Ali Audah

Ali Audah lahir tanggal 14 Juli 1924 di Bondowoso, Jawa Timur. Ayahnya bernama Salim Audah dan ibunya bernama Aisyah Jubran. Pada saat usia Ali Audah tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Saat itu, keempat saudara Ali Audah belum ada yang bekerja. Mereka diasuh oleh ibu mereka dengan sabar dan bijaksana.

            Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ibu Ali Audah bersama kelima anaknya pindah ke kota Kewedanan. Di kota itu, ibu Ali Audah membuka restoran, tetapi tidak berumur panjang karena restoran itu selalu merugi. Selanjutnya, mereka pindah ke sebuah desa industri di dekat Surabaya. Di tempat itu, hidup mereka ditanggung oleh kakak Ali Audah yang bekerja di perusahaan tenun. Untuk meringankan beban keluarganya, Ali Audah bekerja sebagai buruh di kota Surabaya.

            Pada tahun 1941, saat berusia tujuh belas tahun, Ali Audah pindah ke sebuah desa di pegunungan yang letaknya dua belas kilometer sebelah timur kota Bogor, Jawa Barat. Maksud hatinya ingin meningkatkan taraf hidupnya. Namun apa daya di desa itu hidupnya lebih menderita. Ali Audah hanya bertahan satu tahun, kemudian ia kembali ke desanya, di dekat kota Surabaya.

            Secara formal pendidikan Ali Audah hanya sampai kelas dua madrasah karena setelah ayahnya meninggal, Ali Audah tidak lagi melanjutkan sekolahnya. Pada zaman Jepang, Ali Audah menggunakan kesempatan untuk belajar sendiri. la mendapat pelajaran politik, sosial, bahasa, dan sastra di Bondowoso, Surabaya, dan Solo.

            Akhir tahun 1949, setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia, Ali Audah pindah kembali ke Bogor. Sejak tahun 1952, ia menjadi wartawan, free lance dan menulis di berbagai harian, antara lain, Pedoman Abadi, Indonesia Raya, Siasat, Kompas, dan Sinar Harapan.

            Pada tahun 1953, setelah terkena penyakit jantung dan paru-paru, Ali Audah keluar dari perusahaan swasta dan hidup dari hasil karangannya. Pada saat itu juga Ali Audah banyak mempelajari kebudayaan dan masalah Islam.

            Tahun 1961-1978 Ali Audah mengajar agama Islam di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Selanjutnya, ia menjadi ketua Himpunan Penerjemah Indonesia dan menjadi Dewan Redaksi majalah Horison, serta menjadi dosen Humaniora di Institut Pertanian Bogor (IPB).

            Saat pendudukan Jepang, Ali Audah menulis cerpen, kemudian cerpen itu dikirimkannya ke majalah yang terbit di Jakarta. Namun, karangannya itu tidak ada satu pun yang dimuat. Hal itu tidak membuatnya putus asa. la terus berusaha dan semakin banyak membaca dan mengarang. Pada tahun 1946 Ali Audah mengikuti lomba mengarang sandiwara di Jawa Timur. Tanpa disangka ia menang dalam perlombaan itu. Dengan kemenangan itu, Ali Audah mencoba menulis sajak, kemudian sajak-sajak nya itu dikirimkan ke majalah Sastrawan yang terbit di Malang.

            Saat tinggal di Bondowoso, Ali Audah merasa terpencil. la tidak memiliki kawan yang bisa diajak bicara. Ali Audah pun pindah ke Solo. Di Solo, ia berkenalan dengan beberapa pengarang dan seniman, seperti Muhammad Dimyati. Menurutnya, Muhammad Dimyati mempunyai jasa yang sangat besar di bidang kesusastraan dan kebudayaan.

