Jas merah! Akronim itu pernah dilontarkan Bung Karno. Kepanjangannya adalah jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Apa makna ucapan Bung Karno tersebut bagi kita? Kita acap kali disebut-sebut sebagai bangsa amnesia, bangsa pelupa yang tidak pernah belajar dari sejarah sehingga sering tersandung masalah yang sama dari waktu ke waktu.
Korupsi dan hiruk-pikuk kehidupan politik saat ini seperti pernah digambarkan dalam novel yang terbit tahun 1950-an, seperti, Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis, Royan Revolusi karya Ramadhan K.H., dan Pintu Terbuka karya Ali Audah sesungguhnya merupakan pengulangan situasi yang hampir sama yang terjadi pada dasawarsa 1950. Ketiga novel itu memaparkan runyamnya situasi sosial politik pada dasawarsa 1950. Korupsi merajalela. Partai politik dengan sistem politik yang parlementer berusaha menghimpun dana dengan menghalalkan segala cara (termasuk korupsi). Situasi saat itu hampir sama dengan situasi saat ini.
Novel Mochtar Lubis, Ramadhan K.H., dan Ali Audah telah berupaya merekam salah satu momen dalam perjalanan bangsa dan negara ini. Bung Karno juga telah mengingatkan kita untuk tidak melupakan sejarah. Namun, apakah kita telah memetik hikmah dari sejarah sebagaimana tergambar dalam beberapa novel yang merefleksikan perjalanan sejarah bangsa dan negara ini? Di sisi lain, demikian pintarkah para politikus saat ini sehingga mereka telah belajar dari sejarah dan berusaha melestarikan sisi gelap sejarah kita?