Badan Bahasa Kembali Mengadakan Diseminasi KBBI V Guna Mencapai Kesempurnaan

Jakarta—Sebagai produk yang dimanfaatkan oleh masyarakat luas, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) masih memerlukan masukan, baik berupa tanggapan, kritik, maupun saran dari masyarakat untuk menyempurnakannya. Untuk memfasilitasi masukan tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan kegiatan Diseminasi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima di Aula Gedung Samudra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta pada Kamis, 7 Desember 2017.

Acara Diseminasi KBBI V ini disambut baik oleh Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Hurip Danu Ismadi yang sekaligus membuka acara secara resmi. Danu dalam sambutannya mengapresiasi semangat Tim Penyusun KBBI V yang telah mengadakan kegiatan ini guna penyempurnaan KBBI V. Selain itu, Danu menyebutkan bahwa kegiatan pengayaan kosakata ini sudah dilakukan hampir di semua provinsi. Diseminasi ini dilakukan kepada pengguna media masa dan masyarakat umum dan sampai hari ini KBBI V sudah diberikan kepada 250 kantor di kementerian  dan lembaga.

“Kegiatan diseminasi ini sudah dilakukan hampir di semua provinsi dan sampai saat ini KBBI V sudah diserahkan kepada 250 kantor di kementerian dan lembaga. Saya mengapresiasi semangat kerja Tim Penyusun KBBI V yang telah mengadakan kegiatan diseminasi ini guna mencapai kesempurnaan,” ungkapnya.

Danu menambahkan, Badan Bahasa sudah memberikan masukan kata kalayang kepada Angkasa Pura II, akronim dari kereta layang untuk padanan kata sky train. Pengembangan KBBI akan terus berlanjut dan KBBI terus disempurnakan dengan program-program baru, seperti Korpus Indonesia. Korpus Indonesia menjadi lahan untuk meningkatkan kosakata yang  akan mempercepat pembaruan KBBI. Danu mengungkapkan kekagumannya karena kamus-kamus modern juga memiliki korpus yang bisa diambil dari beberapa kosakata yang berkembang di media internet.

“Badan Bahasa sudah memberikan masukan kata kalayang sebagai akronim dari kereta layang atau padanan kata sky train. Pengembangan KBBI V ini harus kita lakukan terus menerus dengan program-program baru, seperti Korpus Indonesia karena Korpus Indonesia adalah lahan untuk meningkatkan kosakata yang akan mempercepat pembaruan KBBI V,” tambahnya.

Lebih lanjut, Danu mengutarakan jika Badan Bahasa bisa menargetkan 10—15 juta kosakata baru, KBBI V akan berkembang dengan cepat. Pengembangan kosakata  KBBI V dari internet akan membuat kosakata yang belum ada di KBBI V versi cetak sudah ada di versi aplikasi. Kemudian,  kosakata yang berkembang di jurnal elektronik, buku-buku, majalah dan sastra elektronik bisa dikombinasikan dan dimasukkan ke dalam aplikasi, maka Badan Bahasa akan menemukan kosakata-kosakata baru dari internet.  Rencana ini memang rumit dilakukan, tetapi demi sebuah kemajuan hal ini harus dilakukan.

Menurut pengamatan Danu, jika hanya mengandalkan masukan konvensional, prosesnya akan lama karena dalam kurun waktu satu tahun maksimal hanya dihasilkan 4.000 kosakata. Namun, jika kita bisa memasukkan kosakata ke dalam aplikasi dan aplikasi itu bisa menyeleksi sendiri, system ini akan memberikan masukan kosakata yang bisa digunakan sebagai bahan penyempurnaan kosakata dalam Sidang Komisi Istilah untuk menambah kosakata KBBI.

“Jika kita hanya mengandalkan masukan secara konvensional, prosesnya akan lama karena dalam kurun waktu satu tahun maksimal hanya ada 4.000 kosakata, tetapi jika kita bisa memasukkan kosakata ke dalam aplikasi dan aplikasi itu menyeleksi sendiri, itu lebih bagus,” imbuhnya.

Danu mengajak seluruh elemen untuk mendiskusikan kembali agar KBBI bisa menambah kosakata yang lebih progresif, baik oleh pengembang kamus, pengembang aplikasi, maupun programmer komputer. Danu mengajak untuk memanfaatkan teknologi aplikasi sebagai sarana pengembang kamus.

Di akhir sambutannya, Danu mengimbau karyawan Badan Bahasa yang mengikuti acara itu untuk menjadi anggota aktif untuk memberikan kosakata baru. Jika setiap hari karyawan Badan Bahasa menyumbang satu kosakata, KBBI akan bertambah 350 kosakata baru. Danu juga berharap Badan Bahasa bisa menambahkan Ensiklopedia Sastra yang harus terus dikembangkan. Hasil revisi tahun ini (2017) juga harus diprogramkan pada tahun 2018, terutama bagi peneliti.  Penelitian sejarah sastra harus terus dilakukan. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia juga harus segera diselesaikan agar bisa dicetak segera. (Dv, Pcs)

 

Artikel Terpopuler