Haji Adjim Arijadi

Haji Adjim Arijadi lahir di Mali-Mali, Karang Intan, Martapura, Banjar, pada tanggal 7 Juli 1940. Dengan kondisi tubuhnya yang semakin lanjut usia, ia mulai mengalami sakit dan sempat dirawat di Rumah Sakit Anshari Saleh, Banjarmasin, hingga akhirnya Haji Adjim Arijadi meninggal pada hari Jumat, tanggal 1 Januari 2016, pukul 22.58 WIT. Almarhum merupakan seorang sastrawan dan budayawan Indonesia. Nama H. Adjim Arijadi lebih dikenal dengan identitas kesenimanannya dibandingkan identitas kesastrawanannya. Hal tersebut dikarenakan H.Adjim Arijadi banyak menggeluti dunia sastra lakon sekaligus seni peran, dan sutradara teater, film, sinetron, lukis, seni kriya,serta seni pertunjukkan pada umumnya disamping sastra puisi. Semasa hidupnya, almarhum mendapatkan gelar Datuk Mangku Adat Kesultanan Banjar dan juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Lembaga budaya Banjar.

Pria yang dikenal sebagai Bapak teater modern Kalimantan Selatan ini, merupakan anak ke 6 dari 11 bersaudara, dari pasangan H. Arsyad bin Salih (alm.) dan Hj. Komala (alm.). Ayahnya adalah seorang petani dan juga pernah menjadi seorang Pembakal (Lurah) di Kabupaten Banjar pada zaman pemerintahan Belanda. Ibunya juga seorang petani dan juga ibu rumah tangga. Ketika zaman pemerintahan Jepang, ayahnya pernah di penjara karena dituduh mendukung pemerintahan Belanda dan tuduhan lainnya yang ternyata tidak terbukti, hingga akhirnya rumah dan harta benda orang tua juga diambil oleh pihak pemerintahan Jepang.Kondisi kekejaman pihak Jepang tersebut membuat kedua orang tuanya tidak sanggup lagi untuk tetap tinggal di daerah tersebut, hingga akhirnya setelah bapaknya keluar dari penjara, mereka merantau ke kampung lain namun masih dalam lingkungan Kabupaten Banjar, di daerah pedalaman revolusi desa Alam Roh, kampung Lok Ben Tan,yang sekarang ini terdapat pasar terapung, yang saat ini dimekarkan menjadi tiga daerah yaitu Lok Ben Tan Luar, Lok Ben Tan Dalam, dan Paku Alam. Setelah merantau, kondisi kehidupan perekonomian keluarga orang tuanya masih sangat sulit, sehingga kedua orang tuanya hidup sebagai petani. Ketika H. Adjim masih kecil, kehidupan keluarganya sangat religius, nuansa kehidupan keislamannya sangat kental, Di masa itu, budaya ajaran agama Islam sangat berkembang di desanya,di sana sering dilaksanakan acara adat, dan hari besar Islam seperti maulid Adiba’I dan maulid Habsy, ia pun sering ikut dalam berbagai kegiatan upacara adat lainnya. Pada acara tersebut dipertunjukkan seni musik kentong yang terbuat dari bambu, selain itu juga ada sandiwara rakyat, drama, wayang kulit, kesenian hadrah, mamanda, dan kesenian lainnya.Kebersamaan dan rasa persaudaraan keluarga orang tuanya dengan lingkungan sekitarnya juga sangat erat.

Ketika masih remaja, ia senang mengikuti aktivitas kedua orang tuanya untuk melihat pertunjukkan kesenian musik hadrah dan kurung-kurung. Dengan seringnya ia mengikuti kedua orang tuanya melihat dan mengikuti kesenian tersebut,akhirnya menimbulkan rasa cintanya dalam bidang seni. Ibunya pun juga senang melantunkan sastra lisan andi-andi.

