Bacaan Liar, Balai Pustaka, dan Pujangga Baru

Munculnya penerbit Balai Pustaka pada tahun 1917 merupakan penjelmaan dari Komisi Bacaan Rakyat yang didirikan sebelumnya. Balai Pustaka itu didirikan sebagai reaksi penjajah Belanda terhadap maraknya penerbitan buku swasta ketika itu yang didominasi oleh peranakan Cina. Belanda menyebut terbitan itu sebagai bacaan liar yang menyebarkan racun kepada masyarakat. Menurut Belanda cerita dalam buku-buku itu dianggap merusak moral masyarakat. Bahasa yang digunakan pun bukan bahasa yang baik. Oleh karena itu, pemerintah Belanda merasa perlu menyelamatkan masyarakat dari bacaan liar tersebut dengan cara menerbitkan buku tandingan yang memberi perhatian sungguh-sungguh pada isi dan bahasanya.

     Sejak itu muncullah roman-roman Balai Pustaka. Roman-roman itu ditulis oleh para pengarang yang umumnya berasal dari Sumatra, tempat yang dianggap tanah asal bahasa Melayu tinggi, bahasa yang digunakan dalam roman-roman itu. Dengan cara penyebaran yang langsung ditangani pemerintah, roman-roman itu dengan cepat dapat menjangkau masyarakat  luas.

     Dalam perkembangannya banyak yang tidak puas dengan apa yang telah dikerjakan Belanda. Ketidakpuasan itu, antara lain, disebabkan oleh roman-roman Balai Pustaka yang cenderung seragam, baik isi maupun bahasanya. Di antara yang tidak puas itu terdapat kelompok yang menyebut dirinya Pujangga Baru. Dengan cita-cita ingin memajukan kesusastraan Indonesia, kelompok itu menerbitkan karya-karyanya melalui majalah Poedjangga Baroe. Karya-karya itu merupakan hasil pemikiran dan perenungan para intelektual anak bangsa ketika itu. Karya yang mereka hasilkan, baik esai, sajak, roman, maupun drama jelas-jelas berseberangan dengan Balai Pustaka. Mereka juga menerbitkan Belenggu karya Armijn Pane yang sebelumnya ditolak Balai Pustaka.