Bahasa Indonesia di Dunia Siber: Komunikasi Berperantarakan Komputer-Internet

Salah satu ciri tatanan kehidupan baru dan perkembangan teknologi informasi adalah kemajuan dunia siber (cyber)Kemajuan itu ditandai secara nyata oleh perkembangan pesat dunia internet.  Teknologi gabungan internet-komputer-world wide web (waring wera wanua) telah memben­tuk generasi baru—lebih dahsyat jika dibandingkan dengan revolusi yang dipicu oleh temuan percetakan, radio, mobil, dan televisi. 

     Perkembangan internet di Indonesia pun menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke tahun.  Data jumlah pengguna internet di Indonesia sampai sekarang masih cukup variatif. Menurut Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia diperkirakan pada akhir tahun 2005 mencapai 16 juta orang dan pada akhir tahun 2007 telah mencapai 25 juta orang. Padahal, pada tahun 1998 pengguna internet di Indonesia baru berjumlah 512.000 orang (http://www.apjii.or.id). 

     Data yang dikutip dari AntaraNews (15 Desember 2011) pada akhir tahun 2011  menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia kini sudah mencapai 48 juta pengguna. Data itu berbeda dengan data sebelumnya dari Saling Silang (84,748 juta pengguna), MarkPlus Insight  (55 juta pengguna, meningkat dari tahun sebelumnya, 42 juta), dan Internet World Stats (39,6 juta pengguna). Riset Netizen pada tahun 2011  yang dilakukan oleh MarkPlus Insight juga  memberikan indikasi  bahwa  rata-rata pengguna internet di Indonesia mengakses melalui telepon pintar (smartphone) dan notebook. Dalam hal pertumbuhan domain, juga  telah terjadi peningkatan yang cukup tinggi. Kalau pada tahun 1998 baru terdaftar sekitar 1.479 domain, pada akhir tahun 2004 telah terdaftar sekitar 21.762 domain. Hal itu berarti bahwa rata-rata telah terjadi penambahan sekitar 3.000 domain baru setiap tahun di Indonesia.

     Mengingat internet  menghubungkan berbagai jaringan di seluruh dunia yang pemakainya dari berbagai bangsa dan bahasa, komunikasi pengguna internet dari berbagai bangsa dengan bahasa yang berbeda terjadi. Komunikasi itu menggunakan bahasa yang dimengerti oleh kedua belah pihak yang berkomunikasi.  Bahasa Inggris menjadi bahasa yang paling dominan penggunaannya dan  mencapai lebih dari 50%.  Persentase itu sebetulnya sudah menurun dibandingkan pada awal munculnya intenet yang mencapai 74%, tetapi beberapa negara tetap merasa khawatir bahwa dominasi bahasa Inggris itu dapat memengaruhi bahasa mereka. 

    Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia yang sebagian besar berbahasa Indonesia secara langsung mengindikasikan dan memengaruhi pula penggunaan dan perkembangan bahasa Indonesia di internet.  Hal yang menarik dari fenomena itu adalah bagaimana pengaruh bahasa lain, terutama bahasa Inggris, di internet terhadap bahasa Indonesia. Komunikasi berperantarakan komputer-internet (KBKI) di dunia siber itu dapat dikatakan sebagai genre baru dalam berkomunikasi.

     KBKI dapat diorganisasikan dengan mempertimbangkan (1) ranah yang direpresentasikan dalam dialog atau monolog dan (2) apakah komunikasi yang terjadi itu asinkron (peserta tidak berpotensi untuk saling berinteraksi secara waktu nyata) atau sinkron (komunikasi waktu nyata).  Berdasarkan pertimbangan di atas, KBKI dapat dikelompokkan ke dalam  (1) dialog satu-ke-satu (misalnya, pos-el [e-mail], dan SMS), (2) dialog satu-ke-banyak (misalnya, mailing list, MUD [multi user dungeon atau multi user dimension], MOO [MUDs, object oriented] dan chating), (3) situs web (misalnya, halaman web dan web logs), dan (4) jejaring sosial (facebook, myspace, twitter, flickr, bebo, badoo, sofamous, buzznet, dan flixster).