H. Adjim Arijadi menikah dengan isteri pertamanya bernama Hj. Samberah, yang bermukim lama di Saudi Arabia hingga isterinya meninggal. Dengan isteri pertama, ia memperoleh seorang puteri dan seorang putera. Kemudian ia menikah dengan seorang puteri dalam Benteng Kraton Yogyakarta yang juga seorang penyair, cerpenis dan teaterwati yang bernama Dra. Suwastinah Md. dan memperoleh dua orang putera yang bernama Nahdi dan Muzammiel, serta seorang puteri yang bernama Niken Sawitri. Perkawinannya dengan Suwastinah berlangsung kurang lebih sepuluh tahun. Selang beberapa lama, atas restu orang tua, ia mempersunting puteri belahan Kalimantan Tengah, Martapura, yang bernama Dra. Hj. Helda Elly Setiawati dan memperoleh dua orang puteri yaitu Eldinar Raina (Yeyen) dan Shinta Ellusiana (Ade). Perkawinannya itu berjalan kurang lebih tujuh belas tahun.

Setelah beberapa lama sendiri, kemudian H. Adjim Arijadi menikah dengan seorang puteri yang berketurunan darah Hulu Sungai Utara Awayan (Balangan), yang bernama Hj. Elly Rahmi S.Sos., M.M. yang merupakan seorang pegawai negeri sipil di Disporabudpar, Pemerintah Daerah Provinsi Banjarmasin. Pernikahan mereka dikaruniai dua orang anak yang bernama Hijromi A. Arijadi dan Ikhwana Putera A. Arijadi. Istrinya ikut aktif mendukung kegiatan berkeseniannya. Hj. Elly Rahmisudah mendapat kepercayaan dari sang suami H.Adjim Arijadi untuk menangani produksi dan penyutradaraan teater. Suami isteri ini memiliki tekad yang sama yaitu “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing”.

Masa pendidikan H. Adjim Arijadi dimulai dari sekolah di Sekolah Rakyat Mali-Mali untuk kelas 1 sampai dengan kelas 3 yang ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang 5 kilometer dari rumahnya. Kemudian ia pindah untuk melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Rakyat Karang Intan untuk kelas 4 sampai kelas 5, kemudian pindah lagi melanjutkan kelas 6 di Sekolah Rakyat Ulin di Banjarmasin. Selanjutnya ia masuk Sekolah Guru B di Banjarmasin pada tahun 1958, pada saat itu dia tinggal di asrama dan juga mendapat gaji yang lumayan, sehingga tiap bulan kelebihan gajinya dapat ia belikan baju. Di Sekolah Guru B itu, pembinaan keseniannya cukup baik, setiap malam sabtu dilakukan pelatihan membaca puisi, menggambar, dan drama. Setelah 4 tahun di Sekolah Guru B, dalam dirinya muncul rasa berkesian, lalu ia dan teman-temannya mulai mendirikan komunitas kesenian untuk drama-drama Islam, selanjutnya beliau melanjutkan ke Sekolah Guru A di Mulawarman, Banjarmasin. Untuk ke sekolah tersebut, beliau terpaksa harus berjalan sejauh 5 kilometer dari rumahnya di desa Sungai Binga, hal itu disebabkan karena ia sudah lepas ikatan dinas dan tidak tinggal di asrama lagi. Setelah lulus sekolah, karena ketagihannya dalam dunia teater, ia melanjutkan ke Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) di Yogyakarta pada tahun 1962—1965 lulus dengan gelar BSc (Bachelor of Science). Dalam waktu yang bersamaan ia juga kuliah di Akademi Koperasi tahun 1962—1965. Di Yogyakarta ia bergumul dengan kesenian Yogyakarta yaitu seni rupa dan seni teater di sana. Saat di bangku kuliah itu, H. Adjim Arijadi bersama kawan-kawan senimannya mendirikan Sanggar Seni Antasari yaitu komunitas seniman orang Banjar, sampai pertengahan 1967 dan juga sempat berkeliling di beberapa kota di Indonesia dengan sastra naskah lakon serta usaha apresiasi sosialisasi, antara lain di kota Yogyakarta, kota-kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Propinsi Kalimantan Selatan, Sulawesi dan beberapa daerah lainnya. Dengan bermodalkan cerita tokoh pahlawan Antasari, perjalan keliling Indonesia itu memiliki motivasi untuk mengangkat cerita kepahlawanan dari seorang pahlawan daerah yang bernama Antasari ke seluruh Indonesia, kegiatan itu menjadikan nama Antasari menjadi populer dan akhirnya diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia melalui Menteri Kesra yang pada saat itu adalah Ridwan Halid.

