NASKAH TERBAIK SAYEMBARA BAHAN BACAAN LITERASI 2019

Bandarlampung- Kantor Bahasa Lampung menetapkan dua belas naskah terbaik pemenang Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi 2019. Naskah tersebut terdiri atas tiga kategori sasaran pembaca, yakni usia 6—9 tahun, 10—12 tahun, dan 13—15 tahun.

Dewan juri menetapkan untuk kategori pembaca berusia 6—9 tahun terpilih empat naskah terbaik berjudul “Petualangan Ifan di Waikambas” (Ichvan Sofyan), “Musim Kemarau di Taman Bukit Selatan” (Tuti Sitanggang), “Koki Cilik Idola Nenek” (Marsus Efendi), dan “Mong Mong, Monyet yang Suka Kebersihan” (Dian Nurlela Sari). Empat naskah terbaik untuk pembaca berusia 10—12 tahun adalah “Misteri Pohon Bernyanyi” (Sustin Nunik), “Berburu Wisata dan Budaya Lampung” (Netti Kurniati), “Bagaimana Membuat Kue Tat?” (Destiani), dan “Tihang dan Sahabat” (Zainudin Hasan). Naskah terbaik untuk pembaca berusia 13--15 tahun diberi tajuk  yaitu “Hikayat Ratu Ali” (Suroso), “Mutira Lembah Pesagi” (Sustin Nunik), “Melancan yang Cerdik” (Dian Anggraini), dan “Legenda Sumur Putri” (Yuliadi M.R).

Kepala Kantor Bahasa Lampung, Dra. Yanti Riswara, M.Hum, mengatakan bahwa naskah tersebut telah dinilai oleh lima orang juri pada setiap kategori. Dewan juri berlatar belakang sebagai penulis cerita anak, peneliti sastra, dan praktisi kebahasaan.

Penilaian naskah mencakup tema, isi, gaya  penulisan, dan kesesuaian kaidah bahasa   Indonesia, serta keterbacaan. Selain itu, isi cerita, pilihan kata, dan tata kaimat harus sesuai dengan usia pembaca pada setiap kategori. Penilaian naskah juga mempertimbangkan kesesuaian naskah dengan tema yang telah ditetapkan. Khusus bagi pembaca 6—9 tahun ceritanya bertemakan kebersihan diri dan lingkungan yang diramu dalam cerita anak atau fabel, bagi pembaca 10—12 tahun tema cerita seputar tokoh, pahlawan nasional, pakaian tradisional, kekayaan bahasa, rumah tradisional, dan perubahan lanskap. Bagi pembaca kategori 13—15 tahun jenis cerita yang dilombakan berupa cerita rakyatMenurut Yanti,  naskah terpilih telah sesuai dengan tujuan pendidikan, yakni ramah lingkungan, tidak mengandung isu SARA, bias gender, pornografi, dan tidak mengandung unsur kebencian dan kekerasan. “Yang paling penting, naskah terpilih sarat dengan nilai kearifan lokal,” ujarnya.

Sayembara bahan bacaan literasi ini telah dilaksanakan sejak tahun 2017. Naskah terbaik setiap tahun dicetak dalam bentuk buku, lalu  didistribusikan ke berbagai sekolah dan komunitas baca yang ada di Provinsi Lampung. “Sekolah dan komunitas baca juga dapat secara aktif mengajukan permohonan bantuan buku ke kantor kami. Silakan datang dengan membawa surat permohonan. Kami akan melayani Anda  setiap hari pada  jam kerja,” saran Yanti.

Ketua Panitia, Hasnawati Nasution, pada kesempatan itu  mengatakan bahwa sayembara telah dimulai sejak Maret 2019. Para peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, guru, PNS, dan penulis pemula. “Syarat utama penulis harus ber-KTP Lampung.  Syarat ini mutlak,” katanya.

Hasnawati melanjutkan, tujuan dan syarat sayembara tersebut difokuskan pada bahan bacaan mengandung unsur budaya lokal. “Hal ini berkaitan dengan salah satu ciri bahan bacaan yang baik bagi anak, yakni pengenalan budaya lokal sejak dini untuk  menumbuhkan kesadaran anak agar  lebih mencintai bangsa dan negaranya. Selain itu, anak-anak juga akan menghargai keberagamana budaya yang ada di sekitar mereka,” demikian ujar peneliti bidang bahasa Kantor Bahasa Lampung ini. (Dian Anggraini)

Artikel Terpopuler