MABBIM

    Sejarah MBIM/MABBIM
    Kerja sama kebahasaan antara Indonesia dan Malaysia bermula sejak tahun 1959. Ketika itu, para pakar bahasa kedua negara berkeinginan menyesuaikan sistem tulis, ejaan, kedua bahasa dengan perkembangan ilmu bahasa. Keinginan itu mendorong pakar bahasa kedua negara merintis kerja sama utuk membakukan ejaan bersama.

    Kerja sama kebahasaan tersebut sempat terhenti sekitar tahun 1965 karena ada ketidaksepakatan politik antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia. Barulah pada tanggal 7 September 1966 diadakan pertemuan antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia, termasuk bidang kebahasaan. Untuk itu, kerja sama kebahasaan antara Indonesia dan Malaysia dilanjutkan lagi. Pada tanggal 27 Juni 1967 ditandatangani kesepakatan di bidang ejaan dengan melahirkan Ejaan Melayu-Indonesia (Ejaan Melindo). Kesepakatan yang berkaitan dengan ejaan ditandatangani oleh Ny. S.W. Rujiati Mulyadi dari Indonesia dan Tuan Syed Nasir bin Ismail dari Malaysia.

    Langkah berikutnya dari kerja sama tersebut adalah ditandatanganinya Komunike Bersama oleh Mashuri, S.H., Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, dan Encik Hussein Onn, Menteri Pelajaran Malaysia, pada tanggal 23 Mei 1972 di Jakarta sehingga kerja sama kebahasaan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia secara resmi diakui pada tingkat pemerintahan negara.

    Sebagai tindak lanjut penandatanganan tersebut, pada tanggal 26—29 Desember 1972 dilaksanakan sidang pertama kebahasaan di Malaysia. Salah satu putusan sidang tersebut adalah kesepakatan untuk membentuk suatu wadah yang dapat menaungi kegiatan kebahasaan di antara kedua negara. Oleh karena itu, pada tanggal 29 Desember 1972 disepakati sebuah wadah yang menaungi kegiatan kebahasaan antara Indonesia dan Malaysia, yaitu Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia (MBIM). Sebagai garis panduan kegiatan tersebut, dibuat Piagam Kerja Sama Kebahasaan yang ditandatangani oleh Dr. Amran Halim, selaku wakil dari Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, dan Datuk Haji Sujak bin Rahiman, selaku wakil dari Jawatan kuasa Tetap Bahasa Malaysia, dari Malaysia.

    Keberadaan kerja sama kebahasaan ini meningkatkan kepercayaan kepada pihak Brunei Darussalam dan Singapura untuk bergabung ke dalam wadah MBIM. Untuk itu, sejak tahun 1980 Brunei Darussalam dan Singapura menjadi pemerhati resmi dalam sidang-sidang MBIM. Kemudian, keputusan bergabung ke dalam wadah ini diambil oleh Brunei Darussalam dan pada tanggal 4 November 1985 Brunei Darussalam resmi menjadi anggota sehingga wadah ini berubah menjadi Majelis Bahasa Brunei Darussallam-Indonesia-Malaysia (Mabbim). Masuknya Brunei Darussalam ke dalam wadah kerja sama ini memungkinkan kerja sama serantau makin kukuh. Untuk memantapkan wadah Mabbim, pada tanggal 11 Juni 1987 dibuat piagam kerja sama yang baru sebagai peluasan dari Piagam MBIM.

    Untuk menangani kerja sama ini, di masing-masing negara dibentuk panitia atau jawatan kuasa. Di Indonesia, dibentuk Panitia Kerja Sama Kebahasaan (Pakersa), yang sebelumnya bernama Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. Di Malaysia, dibentuk Jawatankuasa Tetap Bahasa Melayu (JKTBM). Setahun setelah secara resmi tergabung dalam Mabbim, Brunei Darussalam kemudian membentuk Jawatankuasa Tetap Bahasa Melayu Brunei Darussalam (JKTBMBD).

    Didasari oleh semangat untuk kembali me-ngobarkan semangat menjaga bahasa kebangsaan di ketiga negara, Mabbim bersepakat bersama-sama menyusun barisan untuk kembali mengangkat bahasa kebangsaan ketiga negara itu. Tahun 2006, tepatnya tanggal 31 Juli 2006, tiga menteri dari ketiga negara anggota Mabbim bertemu di Jakarta. Mereka adalah Prof. Dr. Bambang Sudibyo, M.B.A., Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Dato’ Seri Setia Haji Awang Abu Bakar bin Haji Apong, Menteri Perhubungan Negara Brunei Darussalam, dan Yang Berhormat Dato Sri Hishammuddin Bin Tun Hussein, Menteri Pelajaran Malaysia.