Di Yogyakarta, ia juga sempat berguru dengan W.S. Rendra dan kemudian bersama Rendra, ia mendirikan Studi Grup Drama Yogya untuk teater. Pada saat itu pun, ia juga mulai mendalami seni lukis, sehingga ia sering berkunjung ke sanggar-sanggar lukis di sana.

Sejak di Yogyakarta tahun 1963—1966, ia telah mengejar untuk menulis sastra lakon dan puisi. Karya puisinya tersebar di beberapa koran dan mingguan, tapi tidak ada yang dibuat dalam bentuk antologi. Nama yang dipopulerkan waktu itu, memakai nama puteri pertama yaitu Noor Arijani.

Begitulah H.Adjim Arijadi dalam menyikapi hidupnya sebagai seorang seniman. Kecenderungan Adjim pada puisi karena lingkungan sangat mendukung, punya guru seperti penyair Burung Merak W.S. Rendra, ia juga akrab dengan penyair Taufik Ismail, Sapardi Joko Damono, Kirjo Mulyo, Darmanto Jt., Yasso Winarto, Andre Hardjatna, Umbu Landu Peranggi, Arifin C. Noer, DR.Umar Khayam, Nasyah Jamin dan masih banyak lagi seniman lainnya.

Di samping memimpin Sanggar Antasari Yogyakarta dan ketua Dewan Mahasiswa Akademi Seni Drama & Film Indonesia (ASDRAFI), ia juga sibuk dalam kegiatan organisasi Himpunan Mahasiswa-Mahasiswa Akademi Kesenian Indonesia ( HIMMAI ) Yogyakarta, yang selalu melakukan wisata seni empat Akademi Kesenian Indonesia (ASDRAFI, ASRI, AMI, dan ASTI) di daerah Yogyakarta dan ke beberapa kota lainnya. Pernah suatu peristiwa H. Adjim Arijadi diboikot oleh para seniman anti manikebuis, yaitu ketika hendak mengangkat karya sastra lakon Iwan Simatupang “Taman” di gedung bioskop kota Cirebon (1964).

H. Adjim Arijadi mengawali karirnya dalam dunia tulis menulis, yaitu setelah mengasuh Rubrik Duta Budaya pada SKH Duta Masyarakat Yogya, bersama Cerpenis Suwastinah Md. pada tahun 1966. Saat itu sedang hangat-hangatnya bersama KAPPI – KAMI memperjuangkan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat), jelang Orde Baru untuk mematahkan kekuasaan orde lama.

Setelah dari Yogyakarta ia sempat kembali ke Banjarmasin, namun kondisi politik yang kurang bersahabat dengannya di sana, akhirnya H. Adjim Arijadi yang pada awalnya bermaksud untuk mengabdi di Propinsi kalimantan Selatan, secara diam-diam pergi ke Jakarta, kemudian pergi lagi ke Yogyakarta. Dalam tahun peralihan itu, H.Adjim Arijadi kembali menggerakan Sanggar Antasari Yogya, yang sempat beku ditinggalkannya berbulan-bulan dengan mengangkat karya sastra lakon, Bapa Purba, Alam yang Diputihkan, Pangeran Banjar, Alam Roh Kalimantan dan Parade Drama Pahlawan yang diikuti oleh para seniman dari beberapa Propinsi yang berdomisili di kota Gudeg tersebut.

