Balai Bahasa Sumut Buka Kelas Menulis Drama

Medan – Sehari setelah  membuka Kelas Menulis Esai/Kritik, Kepala Balai Bahasa Sumatera, Dr. Fairul Zabadi, kembali membuka Kelas Menulis Drama, Minggu, 3 Februari 2019, di Aula Balai Bahasa Sumatera Utara, Medan. Program yang akan berlangsung selama lima kali pertemuan ini diikuti 30 orang peserta dari berbagai kalangan, seperti pelajar, mahasiswa, guru, dan pegiat seni drama.

“Kami tidak mengira, antusias peserta yang ingin mengikuti pelatihan ini sangat tinggi. Hal itu terlihat belum seminggu publikasinya ditayangkan di laman dan media sosial seperti facebook, twitter, dan instagram, pendaftar sudah melebihi 50 orang,” tutur Fairul. “Namun, panitia hanya memilih tiga puluh peserta  yang dipilih berdasarkan komitmen dan konsistensinya mengikuti pelatihan sebanyak lima kali pertemuan,” jelasnya lagi.

Selain Kelas Menulis Drama, Balai Bahasa Sumatera Utara pada tahun 2019 juga membuka Kelas Menulis Esai, Kelas Menulis Puisi, Kelas Menulis Artikel Ilmiah, dan Kelas Menulis Prosa. Fairul berharap  kelas-kelas ini  akan menjadi ruang pembelajaran, bukan kelas untuk mengajari. Yang lebih dipentinglan ialah  membimbing atau mementori. Selanjutnya, dari kelima kelas ini akan diharapkan dapat dihasilkan lima judul buku antologi. 

“Saya mengajak seluruh peserta untuk menjadi peserta yang tekun dan militan dalam menulis naskah drama. Komitmen  Saudara akan mampu membawa warna baru dalam perjalanan sastra di Sumatera Utara,” ungkap Fairul.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Kelas Menulis Drama, Wartono, mengatakan bahwa kelas ini akan mempelajari metode dan teknik penulisan naskah drama yang baik. Pelatihan akan berlangsung selama lima pertemuan penuh secara berkala (Februari s.d. Mei 2019), setiap hari Sabtu/Minggu, pukul 08.00 s.d. 16.00 WIB di Aula Balai Bahasa Sumatera Utara.

Kelas ini diampu dan dimentori oleh Agus Mulia (Peneliti Balai Bahasa Sumatra Utara dan pegiat teater/film) dan Muram Batu, yaitu penulis drama yang sampai hari ini masih produktif berkarya. Naskah dramanya, "Lena Tak Pulang", banyak diulas oleh kritikus sastra dan menjadi bahan ajar di sekolah. Naskah dramanya ini  kerap dinobatkan menjadi naskah wajib pada berbagai festival drama. Tanggal 16-–20 Januari 2019 lalu,  "Lena Tak Pulang" dipentaskan oleh Revolution Stage, salah satu kelompok teater di Malaysia. Selain itu, Muram Batu juga menulis cerpen dan novel. Agustus 2018, kumpulan ceritanya “Hujan Kota Arang” diterbitkan Penerbit Basabasi, Yogyakarta.

Wartono juga menambahkan, setelah menerima pengantar dan tip menulis naskah drama, ketiga puluh peserta  ini ditugasi menulis draf naskah 10 menit pertama (5--6 hlm.), kemudian konsultasi/bimbingan naskah berlanjut di grup WA. Pada pertemuan kedua setiap peserta akan mempresentasikan naskahnya, lalu dibedah/direvisi bersama para mentor.  “Menulis naskah drama itu susah, tetapi akan lebih susah kalau tidak ditulis,” kata Wartono dengan mengutip ucapan mentor Muram Batu.

Artikel Terpopuler