Munculnya sastra Indonesia, sekitar tahun 1870 yang ditandai dengan karya sastra yang ditulis oleh pengarang Medan dan Cina peranakan, dapat dipastikan dibidani oleh laki-laki. Alasan yang paling kuat adalah bahwa pada saat itu hanya laki-laki yang bisa menikmati pendidikan. Sementara itu, kaum perempuan terkungkung di lingkungan rumah tangga karena sistem sosial budaya yang berlaku. Hingga hampir selama satu abad dunia sastra Indonesia adalah dunia laki-laki.

     Demikian kuatnya dominasi dunia laki-laki sehingga pada tahun 1970-an larik-larik sajak “Biarin” penyair Yudhistira mempertontonkan supremasi dan dominasi. Aku lirik yang laki-laki, sekaligus melecehkan perempuan dengan pernyataan yang vulgar. Bahkan, ketika menjamurnya majalah wanita pada tahun 1970-an,  penulis-penulis perempuan pada umumnya justru menunjukkan keberpihakannya pada laki-laki saat menghadirkan situasi konflik dalam karya mereka (konflik rumah tangga, misalnya).

     Situasi berbalik pada tahun 1990-an dengan munculnya perempuan muda yang menjadi penyair, cerpenis, dan novelis, seperti Dorothea Rosa Herliany, Oka Rusmini, Ayu Utami, dan Djenar Maesa Ayu, yang melontarkan pandangan feminis dan kesetaraan gender dalam karya mereka. Bahkan, beberapa tahun silam ketika pemenang Sayembara Mengarang Novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta semuanya perempuan, Sapardi Djoko Damono sebagai juri langsung berkomentar, “Inilah saatnya kebangkitan perempuan dalam perkembangan sastra kita.”