Kegiatan baca puisi angkatan 66 milik Taufik Ismail yang menantang rezim Orde Lama, bersama penyair Kalimantan Selatan, antara lain, Sabri Hermantejo, H.A. Taudiq Effendy (MenPan Kabinet Pembangunan SBY), Thamrin Jakfar, Gusti Hasan Aman (Mantan Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan), Maksum Zaeladri (mantan anggota DPRI Jaman Orba), Abi Maswan, Masri A Gani, Gazali Ahmad Basuni, Suwastinah M.D., Fauzi Anwar, Nordin, Buchari Muslim, Azwar AN, Jalil, Herman, M.Noor dan beberapa seniman nusantara lainnya juga ikut bergulat di sanggar Antasari milik H. Adjim Arijadi. Setelah keadaan mulai kondusif, Adjim kembali lagi ke Banjarmasin dengan memboyong isterinya Suwastinah A. Arijadi.

Di Banjarmasin (1967) diawali dengan mengangkat karya sastra lakon Domba-domba Revolusi, bersama beberapa seniman, antara lain, B. Sularto, Anang Adenansi, Rustam Effendi Karel, Said Alwi, Kasful Anwar, Johar Hamid, Taufik Effendy, Hayatumnisa, Gapuri Arsyad, M.Ideris Saleh dan masih banyak lagi lainnya. Namun karena adanya konflik yang kurang berarti, H. Adjim Arijadi bersama Sutra Ali Ariffin, M. Ideris Saleh, Gapuri Arsyad, H.M. Alkhaf, dan Suwastinah A. Arijadi mendeklarasikan berdirinya kelompok Studi Seni Sanggar Budaya Banjarmasin pada tanggal 1 Nopember 1967, dan diresmikan oleh Gubernur Kdh. TK.I Kalimantan Selatan Kol. H. Aberani Sulaiman dan Walikota Kdh. TK.II Kodya Banjarmasin. Sebelumnya juga telah dibentuk Yayasan yang bernomor 5 dari Akte Notaris Bakhtiar, pada tanggal 5 Mei 1967 dengan nama Yayasan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan.

Dengan berdirinya kelompok Studi Seni Sanggar Budaya Banjarmasin, disusunlah program pelestarian dan pengembangan seni tradisional dan seni modern. Sementara itu, cabang seni yang dikelola terdiri dari seni sastra, seni tater dan film, seni tari, seni musik dan seni rupa. Untuk bidang seni sastra, H. Adjim Arijadi bersama anggota Sanggar Budayanya, melalukan apresiasi sastra di kalangan pelajar, mahasisiwa dan umum, melalui penerbitan buletin sastra bulanan Kaganangan, deklamasi puisi, gelar sastra dan penerbitan antologi. Dalam antologi Air Bah, Jejak Berlari terbitan Yayasan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan, H.Adjim Arijadi tetap menyempatkan memasukkan beberapa karya sastra puisinya, sementara karya sastra lakon tidak terhitung banyaknya. Tapi dalam usia senjanya H. Adjim Arijadi yang sudah ke Saudi Arabia menjalankan ibadah haji tahun 1998, masih produktif menciptakan karya puisi dan sastra lakon yang selalu dipresentasikan dan disutradarainya.

Puisi-puisi H.Adjim Arijadi agaknya kurang banyak dicermati dalam pengumpulannya, sehingga tersebar dan berserakan, dibandingkan sastra lakonnya yang sebagian besar masih tersimpan dan terpelihara oleh para mantan aktor ataupun aktris yang disutradarainya. Namun ada juga puisinya yang termuat dalam beberapa antologi puisinya dan atologi puisi bersama, yang diterbitkan dan juga tersebar di beberapa media surat kabar. Dari ratusan karya sastra lakon H. Adjim Arijadi yang awal penulisannya sejak 1960, ada beberapa naskah yang mendapat pasaran generasi muda saat itu untuk menggelarkannya. Begitu pula dengan naskah cerpen, sandiwara radio telah banyak menambah kekayaan karya sastra pada isi lemari naskah beliau, di samping naskah skenario televisi.