            Ali Audah mendapat hadiah pertama dalam menulis biografi dan filsafat penyair Pakistan, Muhammad Iqbal. Motivasi Ali Audah menjadi pengarang karena ia ingin berbicara. Banyak masalah yang menekan perasaan dan pikirannya, tetapi ia tidak mengerti cara menyatakannya. Ali Audah ingin menyatakan pikiran dan perasaan yang berkecamuk dalam jiwanya, tetapi ia tidak pandai dan tidak suka bicara. Ali Audah kini lebih dikenal sebagai seorang penerjemah daripada sastrawan. Dua puluh tahun lebih ia menerjemahkan buku-buku sastra, filsafat, dan agama. Lebih lanjut, Ali Audah mengkhususkan diri dalam menerjemahkan karya sastra Arab modern. Pengkhususan itu dilakukan atas dorongan Asrul Sani. Ali Audah juga mempunyai perhatian yang besar dalam pengajaran sastra di sekolah (SLTA).

 

Karya

a.    Cerpen

(1)   Darah dan tokoh. Zenith.

(2)   Cerita Nenek”. Indonesia.

(3)   Harapan”. Kisah.

(4)   Kandas”. Siasat.

(5)   Kedamaian Meretak”. Siasat.

(6)   Kegagalan yang Terakhir”. Kisah.

(7) Malam Penuh Bintang .Mimbar Indonesia.

(8)  “Supir Gila” .Roman,

(9)  "Kemarau". Siasat.

(10) “Malam Bimbang”. Siasat.

(11) "Mardiah". Indonesia.

(12) "Kawan Seperjalanan". Roman.

(13) "Mustar". Kanfrontasi.

(14) "Bumi Pelarian". Gema Islam.

(15) Malam Bimbang (kumpulan cerpen). 1962. Jakarta: NV Nusantara.

(16) Icih (kumpulan cerpen). 1972. Jakarta: Pustaka Jaya.

b.    Novel

       Jalan Terbuka. 1971. Jakarta : Litera.

c.    Puisi

      “Kalau Air Mengalir. Sasterawan.

d.    Drama

      “Hari Masih Panjang. Sastra.

f.     Terjemahan

         (1)   Suasana Bergema (kumpulan cerpen). 1957. Jakarta : Balai Pustaka.

         (2)   Peluru dan Asap (kumpulan cerpen). 1967. Bandung : Alma’arif.

         (3)   Genta Daerah Wadi (kumpulan cerpen). 1967. Singapura : Pustaka Nasional.

         (4)   Kisah-Kisah Mesir (kumpulan cerpen). 1977. Jakarta : Pustaka Jaya.

(5)   Di bawah Jembatan Gantung (kumpulan cerpen). 1983. Jakarta: Pustaka Firdaus.

(6)   Lampu Minyak Ibu Hasyirn. 1984.

(7)   Hari-Hari Berlalu Toha Husaian. 1985. Jakarta : Pustaka Jaya.

(8) Kisah-Kisah Empat Negara. 1982. Jakarta: Pustaka Jaya.

g.    Karya Lain

(1)   Iqbal, Quran dan Sastra Islam. Pelita. 1937.

          (2)   Sandiwara dan Film. Mimbar Indonesia.1953.

(3)   Seorang Penerjemah Bukan Sekedar Menyalin Kata-Kata. Haluan.1975.

(4)   Menulis Sejarah Filsafat. Kompas.1978.

(5)   Yang Mapan, yang Absurd, yang Mbeling, Biar Mereka Bicara”. Kompas. 1981.

(6)   Kutub-Kutub Sastra Sufi I. Berita Buana. 1986.

h. Pembicaraan Karya

(1)   Hari Masih Panjang Ali Audah oleh Martojo. Bintang Timur. 1963.

(2) Ali Audah Memotret Kemiskinan dan Kemuraman oleh Yakob Sumardja.

       Pikiran Rakyat. 1975.

(3)   Tema Bukan Utopia .Talare Terbuka, Novel Ali Audah oleh Yakob Sumardjo.

          Pikiran    Rakyat. 1976.

          (4)     Icih Ali Audah oleh Korrie Layun Rampart. Berita Buana.1980.

Artikel Terpopuler