Peran Pemangku Kepentingan dalam Melestarikan Bahasa dan Sastra

Sebanyak 250 peserta menghadiri Seminar Hasil Konservasi Bahasa dan Sastra 2018 pada Senin, 3 Desember 2028 di Aula Sasadu, Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Gufran Ali Ibrahim. Menurut Gufran, tujuan pertemuan ini adalah untuk menyampaikan hasil konservasi bahasa dan sastra yang telah dilakukan Badan Bahasa sepanjang tahun 2018 Tema yang ditawarkan adalah “Melestarikan Bahasa dan Sastra, Mengukuhkan Jati Diri Bangsa”.

Ada beberapa topik bahasan yang diperbinangkan dalam pertemuan ini, antara lain Sistem Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Sistem Aksara Bahasa Nadebang (NTT) dan Kalabra (Papua); Kajian Vitalitas Bahasa Adang (NTT) dan Bahasa Benggaulu (Sulawesi Barat); serta Kajian Sastra Dolo-Dolo (NTT); Konservasi Manuskrip di Sumatra Utara  dan Sulawesi Selatan; Konservasi Sastra Lisan di Nias, Jawa Barat, dan Maluku Utara. 

Pada salah satu sesi diskusi, salah satu pemakalah, Munawar Holil,  peneliti dan dosen Ikthisar Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, menjelaskan bagaimahna cara menjaga manuskrip yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. “Kunci pelestarian manuskrip ada pada para pemangku kepentingan,” ujar Holil yang biasa dipanggil Kang Mumu itu. Ia pun menambahkan, sayangnya koordinasi pemangku kepentingan di Indonesia masih kurang. “Kita perlu saling bersinergi untuk meningkatkan pelindungan,” katanya sebelum sesi diskusi berakhir.

Menjalin kerja sama dengan pemangku kepentingan dianggap penting untuk memudahkan usaha pelindungan terhadap bahasa dan sastra di Indonesia. Oleh sebab itu, Badan Bahasa akan lebih persuasif mendekati para tokoh kunci yang kiranya diharapkan dapat mendukung program- pelestarian bahasa dan sasatra daerah yang digagas oleh Badan Bahasa. (rp)

Artikel Terpopuler