Pada tahun 1994, beliau bersama dengan A. Tiffani dan Tariganu, membuat Antologi puisi yang berjudul Ritus Warna Ritus Kata. Kumpulan puisi karya 3 penyair ini dipresentasikan secara mengejutkan, hal ini dilatarbelakangi adanya suatu gerakan yang jarang diekspresikan oleh para penyair di tanah air. Karya puisi tersebut dituangkan kedalam bentuk lukisan. Kegiatan ini benar-benar menjadi semacam cipta budaya. Pada setiap lukisan disajikan karya puisi, baik dalam bentuk cetak ataupun secara audio, sehingga pelayanan terhadap pengunjung disuguhi dengan naskah puisi sekaligus rekaman yang bisa didengar lewat tape recorder. Itulah peristiwa budaya yang tersaji di Lobby Preanger Hotel, di jalan Asia Afrika kota Bandung selama sepuluh hari.

H. Adjim Arijadi bersama H.A. Makkie, Rustam Effendy Karel, Drs. Jarkasi dan seniman lainnya, berhasil meluncurkan Tabloid Seni Budaya Wanyi di Banjarmasin. Dalam tabloid tersebut, H. Adjim Arijadi memegang jabatan Wakil Pimpinan.

Dalam menggelarkan sastra lakon, H. Adjim Arijadi tidak pernah terbatas pada karya sendiri, begitu banyak sastra lakon karya sastrawan nasional dan sastra lakon penulis tingkat dunia yang ikut digelarnya, antara lain, The Candle Stick karya Victor Hugo; Hallo Out There karya William Saroyan; Musuh Masyarakat karya Hendrik Ibsen; Inspektur Jendral karya Nikoloj Gogol; Perkawinan karya Nigolaj Gogol; Murder Mysteri karya Chun Swee; Lawan Catur karya Kennet Arthur; Pagi Bening karya Serafin Alvarez; Kereta Kencana karya Engene Ionesco; beberapa karya William Shakespeare, seperti, Hamlet, Macbeth, Romeo and Yuliet, dan The Tempest; beberapa karya Anton. P. Chekov, seperti, Orang-Orang Kasar, Pinangan, dan Tuan Kondektur; karya Sopocles, Eurepedes; sastra lakon nasional karya N. Riantiarno, seperti, Bom Waktu, Opera Kecoa, Suksesi, Konglomerat Burisrawa; karya sastra lakon Ariffin C.Noor, seperti Kapai-kapai, Tengul, Mega-mega, Tolong, Gerr, Wah Putu Wijaya, dan Bung Besarnya Misback Yusabiran, serta masih banyak lagi karya lainnya yang ikut digelar bersama.

Sejak tahun 2000 hingga tahun 2007 di dalam usianya yang semakin senja, H. Adjim Arijadi tetap tegar menggeluti dunia sastra lakon. Seperti pada beberapa episode dalam sinetron, beberapa pentas Happening Art, pada temu teater Kawan Timur Indonesia ke 3 tahun 2002 di Surabaya,

H. Adjim Arijadi menjelang hari ulang tahunnya yang ke 67, tanggal 07 Juli 2007, dengan perahu Sanggar Budayanya tetap tegak, tegar mempresentasikan karya teater seperti pesta Jodo/Engken Barajut, Saudagar Kuda Bolong, Klinik Jiwa, Terbelenggu, Bangkitnya Akar Rumput hingga Nur Rasulullah. Bertepatan dengan ulang tahun Duta Mall tanggal 07 Juli 2007, H. Adjim Arijadi dengan Kelompok Seni Sanggar Budayanya juga ikut berpartipasi menggelar sastra lakon dan sastra pantun Banjar di acara sepekan Festival Kesenian Banua yang mengambil tempat pergelaran di tempat simpang siur pengunjung Duta Mall Banjarmasin selama dua malam. Dengan melihat aktivitas sehari-hari, H. Adjim Arijadi yang juga anggota Dewan Penasehat Bidang Pengabdian Masyarakat dan Seni Budaya, Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Kalimantan Selatan, pimpinan H.A. Sulaiman H.B. periode 2004—2010.

