Balai Bahasa Jawa Barat Ajak Media Massa di Tasikmalaya Martabatkan Bahasa Indonesia

Tasikmalaya, Balai Bahasa Jawa Barat—Direktur Radar Tasikmalaya, Dadan Alisundana didampingi Kepala Balai Bahasa Jawa Barat, Sutejo membuka Diskusi Kelompok Terpumpun bagi Wartawan dan Redaktur Media Massa Sekota dan Kabupaten Tasikmalaya dengan tema “Peningkatan Sikap Positif Media Massa terhadap Bahasa Indonesia” di Hotel Crown, Tasikmalaya, pada Rabu, 28 November 2018. Kegiatan itu diikuti oleh 40 orang jurnalis.

Menurut Kepala Balai Bahasa Jabar, Sutejo, untuk memartabatkan bahasa negara perlu dibangun sikap positif berbahasa Indonesia, yaitu sikap berbahasa Indonesia yang diwujudkan dengan kesetiaan dan kebanggaan berbahasa Indonesia, serta kesadaran terhadap norma atau kaidah berbahasa Indonesia.

Ia meminta peran media massa di Tasikmalaya membantu pemerintah dalam hal ini Balai Bahasa Jawa Barat, untuk meningkatkan sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia melalui berita yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Radar Tasikmalaya, Dadan Alisundana mengucapkan terima kasih kepada Balai Bahasa Jawa Barat atas diselenggarakannya diskusi tersebut karena dapat menambah wawasan kebahasaan sekaligus memotivasi para jurnalis di Tasikmalaya untuk menyampaikan berita kepada masyarakat dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Saya mewakili rekan-rekan media di Tasikmalaya, sangat bersyukur sekali ketika diberi tahu tentang kegiatan ini dari Balai Bahasa Jawa Barat. Saya sudah hampir empat belas tahun mengelola media di sini. Kita asing dengan masalah bahasa ini, apalagi ternyata ada forum bahasa media massa, artinya barangkali karena kita di daerah kurang terpapar, padahal tugas wartawan itu berat karena kita juga berperan sebagai guru bahasanya publik. Jadi, ada dosa sosial jika kita membuat kesalahan berbahasa pada produk berita kita,”tutur Dadan.

Sementara itu, Jurnalis Pikiran Rakyat, Imam JP mengutarakan bahwa sudah semestinya media sekarang taat terhadap kaidah bahasa Indonesia dan mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia dalam pemberitaan karena umumnya masyarakat menganggap bahasa yang digunakan media itu adalah bahasa yang sudah benar.

“Jika penggunaan bahasa di media tidak benar, masyarakat cenderung mengikuti atau menirunya. Ada beberapa kata yang masih digunakan tidak semestinya, misalnya bupati membawahi sekda, padahal yang tepat adalah bupati membawahkan sekda,”kata Imam.

Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan sikap positif masyarakat khususnya jurnalis di Tasikmalaya terhadap bahasa Indonesia. (an)


 

Artikel Terpopuler