Sebelum mengenal aksara, umat manusia pertama-tama hidup dalam keberlisanan. Setelah ditemukan aksara pun, manusia tidak bisa lepas dari keberlisanan karena keberlisanan bersifat alami dan tidak memerlukan proses pembelajaran yang rumit. Karena itu, meskipun keberlisanan telah berkembang menjadi aksara dan berbagai jenis kesenian, tetap saja kita tidak bisa melepaskan diri dari keberlisanan.

Pada masa kini pun, ketika dunia siber menyediakan ruang tak terbatas bagi proses interaksi antarmedia, dunia siber masih melanjutkan keberlisanan. Hal itu terlihat dari kecenderungan sebagian pengguna jejaring sosial yang menjadikannya sebagai ajang bergunjing dan bergosip. Bahkan, pergunjingan dan gosip (sebagai salah satu ciri kelisanan) dengan sadar ditampilkan dan dijadikan acara tetap oleh sebagian media cetak dan televisi, yang tidak sering mengumbar persoalan privat ke ranah publik.
Di panggung kampanye pun, misalnya, para politikus cenderung mengumbar janji “demi rakyat, untuk rakyat”, tetapi begitu terpilih tidak merealisasikan janjinya. Itu semua terjadi karena kita terlalu terkungkung dalam keberlisanan, yang pada akhirnya menggiring kita memasuki situasi “lidah tak bertulang”. Sudah saatnya “sedikit bicara banyak bekerja”.

Apa yang menarik dari relasi keberlisanan dan keberaksaraan dalam konteks Indonesia kini? Tampaknya kita perlu mengurangi porsi keberlisanan dan melipatgandakan porsi keberaksaraan untuk menjadi negara maju yang diperhitungkan di panggung global. Hal itu, antara lain, dapat dicapai dengan peningkatan minat baca dan tradisi menulis.