Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Berupaya Mengembangkan Literasi Baca-Tulis Mulai dari Tingkat Nasional sampai dengan Tingkat Daerah

Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra mengadakan kegiatan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional di Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada tanggal 8—14 April 2019. Kegiatan ini diikuti oleh 120 orang peserta yang terdiri atas guru, pegiat literasi, dan penyuluh bahasa yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional ini dibuka oleh Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan yang dihadiri oleh para pejabat di lingkungan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. Tujuan diadakannya kegiatan bimbingan teknis  ini adalah untuk menghasilkan instruktur literasi baca-tulis tingkat nasional yang andal dan mampu memberikan pelatihan literasi baca-tulis kepada para fasilitator literasi baca-tulis di tingkat regional. Dalam kegiatan bimbingan teknis ini peserta akan dibekali pemahaman dan pelatihan yang cukup tentang literasi baca-tulis (baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat), pemahaman berbagai macam jenis teks dan menulis kreatif, serta berlatih bernalar aras tinggi (BAT).

Pemerintah mempunyai peran penting dalam upaya membangun pendidikan karakter bangsa. Oleh karena itu, pemerintah bersama-sama dengan masyarakat harus ikut ambil bagian dalam Gerakan Literasi Nasional untuk menciptakan ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berorientasi pada penumbuhan budi pekerti. Sejalan dengan itu, di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4 ayat (5) dinyatakan bahwa upaya mencerdaskan bangsa dilakukan melalui pengembangan budaya baca, tulis, dan hitung bagi segenap warga masyarakat. Dalam rangka itu pula, pada tanggal 18 Agustus 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan suatu gerakan penumbuhan budaya baca-tulis yang bertajuk “Gerakan Literasi Sekolah” dengan tema “Bahasa Penumbuh Budi Pekerti”. Gerakan ini merupakan implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Peraturan yang menginisiasi kegiatan membaca bagi siswa selama lima belas menit sebelum masuk ke kegiatan belajar-mengajar tersebut merupakan bagian penting dari permulaan penumbuhan budaya literasi. Adapaun salah satu kegiatan yang mendukung penumbuhan budaya literasi adalah kegiatan bimbingan teknis literasi baca-tulis yang dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Kegiatan bimbingan teknis literasi baca-tulis ini secara garis besar dibagi menjadi tiga tahap, yaitu (1) Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional (diikuti oleh 120 peserta), (2) Bimbingan Teknis Fasilitator Literasi Baca-Tulis Tingkat Regional (diikuti 480 peserta yang terbagi dalam enam regional), dan (3) Praktik Baik Berliterasi Baca-Tulis (dilaksanakan secara masif oleh Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra dan 30 Balai/Kantor Bahasa di daerah). Jadi, kegiatan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional yang akan dilaksanakan selama tujuh hari ke depan ini merupakan tahap awal dari rangkaian kegiatan bimbingan teknis literasi baca-tulis yang dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kegiatan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional ini melibatkan beberapa praktisi, akademisi, dan tokoh literasi, seperti Prof. Dr. Marsudi Wahyu Kisworo, Prof. Emi Emilia, M.Ed., Ph.D., Drs. Krisanjaya, M.Hum., Bambang Trimansyah, S.S., Habiburrahman El Shirazy, Firman Venayaksa, Gol A Gong, Wien Muldian, dan Billy Antoro. Dari 120 orang peserta Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional ini akan dipilih 30 peserta terbaik untuk melatih para fasilitator literasi baca-tulis di enam regional, yaitu regional Sumatra, regional Kalimantan, regional Jawa, regional Bali-NTT-NTB, regional Sulawesi-Maluku, dan regional Papua. Selanjutnya, baik instruktur maupun fasilitator literasi baca-tulis tersebut melakukan praktik baik berliterasi baca-tulis secara masif di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat di daerahnya masing-masing dengan bekerja sama dengan Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra serta 30 Balai/Kantor Bahasa di daerah. (ru)

Artikel Terpopuler