       Penggunaan bahasa Indonesia di dalam KBKI itu cenderung tidak mengikuti aturan tata tulis dan tata bahasa baku karena banyak memuat akronim, simbol emosikon (emoticon), serta kalimat dan diksinya dibuat singkat. Selain itu, akronim bahasa Inggris dan emosikon, baik yang menggunakan kombinasi tanda baca maupun grafik, banyak digunakan dalam KBKI. Ditambah dengan beberapa kata dari bahasa daerah dan juga bahasa Inggris, komunikasi di dalamnya menjadi lebih ekspresif .

    Perlu juga dicatat bahwa penggunaan emosikon menjadi sarana KBKI yang banyak digunakan dan dianggap lebih efektif untuk mengekspresikan berbagai ungkapan. Emosikon itu dibentuk dengan mengombinasikan tanda baca (kadang-kadang dengan karakter dan angka) untuk merepresentasikan emosi atau nuansa semantik, seperti kegembiraan, kesedihan, atau perasaan.  Emosikon yang paling sering digunakan, misalnya,:-) = J  ‘senang, humor’ dan :-( = L  ‘sedih, tersinggung’. Emosikon pertama kali muncul pada tahun 1982 hasil kreasi Scott Fahlman dari Universitas Carnegie Mellon, Pennsylvania, Amerika Serikat.          

   Seperti halnya bahasa alami lainnya, bahasa Indonesia juga mengalami berbagai “penyesuaian” atau evolusi di dalam KBKI.  Pengguna internet berbahasa Indonesia sebagian besar memahami bahasa Inggris dan banyak yang menjadi anggota dari berbagai mailing list (milis—diskusi lewat pos-el) berbahasa Inggris. Kebiasaan yang digunakan di dalam diskusi di milis  berbahasa Inggris diterapkan juga di dalam diskusi milis berbahasa Indonesia, seperti penggunaan singkatan berbahasa Inggris, seperti brb= be right back, btw= by the way, fyi=for your information, ruok =are you okay?, tia=thanks in advance, gal=get a life, dan oot=out of topic.

    Kebiasaan itu sering membuat bingung peselancar baru di dunia siber atau yang tidak memahami bahasa Inggris. Bahkan, terkadang diperlukan adaptasi untuk dapat memahami arti singkatan itu. Sebagai contoh, di dalam milis Toyota Kijang Cyber Communicty  (TKCC), penggunaan singkatan CMIIW (correct me if i'm wrong) dan OOT (out of topic) sering muncul.  Jika yang menjawab suatu pertanyaan kurang yakin akan apa yang dia jelaskan, peserta diskusi sering menggunakan CMIIW supaya jika terjadi kesalahan, peserta lain dapat mengoreksi atau  melengkapinya. Misalnya:

Cara ngetest: (CMIIW) - sebelum diisi, timbang accunya, boleh juga sama2x berisi untuk kelas hybrid/MF asalkan kapasitas sama.

    Jika peserta mengirimkan suatu topik yang menyimpang dari topik yang semestinya sekitar otomotif atau secara spesifik Toyota Kijang, terlebih dulu peserta mengawalinya dengan singkatan OOT sehingga peserta lain mengetahui bahwa topik yang dikirimkan itu di luar topik (Gunarso, 1998).

     Pengaruh bahasa Inggris juga terasa di dalam berbagai diskusi. Banyak muncul kata bahasa Inggris bercampur bahasa Indonesia di dalam berbagai diskusi. Hal itu disebabkan banyak peserta yang terbiasa berdiskusi di milis berbahasa Inggris dan sewaktu akan diterapkan di dalam bahasa Indonesia sulit menemukan padanan katanya. Selain itu, mungkin juga peserta kurang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang benar sehingga apa yang ada di benaknya langsung dituangkan ke dalam tulisan.