Di samping sebagai anggota Majelis Pertimbangan Seniman Dewan Kesenian Kalimantan Selatan, pimpinan Wakil Gubernur H.M. Rosehan N.B., SH. periode 2006—2010, ia juga sangat pro aktif membina kelompok Studi Seni Sanggar Budaya Kalimantan Selatan dan sebagai Kepala Sekretariat/Sekretaris seumur hidup di Majelis Paripurna Lembaga Budaya Banjar Kalimantan Selatan terhitung tahun 1996.

Seorang H. Adjim Arijadi yang senang mengoleksi buku-buku kumpulan puisi dan tiada hari tanpa membaca puisi, telah menerima kembali jabatan ketua Persatuan Artis Film Indonesia Cabang Kalimantan Selatan Periode 2007-2011. Sedangkan naskah sandiwara radio telah menambah isi lemari naskah H. Adjim Arijadi, di samping naskah skenario televisinya. Puisi Jante Arkidam (Ajib Rosidi) yang digarap H. Adjim Arijadi dalam bentuk gelar sastra di pusat kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (1989) telah menempatkan H. Adjim Arijadi di tingkat Nasional kedalam kategori terbaik. Bukan Cuma sastra yang digelar, tapi lakon teater yang menggabung unsur tari dan musik tersebut juga telah membuat terpujinya nama Propinsi Kalimantan Selatan karena H. Adjim Arijadi berhasil meraih prestasi Sutradara Terbaik.

Sastra cerita film, Galuh Banjar di Rumah Lanting, H. Adjim Arijadi berhasil pula meraih prestasi dalam kelompok 9 terbaik pada acara Sayembara Penulisan Cerita Film Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Penerangan RI, bersama salah satu majalah terkemuka di ibukota Jakarta.

Selama H. Adjim Arijadi menyeniman di tanah airnya, memang tidak terhitung banyaknya penghargaan yang diterima baik tingkat regional maupun tingkat nasional. Namun penghargaan yang dianggap paling berkesan baginya ialah Piagam penghargaan atas prestasi kesenimannya selama setengah abad lebih, yaitu penghargaan dari Gubernur kdh. Propinsi Kalimantan Selatan tahun 1974 untuk cuma bidang seni Drama.

Sejak tahun tersebut H. Adjim Arijadi tak pernah lagi penghargaan dari pemerintah daerah, baik di bidang teater, sastra, lukis, atau atas prestasi Sanggar Budayanya.

 

Karya:

  1. Karya sastra lakon dan penyutradaraan
  1. Pementasan Kolosal
  1. Nafiri 17 Mei (1967), Alri Divisi IV, di pendopo Gubernuran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, merekrut berpuluh-puluh anggota veteran ikut berperan (1970).
  2. Telah Datang Rasulullah Pilihan (1980), di Plasa Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin
  3. Nur Rasulullah (1982), di panggung Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin
  4. Ular Betina dari Persia (1988), di Plasa Mesjid Raya Sabilal Muhtadin
  5. Teratak Dermaga Darah (tahun 1988), di Gedung Wanita Banjarmasin
  6. Bumi Bandarmasih (1990), di Gelanggang Remaja Hasanuddin Banjarmasin
  7. Gaung 17 Mei (1994), di lapangan sepakbola terbuka,KandanganHulu Sungai Selatan
  8. Alegores (2000), di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin
  9. Ratapan Alam (2010), di panggung Gedung Gelanggang Remaja Hasanuddin Banjarmasin

Catatan: pementasan kolosal dimaksud didukung ratusan pemain mencapai 300 pendukung.

