan Pengembangan  dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudyaan, Dr. Hurip Danu Ismadi, M.Pd., menhimbau para guru untuk membekali peserta didik kemampuan baca dan tulis. “Ini harus dilakukan secara terus-menerus,” kata Danu pada saat membuka acara Pelatihan Instruktur Literasi bagi Guru SD Se-Kota Pekanbaru di Hotel Pesonna, Pekanbaru, Provinsi Riau, 23—25 Oktober 2018.

Menurut Danu, peserta didik perlu membaca soal apa yang disenangi dan menulis apa yang didapat dari pengamatan mereka. “Dengan cara demikian,  kemampuan literasi anak akan bisa berkembang dengan baik. Literasi itu berkaitan dengan  bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di dalam diri anak dan lingkungan  mereka untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca dan menulis. Mengapa membaca dan menulis yang dilakukan pertama? Jawabnya,  tidak ada literasi lain tanpa membaca dan menulis. Inilah  menjadi kunci pembuka. Tidak ada ilmu pengetahuan di dunia ini tanpa membaca dan menulis.,” kata Danu.

Pada kesempatan itu Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Drs. Umar Solikhan, M.Hum. mengatakan bahwa  kegiatan ini bertujuan untuk menularkan kecintaan terhadap literasi kepada masyarakat, terutama siswa dan para guru di sekolah. "Kegiatam ini dilaksanakan dalam mendukung kegiatan literasi nasional. Kami diberi tugas untuk menerbitkan bahan bacaan dan juga melatih para instruktur literasi nasional. Di setiap provinsi kami mengajak para instruktur literasi untuk berbagi ilmu kepada guru-guru di sekolah," kata Umar dalam  acara penutupan, Rabu (25/10).

Peserta kegiatan tersebut sebanyak lima puluh orang guru  SD di   dua belas kecamatan di Pekanbaru, Provinsi Riau. "Kami bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru  untuk menunjuk perwakilan dari sekolah di Pekanbaru sebagai peserta," ujar Umae menambakan.

Untuk menerbitkan bahan bacaan, menurut Umar,  biasanya cerita yang bersumber dari cerita rakyat yang memuat kearifan lokal. "Setiap tahun kami melakukan sayembara. Daerah  Riau selalu mengutus penulis terbanyak. Pada  tahun 2017, misalnya, ada 120 penulis se-Indonesia, dari Riau ada 12 naskah yang masuk dari 10 orang/pemulis. Setiap tahun ada sekitar 175 buku yang diterbitkan oleh Balai Bahasa," imbuhnya.

Sebelum pelaksanaan kegiatan ini pihak Balai Bahasa juga sudah melatih instruktur literasi dari komunitas literasi pada awal tahun 2018 ini. Pada saat ini Balai Bahasa mengajak guru dengan harapan bisa  jadi penggerak literasi di sekolah masing-masing dan menularkan ilmu yang diperolej kepada guru dan juga siswa.

Yurdani, S.Pd. dari Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru yang  mewakili Kadisdik Kota Pekanbaru menyinggung soal Visi Kota Pekanbaru yang Madani, yaitu “Menjadikan Kota Pekanbaru Kota Metropolitan yang Madani”. Penekanannya adalah bagaimana menjadikan generasi yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan. Yang terpenting adalah anak-anak yang berakhlak santun dan mulia,” katanya.

Kota Pekanbaru juga sudah menggiatkan kegiatan literasi, yaitu pagi mengaji, yang  juga bagian dari literasi di sekolah. Khusus untuk literasi, setiap sekolah sudah menerapkan kewajiban membaca minimal sepuluh menit pada pagi hari. “Melalui acara ini diharapkan sekolah  sudah mampu mendapat jalan keluar dari setiap hambatan yang ditemuai dalam penerapan literasi di sekolah. Contohnya, masih rendahnya minat baca guru itu sendiri. Untuk itu, guru harus mampu menjadi contoh dalam kegiatan literasi ini di sekolah,” kata Yurdani.

Materin yang disampaikan dalam Pelatihan Instruktur Literasi bagi Guru SD Se-Kota Pekanbaru adalah kebijakan literasi nasional, program literasi Provinsi Riau, dan pengenalan teks. (Irwanto, Balai Bahasa Riau)

Artikel Terpopuler