    Penggunaan tanda baca yang berlebihan juga menjadi hal yang paling umum dijumpai di dalam percakapan di dunia siber.  Misalnya:

Wooow....!!!  habis liburan koq langsung didedet PR kul.... kacian dech mas...... mbok yo eman2 mas, ntar sakit lho khan nggak enak kalo millist sepi dari Pak Dhe ...... hehehehe.... 

    Penggunaan kata bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah yang mengekspresikan suatu nuansa tertentu juga banyak bermunculan seperti, cieelee, weleh2, dan lho. Tidak ketinggalan bunyi tertawa yang berkepanjangan sering muncul seperti, hehehehe..., hihihihi..., dan wkwkwkwk,.

    Keberagaman suku dan bahasa daerah di Indonesia mengakibatkan beberapa peserta mempunyai latar belakang bahasa yang berbeda-beda.  Keberadaan anggota milis yang berasal dari daerah yang sama sering mengundang kerinduan untuk bercakap-cakap dengan bahasa daerah dan memunculkan percakapan berbahasa lokal yang sering kali tidak dimengerti oleh peserta lainnya.  Misalnya: Ges wae lah, caranya mah gampang pisan, telepon wae engke peuting, bilang aja putus ..... di jamin teu perlu hese sare deui jeung irit  pulsa.........!!  ‘sudah saja-lah, caranya gampang sekali, telepon saja nanti malam, katakan saja putus ... dijamin tidak perlu susah tidur lagi dan irit pulsa.....!!’.

    Gaya bercanda dengan bahasa daerah yang muncul sekali-kali dan dipadu dengan emosikon, baik yang konvensional maupun yang tidak, menambah hidupnya percakapan  langsung dan saling bertatap muka. Tata bahasa yang benar tidak lagi menjadi hal yang diperhatikan di dalam situasi diskusi.  Kebiasaan menggunakan tanda titik yang berlebihan dilakukan untuk memanjangkan bunyi dari suatu kata.  Pengulangan huruf vokal yang berlebihan juga menambah nuansa pengucapan yang panjang.  Partikel dari bahasa Betawi, Sunda, dan bahasa Jawa sering menjadi bumbu percakapan, seperti, dech, dong, sih, wae, mah, je, lho, lha, wong, dan mbok.

      Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah “apakah pemakaian bahasa Indonesia yang tidak mengikuti aturan tata bahasa dan bercampur dengan segala gaya itu dapat memengaruhi pemakaian dan perkembangan bahasa Indonesia?  Apa makna dan manfaatnya bagi perkembangan bahasa Indonesia?

      Pemakaian bahasa di dalam KBKI yang tidak mengikuti tatanan bahasa baku tidak saja terjadi dalam bahasa Indonesia, tetapi juga terjadi pada bahasa lain di dunia. Hal itu dipandang oleh beberapa ahli bahasa dapat merusak bahasa yang bersangkutan apabila nantinya pemakai terbiasa menggunakan bahasa tersebut dan menerapkannya di dalam bahasa lisan atau tulisan formal.  Namun,  beberapa pengamat bahasa  menganggap bahwa hal itu merupakan suatu evolusi atau bahkan revolusi bahasa yang terjadi di dalam media baru yang berbeda dari bahasa ucapan dan bahasa tulisan.  

        Disebutkan sebelumnya bahwa komunikasi di dunia siber dapat dipandang sebagai  genre baru, yaitu genre dengan sifat yang berbeda dari yang ada sebelumnya. Komunikasi itu menggabungkan fitur yang ada dari media tulisan dan percakapan yang bersemuka, tetapi menjadi campuran yang lebih sederhana dari keduanya. Beberapa analisis sering meninjau apakah KBKI lebih seperti bahasa ucapan atau seperti bahasa tulisan.  Dalam tinjauan yang menyeluruh, David Crystal (2001) memperlihatkan bahwa percakapan di internet (yang ditemukan di dalam pos-el, chating, dan MUD) lebih menyerupai bahasa tulisan daripada ucapan dan menyebutnya sebagai “netspeak” yang merupakan variasi bahasa baru.