  1. Karya sastra skenario sinetron
  1. Demang Lehman (1966), 2 episode, TVRI Jakarta
  2. Mesan Berlumur Darah (1986), produksi TVRI Balikpapan dan SPK TVRI Banjarmasin, ditayangkan TVRI Jakarta
  3. Menyibak Buih Barito (1986), PT Vini Vinci
  4. Persahabatan, TVRI Banjarmasin
  5. Tabah
  6. Saruni, TVRI Jakarta
  7. Dokter Hayati (2002), 6 episode, TVRI Banjarmasin
  8. Lambung Mangkurat Junjung Buih (2006), 12 episode, TVRI Banjarmasin, ditayangkan oleh TVRI Jakarta
  9. Sadar
  10. Papadah Kuitan
  11. Perampok panting Sembilang
  12. Beberapa karya reportasi TVRI produksi keliling dan beberapa karya sinetron anak serta dokumenter tentang kehidupan masyarakat Banjar.

Naskah dramanya

  • Haram Manyarah (1963)
  • Alam Yang Diputihkan (berkisar tahun 1963—1966),
  • Bapa Purba (berkisar tahun 1963—1966),
  • Alam Roh Kalimantan (berkisar tahun 1963—1966),
  • Pangeran Banjar (berkisar tahun 1963—1966),
  • Demang Lehman (1964)
  • Laki-laki di Rumah Itu (1964)
  • Bulan Emas di Jendela Kakek (1967)
  • Titik Embun di Sahara (1970)
  • Batu Intan (1971)
  • Matahari Malam (1974)
  • Luka Luka (1975)
  • Istana Kertas Putih (1979)
  • Masjid (1979)
  • Perang Banjar Hampir Berakhir (1980)
  • Halilintar Perang Banjar (1980)
  • Sampah Negeri (1982)
  • Terbelenggu (1983)
  • Sembilu Haram Manyarah (1983)
  • Bumi Kereta (1988)
  • Saruni (1989)
  • Pesta Jodoh (1990)
  • Engken Barajut (1990)
  • Kosong Kosong (1995)
  • Langkah Langkah Pahlawan Kita (1997)
  • Pratala Kara Markara (2000)
  • Banyu Ludah yang di Tuhaakan (2001)
  • Luka-luka di Mataram Nusa Tenggara Barat (2001)
  • Kicaka di Negara (2002)

Naskah sinetron garapannya yang sudah ditayangkan di TVRI Banjarmasin dan TVRI Jakarta antara lain :

  • Lambung mangkurat (6 episode)
  • Junjung Buih (6 episode)
  • Dokter Hayati (6 episode)
  • Lakon Satu Babak

 

  1. Karya seni lukisan

Sebagai pelukis, Adjim Arijadi banyak menghasilkan karya seni lukis, yang menjadi koleksi Yayasan Bengkel Seni Jakarta dan Galeri Yayasan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan di Banjarmasin.
Peristiwa budaya yang berkaitan dengan seni lukis dan karya sastra, pernah tampil bersama 2 pelukis/penyair, yaitu Tariganu dan Ajamuddin Tifani, dalam Pameran Ritus Warna Ritus Kata, di Preanger Hotel Bandung dan Pekan Raya Jakarta tahun 1994.
Tampil dalam wujud lukisan dan puisi. Sedang kegiatan pameran lukisan sejak tahun 1967 awal kelahiran Sanggar Budaya Kalimantan Selatan secara rutin berpameran dari tahun ke tahun, baik di kota-kota wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Jakarta, Surakarta, dan Yogyakarta.
Dalam lawatannya ke Eropa bersama rombongan Y.M. Sultan Khairul Shaleh, Adjim Arijadi, setelah menginjakkan kaki ke bumi Swiss, Italia, Perancis, Spanyol dan terakhir di negeri Belanda, dengan mementaskan naskah Ma’arak Puteri Raja ka Pamaparan, cukup menarik penonton Eropa di panggung Tong Tong Fair Nederland (20 Mei 2012).
 