    Ketiga menteri itu menandatangani Komunike Bersama yang merupakan pernyataan sikap ketiga negara untuk kembali memartabatkan bahasa kebangsaan ketiga negara.

    Struktur Organisasi Mabbim
   Mabbim terus berupaya menata dan menyempurnakan wadah kerja sama itu. Semula Mabbim menangani ejaan dan istilah, kini Mabbim meluas ke penelitian, kegiatan, dan penerbitan. Perluasan kerja sama itu tampak pada struktur organisasi berikut.

    Logo Mabbim
   Logo Mabbim yang berbentuk gabungan tiga payung dan tiga mata pena ini diresmikan pada Sidang Ke-37, 4—6 Maret 1998, di Kuala Tereng-ganu, Malaysia. Logo ini berkonsepkan kerja sama dan kesepakatan Mabbim sebagai wahana pem-binaan dan pemasyarakatan bahasa Indone-sia/Melayu serantau.

    Gabungan tiga mata pena dalam logo melambangkan tiga negara anggota Mabbim, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia. Bentuk payung melambangkan tempat bernaung. Jalur-jalur putih dan warna merah melambangkan Mabbim terus maju berkembang dan gigih menjayakan bahasa Indonesia/Melayu yg semakin meluas dalam era teknologi informasi. Bulatan kuning pada mata pena bermakna Mabbim di-pimpin dan digerakkan oleh pemimpin yang berwibawa.

    Penciptaan bentuk logo menunjukkan ketiga negara anggota Mabbim berjalan seiring dan bekerja sama erat dalam memajukan bidang pengkajian bahasa, tata bahasa, ejaan, dan peristilahan.

 

 


 

PERSIDANGAN DAN SEMINAR MABBIM TAHUN 2012:

MENAPAK 40 TAHUN, MENYERLAH JATI DIRI BANGSA

 

 

Pada tahun 2012, Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim) telah menapak usia 40 tahun. Selama rentang waktu yang panjang itu, kerja sama majelis kebahasaan serumpun ini telah menghasilkan banyak hal, di antaranya kajian kebahasaan bersama di ketiga negara serta kerja sama penerbitan dan pelatihan kebahasaan. Selain itu, tentu saja, senarai istilah berbagai bidang ilmu yang telah disusun untuk menunjang kelengkapan khazanah daya ungkap keilmuan yang diperlukan oleh masyarakat umum semakin berkembang.

   Oleh karena itu, persidangan dan seminar Mabbim tahun 2012 ini terbilang sangat istimewa karena bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun Ke-40 Mabbim.  Perhelatan Mabbim ini berlangsung pada tanggal 2—7 April 2012, di Hotel Antarbangsa Rizqun, Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Kegiatannya diisi serangkaian acara, yaitu Sidang Pakar ke-25 Mabbim, Seminar Kebahasaan Mabbim, dan Sidang Eksekutif ke-51 Mabbim.  Selain delegasi Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, seperti tahun-tahun sebelumnya, turut hadir pula empat orang delegasi dari Singapura sebagai pemerhati.

    Perayaan Ulang Tahun Ke-40 Mabbim dibuka secara resmi oleh Yang Mulia Awang Haji Mohd. Rozan bin Dato Paduka Haji Yunos (Setiausaha Tetap dari Kementerian Kebudayaan, Belia, dan Sukan) sebagai wakil pribadi Yang Berhormat Pehin Orang Kaya Pekerma Laila Diraja Dato Seri Setia Awang Haji Hazairbin Haji Abdullah (Menteri Kebudayaan, Belia dan Sukan, Negara Brunei Darussalam).

  Dalam pidato sambutannya, Yang Mulia Awang Haji Mohd. Rozan mengatakan bahwa tema “Mentransformasikan Budaya Ilmu untuk Menyerlahkan Jati Diri Bangsa” dalam perayaan kali ini mempunyai ekspektasi yang jauh lebih ke depan. Pertama, amalan (budaya) ilmu hendaknyalah ditingkatkan dan dalam bentuk baru yang sesuai dengan perkembangan zaman sekarang. Kedua, peningkatan transformasi budaya ilmu itu tidak boleh dibuat sewenang-wenang. Oleh karena itu, peningkatan transformasi budaya ilmu sepatutnya adalah peningkatan transformasi budaya ilmu yang bertujuan untuk menyerlahkan jati diri bangsa.