        Komunikasi di dunia siber biasanya merupakan bentuk komunikasi dialogis.  Artinya, materi yang ditayangkan ke dalam waring wera wanua (world wide web) dapat dilihat oleh pengguna internet lainnya dan dimungkinkan juga untuk memberikan tanggapan. Saat ini terdapat berbagai teknologi yang memungkinkan untuk mengundang  interaksi pengguna (misalnya, konversi mata uang, kamus daring [online], program terjemahan, dan balikan pengguna). 

     Keberadaan laman (homepage) dan penambahan jumlah domain berbahasa Indonesia yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dapat menjadi korpus bagi ahli bahasa. Korpus dari dunia siber media daring (dalam jaringan) dapat diperoleh secara mudah melalui bantuan perangkat lunak penjelajah terputus (offline browser) yang  dapat digunakan untuk mengambil semua berita yang ada di dalam suatu situs. 

       Korpus yang dihasilkan juga cukup representatif kerena kata dan kalimat yang digunakan di dalamnya merupakan bahasa yang memang dipakai saat itu. Perubahan berita yang terus-menerus setiap hari menjamin ketersediaan korpus yang aktual sehingga sifat kedinamisan bahasa dapat dipantau setiap saat. Untuk meneliti korpus yang dihasilkan,  diperlukan perangkat lunak khusus, seperti KWIC (key word in context) sehingga diperoleh hasil penelitian yang maksimal.

      Selain itu, khusus untuk pembelajaran bahasa, kini telah berkembang berbagai variasi dari sistem pembelajaran bahasa dengan bantuan komputer  (computer-assisted language learning -- CALL) di dunia siber. Dengan bantuan sistem CALL, pembelajaran bahasa dapat lebih terfokus dan pengajaran tata bahasa lebih implisit, yang memungkinkan murid untuk lebih berani membangkitkan ucapan bahasa target dan interaktif serta dapat menciptakan lingkungan lebih alami untuk suatu bahasa tertentu melalui bantuan sistem multimedia komputer. 

      Pada awalnya CALL sebagian besar berupa CD interaktif multimedia  yang berisi pelajaran bahasa, video, dan  sistem pelatihan serta pengujian bahasa yang  dipadukan dengan fasilitas multimedia komputer. Dengan kemajuan teknologi informasi,  sebagian atau bahkan seluruh isi CD CALL tersebut dapat ditayangkan di dunia siber hingga pengguna internet dapat belajar secara langsung dengan mengakses situs tersebut. 

       Keberadaan CALL untuk pelajaran bahasa Indonesia di internet secara lengkap belum ada. Pusat Bahasa (sekarang Badan Bahasa) pada tahun 2004—2007 telah mengembangkan multimedia untuk pembelajaran BIPA dengan berbasis program CALL, tetapi masih dalam bentuk CD interaktif multimedia.  Namun, beberapa situs internet telah menyediakan beberapa bahan pelajaran bahasa Indonesia. Seperti layaknya buku pelajaran bahasa Indonesia, situs itu menyediakan pelajaran tata bahasa, memberikan contoh percakapan, dan memberikan latihan.

 

Daftar Pustaka

Crystal, David. 20001. Language and the Internet. Cambridge: Cambridge University Press.

Gunarso. 1998. “Pemanfaatan Teknologi dalam Pengembangan Bahasa Indonesia”. Prosiding Seminar Kebahasaan  Sidang Ke-37 MABBIM di Kuala Terengganu, Terengganu.

Jumariam dan Meity T. Qodratillah (Ed.) 1995. Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pink, Daniel H.  2005. A Whole New Mind.  USA: Riverhead Books (Penguin Group).
 

Artikel Terpopuler