  1. Karya Antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya antara lain :
  1. Jejak Berlari (Banjarmasin, 1970), terbitan Yayasan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan
  2. Air Bah (Banjarmasin, 1972), terbitan Yayasan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan
  3. Panorama (Banjarmasin, 1974), DKD Kalimantan Selatan
  4. Dengar Bicara Kami (Banjarmasin, 1984), terbitan HIMSI kota Banjaramsin
  5. Terimal Penyair Banjarmasin (Banjarmasin, 1984)
  6. Festival Puisi Kalimantan (Tajuddin Noor Ganie, Banjarmasin, 1992), terbitan HIMSI Kalsel
  7. Ritus Kata dan Ritus Warna (Yogyakarta, 1994)
  8. Arsyad Al Banjari (1994), terbitan B.P. Mesjid Raya Sabilal Muhtadin
  9. Jendela Tanah Air (Banjarmasin, 1995)
  10. Tadarus Puisi (Banjarmasin, 1996)
  11. Sajak Sajak Kemerdekaan (Banjarmasin, 2006)
  12. Seribu Sungai Paris Barantai (Kotabaru, 2006), bersama sastrawan Kalimantan Selatan
  13. Kapalku Lautku (2006), antologi tunggal puisi H. Adjim Arijadi
  14. Malam Puisi Kemerdekaan (2006)
  15. Batapung Tawar (2006), antologi puisi tradisi yang terdiri dari ribuan bait pantun berbahasa Banjar

Antologi puisi tersebut tersebar di beberapa media surat kabar, Duta Budaya Yogyakarta, Pelopor Yogyakarta, Masa Kini Yogyakarta, Media Masyarakat Banjaramsin, Banjarmasin Post , Suara Kalimantan Banjarmasin dll.

Pada temu teater Kawan Timur Indonesia ke 3 di Surabaya ( 2002 ), Saruni dalam Festival Cak Durasim di Surabaya ( 2002 ), Saruni, Adjim Arijadi dan Perkawinan ( N.Gogol ) pada temu teater Kalimantan IV di Palangkaraya ( 2003 ), Saruni dalam pekan teater di Amuntai, Saruni dalam Aruh teater di Kandangan, Saruni di kota Banjarmasin untuk Studi banding para mahasiswa/i Unlam Banjarmasin. Pada temu teater Kalimantan 2006 sehabis kepadatan penggarapan sinetron Lambung Mangkurat Junjung Buih dan sebagai ketua pelaksana temu teater Kalimantan yang mempresentasikan dua puluhan karya dari dua puluh Komunitas Kelompok Studi Seni Sanggar Budayanya masih mampu menggelarkan sastra lakon teaternya yang berjudul Lambung Mangkurat di Negara Dipa dengan keapikannya.

Publikasi karya sastranya antara lain di SKH Duta Masyarakat Yogyakarta (pengasuh rubrik Duta Budaya), SKH Pelopor Yogyakarta, SKH Masa Kini Yogyakarta, SKH Suara Kalimantan Banjarmasin, SKH Banjarmasin Post, SKM Media Masyarakat, Majalah Bandarmasih Banjarmasin, dan SKH Radar Banjarmasin. Antologi puisinya yang sudah terbit antara lain Kapal Lautku (Banjarmasin, 2006).

Naskah sastra lakon Demang Lehaman yang pernah dipentas ulang di kota Yogyakarta, berlanjut di TVRI Jakarta pada tahun 1966, lalu diuji pentas di Forum Festival tingkat Nasional tahun 1986 di pusat kesenian Jakarta Taman Ismail Marzukiberhasil meraih sebagai penyaji dan sastra lakon terbaik.Berikut sastra lakon Demang Lehman inipun dipentas ulang beberapa kali di Banjarmasin (1968, 2002) di Yogyakarta tahun 1990 dan tahun 2002 dalam Temu Teater Kawasan Timur Indonesia di Surabaya. (nav)

(Sumber foto: http://kalteng.tribunnews.com/2011/01/31/sempurnakan-naskah-lewat-latihan)

Artikel Terpopuler