Upaya Membawa Bahasa Indonesia ke Mancanegara

Pengembangan program pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menjadi upaya yang paling efektif dalam meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Hal ini terbukti dengan tercatatnya 355 lembaga penyelenggara program BIPA di 41 negara dengan total 72.746 pemelajar pada akhir tahun 2020 lalu. Dari jumlah tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah memfasilitasi 146 lembaga di 29 negara.

Angka tersebut menjadi fakta bahwa minat warga asing terhadap bahasa Indonesia sangat tinggi di berbagai belahan dunia. Melihat perkembangan ini, publikasi secara masif kepada masyarakat sebagai upaya pengembangan program BIPA perlu dilakukan, baik melalui media massa maupun media sosial.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) BIPA, Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra menyelenggarakan kegiatan Lokakarya Publikasi Program BIPA Melalui Media Massa dan Media Sosial pada Senin, 29 Maret—2 April 2021 di Swiss-Belhotel, Bogor. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan peserta dalam optimalisasi penggunaan media massa dan media sosial dalam rangka publikasi program BIPA.

Pelatihan perdana ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari lingkungan Badan Bahasa, perguruan tinggi, serta lembaga kursus dan pelatihan. Adapun materi lokakarya meliputi teknik menulis berita, fotografi untuk konten media massa dan media sosial pemerintah, peran humas pemerintah dalam menyebarkan kebijakan dan kinerja, cara membuat konten kreatif media sosial pemerintah, serta pengoptimalan media sosial sebagai media informasi bagi humas pemerintah.

Kegiatan tersebut menghadirkan delapan narasumber, yaitu Willy Pramudya dari Aliansi Jurnalis Independen, Fandi Hasib dari iNews TV, Noudhy Valdrino dari Facebook Indonesia, Ivan Lanin yang merupakan narabahasa, Gathot Subroto dari Photography Course, Marroli J. Indarto dan Yessica Bernadeta dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Abi Sapta Widura dari Digital Marketing School.

Koordinator KKLP BIPA, Doni Setiawan menyampaikan bahwa peta jalan KKLP BIPA terbagi menjadi empat jenis publikasi, yaitu publikasi ilmiah berupa bunga rampai penelitian ke-BIPA-an, alih wahana bahan ajar BIPA, publikasi program BIPA melalui laman BIPA Daring, dan publikasi program BIPA melalui media massa dan media sosial.

Ia menambahkan bahwa saat ini jumlah pengikut akun @bipakemdikbud sudah mencapai 11.000 orang, tetapi publikasi tersebut dirasa belum maksimal. Lebih lanjut, Doni berharap penggunaan media sosial terkait program BIPA dapat lebih dioptimalkan lagi karena media sosial merupakan aset paling cepat dalam penyebarluasan informasi.

Senada dengan hal itu, saat membuka kegiatan tersebut Plt. Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amalia juga mengutarakan harapan yang sama. Ia berharap agar peserta lebih cekatan dalam memanfaatkan media sosial untuk memublikasikan program-program BIPA melalui model-model publikasi yang didapat selama kegiatan berlangsung. Ia juga menilai bahwa media publikasi telah berkembang sangat pesat. Masyarakat yang dulu mendapatkan informasi di media arus utama, kini sudah beralih ke media sosial yang penyebaran informasinya sangat cepat. Oleh karena itu, program BIPA yang sudah menjadi program nasional harus dipublikasikan secara gencar, tidak hanya untuk pemangku kepentingan saja, tetapi juga untuk masyarakat luas.

Di akhir sambutannya, Dora sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berharap ilmu yang sudah diperoleh dari narasumber dapat diaplikasikan sehingga slogan Badan Bahasa Bermartabat, Bermanfaat dapat terealisasi dan keberadaan Badan Bahasa lebih terlihat oleh masyarakat melalui publikasinya.

Dalam kesempatan yang sama, salah satu peserta bernama Septian mengaku senang ketika mendapat undangan ini. Kesenangan ini juga terlihat saat ia begitu antusias mengajukan pertanyaan kepada narasumber. Ketika ditanya tentang harapannya, Septian berharap agar kegiatan tersebut dapat menambah wawasannya di bidang publikasi, khususnya fotografer dan penulisan berita. Selain itu, ia juga berharap durasi pelatihan selanjutnya dapat lebih lama karena materi yang diberikan oleh narasumber sangat menarik dan dapat menambah wawasan keilmuan sesuai bidang yang ditekuninya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Virhana, peserta lain yang merasa senang mengikuti lokakarya tersebut. Ia menilai kegiatan ini hendaknya dapat menjadi rutinitas tahunan karena perkembangan media sosial terus bergerak dan pelaku media sosial harus mengikuti perkembangan tersebut, khususnya melalui pelatihan-pelatihan. Selain itu, ia turut mengusulkan konten BIPA yang menarik bagi Badan Bahasa, seperti menjadikan pemelajar BIPA sebagai objek utama dalam pembuatan konten. Konten tidak hanya terfokus pada proses belajar mengajar saja, tetapi juga diselingi dengan video-video menarik pemelajar dari hasil proses belajar tersebut.

“Saya sangat senang ketika mendapatkan undangan ini, Saya merasa kuliah lagi karena ada beberapa materi yang pernah dipelajari di bangku perkuliahan. Menurut saya, konten BIPA adalah konten yang cukup seksi bagi masyarakat Indonesia, apalagi konten yang disuguhkan tertuju langsung pada pemelajar, misalnya saja video berbalas pantun, video tutorial memasak, dan video menjadi reporter secara sederhana. Itu akan sangat menarik dibandingkan laporan proses belajar,” imbuhnya. (DV)

Selingan

Daftar Selingan

  • zoonosis = zoonosis
  • work from office = kerja dari kantor (KDK)

  • work from home = kerja dari rumah (KDR)

  • ventilator = ventilator

  • tracing = penelusuran; pelacakan

  • throat swab test = tes usap tenggorokan

  • thermo gun = pistol termometer

  • swab test = uji usap

  • survivor = penyintas

  • specimen = spesimen; contoh

  • social restriction = pembatasan sosial

  • social media distancing = penjarakan media sosial

  • social distancing = penjarakan sosial; jarak sosial

  • self-quarantine = swakarantina; karantina mandiri

  • self isolation = isolasi mandiri

  • screening = penyaringan

  • respirator = respirator

  • rapid test = uji cepat

  • rapid strep tes =t uji strep cepat

  • protocol = protokol

  • physical distancing = penjarakan fisik

  • pandemic = pandemi

  • new normal = kenormalan baru

  • massive test = tes serentak

  • mask = masker

  • lockdown = karantina wilayah

  • local transmission = penularan lokal

  • isolation = isolasi

  • incubation = inkubasi

  • imported case = kasus impor