          “Tidak hanya menyikapi transformasi budaya ilmu itu saja yang penting, tetapi juga mentransformasikan budaya ilmu itu jauh lebih pentingnya karena budaya (dalam) ilmu itu dapat menyebabkan loncatan paradigma cara berpikir dan juga menjadi indikasi perkembangan peradaban dan bangsa,” ujar beliau.

   Dalam kesempatan itu, beliau juga berharap agar Mabbim dapat terus memperkasa dan memajukan Bahasa Indonesia/Melayu sebagai sarana komunikasi yang ampuh dalam segenap bidang kehidupan.

   Usai meresmikan Perayaan Ulang Tahun Mabbim, Yang Mulia Awang Haji Mohd. Rozan meresmikan peluncuran empat buku terbitan Mabbim, yaitu Keberterimaan Istilah Mabbim Bidang Ilmu Dasar, Kamus Pertanian: Agronomi, Kamus Farmasi: farmaseutik, dan Syarahan Mabbim. Acara peresmian diakhiri dengan kunjungan ke gerai pameran.

   Dalam pameran itu ditampilkan  berbagai kamus dan buku hasil kajian kebahasaan di ketiga negara anggota Mabbim dalam rangka memodernkan dan memperkaya leksikon bahasa Indonesia/Melayu. Selain itu, disajikan pula berbagai poster yang berisi latar belakang, sejarah, dan perkembangan Mabbim dalam perjalanannya memartabatkan bahasa Indonesia/Melayu melalui penerbitan buku pedoman kebahasaan dan senarai istilah.

Anugerah Mabbim

Dalam acara tahun ini, Mabbim memberikan penghargaan kepada para tokoh dan ilmuwan Mabbim yang dianggap telah berjasa mengembangkan bahasa Indonesia/Melayu di ketiga negara. Penghargaan itu diberikan setiap lima tahun sekali dalam rangka Ulang Tahun Mabbim. Kali ini, anugerah Tokoh Mabbim diberikan kepada Pengiran Dato Paduka Haji Badaruddin Pengiran Haji Ghani (Brunei Darussalam), Dr. Mataim Bakar (Brunei Darusssalam), dan Dato' Haji A. Aziz bin Deraman (Malaysia). Sementara itu, Anugerah Ilmuwan Mabbim diberikan kepada pakar bidang ilmu yang berjasa dalam Mabbim, yakni Pengiran Hajah Zabaidah Pengiran Haji Kamaludin dan Prof. Madya Dr. Haji Jaludin bin Haji Chuchu (Brunei Darusalam); Prof. Dr. Menaldi Rasmin dan Dr. Jan Hoesada (Indonesia), Prof. Emeritus Dr. Abdullah Hassan dan Prof. Dr. Shaharir bin Mohamad Zain (Malaysia). Anugerah Khusus kali ini diberikan kepada Dayang Hajah Saddiah Ramli (Brunei Darussalam) yang telah terlibat dalam kepengurusan Mabbim selama 22 tahun.

Sidang Pakar Ke-25

Sidang Pakar diselenggarakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 2—3 April 2012.  Sidang Pakar bekerja berdasarkan keputusan Sidang Eksekutif. Sidang itu terdiri atas empat komisi, yaitu Komisi  Peristilahan, Komisi Pembinaan, Komisi Penelitian, dan Komisi Penerbitan. Komisi  Peristilahan bertugas merancang  penyusunan istilah dan kamus bidang ilmu. Komisi Penelitian bertugas merancang  dan melakukan penelitian ilmiah dan praktis yang berkenaan dengan Mabbim. Komisi Pembinaan bertugas melaksanakan kegiatan kebahasaan dengan semangat Piagam Mabbim. Sementara itu, Komisi Penerbitan  bertugas melaksanakan hasil keputusan Sidang Eksekutif dalam bidang penerbitan dalam rangka pemasyarakatan hasil Mabbim sesuai dengan Piagam Mabbim.

          Sidang Pakar dibuka oleh Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei Darussalam, Dayang Hajah Aminah binti Haji Momin. Delegasi Indonesia untuk Sidang Pakar diketuai oleh Dra. Meity Taqdir Qodratillah, M.Hum (sekaligus anggota Komisi Peritilahan) dan beranggotakan  Dr. Ganjar Harimansyah (Komisi Pembinaan), Dra. Menuk Hardaniwati, M.Pd. (Komisi Penerbitan), dan Adi Budiwiyanto, M.Hum. (Komisi Penelitian). Hasil yang diperoleh dari Sidang Pakar akan dilaporkan dan dibahas di dalam Sidang Eksekutif untuk diminta pertimbangan dan persetujuan.

Seminar Kebahasaan

Di dalam Seminar Kebahasaan yang bertema “Mentransformasikan Budaya Ilmu untuk Menyerlahkan Jati Diri Bangsa” dibentangkan  sebelas makalah dari perwakilan Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura. Indonesia diwakili oleh tiga orang pemakalah, yaitu Djauhari Sumintardja, Ph.D. dengan judul makalah “Memperkasa Bahasa Melayu melalui Rupa, Nama dan Makna Seni Hias Bangunan dalam Kebudayaan Melayu”, Prof. dr. Menaldi Rasmin dengan judul makalah “Optimalisasi Penggunaan Bahasa dalam Transformasi Ilmu”, dan Dr. Sugiyono dengan makalah “Keberterimaan Istilah Mabbim Bidang Ilmu Dasar: Penelitian Korpus dan Persepsi”. Prof. Arief Rachman yang semula akan membentangkan makalah yang bejudul “Performa Bahasa Indonesia dalam Merefleksikan Ilmu dan Karakter” tidak dapat hadir karena kesibukan beliau.

          Seminar Kebahasaan Mabbim yang berlangsung pada tanggal 4—5 April 2012  dihadiri lebih dari 300 peserta dari ketiga negara anggota Mabbim, negara Thailand, dan Singapura.  Seminar menghasilkan beberapa rumusan.  Rumusan itu dibacakan pada saat acara jamuan makan malam di Restoran Tarindak D’Seni, Bangunan Pusat Kesenian, Brunei Darussalam. Rumusan itu, di antaranya, mengamanatkan untuk tetap meningkatkan kesadaran penggunaan teknologi, tetapi tidak melunturkan bahasa dan budaya Indonesia/Melayu dan memanfaatkan teknologi itu untuk mentransformasikan budaya ilmu agar jati diri bangsa semakin menyerlah di seluruh dunia. Selain itu, rumusan seminar menyatakan perlu ada usaha terus-menerus dan menggunakan strategi baru untuk penyebarluasan istilah yang diciptakan Mabbim serta perlu mengoptimalkan penggunaan kearifan lokal untuk menyerlahkan jati diri bangsa.

Sidang Eksekutif Ke-51

Sidang Eksekutif Ke-51 Mabbim berlangsung selama dua hari, yakni tanggal  6—7  April 2012, diselenggarakan setelah kegiatan Seminar Kebahasaan Mabbim. Sidang yang dilakukan setahun sekali secara bergiliran di tiap-tiap negara anggota Mabbim itu bertugas meneliti dan mengesahkan hal yang berkenaan dengan kebijakan bahasa, hasil Sidang Pakar, Musyawarah Sekretariat, dan rumusan Seminar Kebahasaan.

        Beberapa keputusan penting yang dihasilkan dalam sidang tahun ini, di antaranya penambahan kategori penghargaan, yaitu Anugerah Penggiat Mabbim. Selain itu, Sidang Eksekutif memutuskan tema Seminar Kebahasaan Mabbim tahun 2013, yaitu “Mengembangkan ilmu watan  melalui teknologi maklumat/informasi dan komunikasi”. Sidang yang dipimpin oleh Dayang Hajah Aminah binti Haji Momin (Brunei Darussalam) juga mencatat perlunya Mabbim menjadi nukleus gerakan memerkasakan bahasa dalam konteks masyarakat secara keseluruhan, misalnya mengadakan rangkaian kerja sama dengan universitas, institusi, dan kalangan industriawan agar mereka sadar akan pentingnya memasyarakatkan istilah bidang ilmu yang telah dicipta.

          Perutusan Indonesia dalam Sidang Eksekutif diketuai oleh Dr. Sugiyono dan beranggotakan Dra. Meity T. Qodratillah, M.Hum., Dr. Ganjar Harimansyah, Drs. Mustakim, M. Hum., dan Dra. Menuk Hardaniwati, M.Pd.

       Sidang Eksekutif Ke-51 Mabbim ini pun memutuskan bahwa Sidang Pakar ke-26, Seminar Kebahasaan, dan Sidang Eksekutif ke-52 akan diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 2—7 April 2012. (AB/GH)