Saptapesona Atau Sapta Pesona

Dalam bahasa Indonesia ada jenis kata yang diserap dari bahasa sanskerta. Salah satu di antaranya ialah kata bilangan, seperti eka, dwi, catur, panca, sapta, dan dasa, yang bermakna ‘satu’, 'dua’, ‘tiga’, ‘empat’, ‘lima’, ‘tujuh’, dan ‘sepuluh’.

Kata bilangan yang diserap dari bahasa Sansekerta dalam bahasa Indonesia merupakan unsur terikat, yaitu unsur yang hanya dapat digabung dengan unsur lain. Sebagai unsur terikat, penulisan kata bilangan yang berasal dari bahasa Sansekerta diserangkaikan dengan unsur yang menyertainya. Dengan demikian, sapta- dituliskan serangkai dengan unsur yang menyertainya, misalnya pesona, sehingga menjadi saptapesona, bukan ditulis terpisah sapta pesona. Contoh lain adalah ekabahasa, dwiwungsi, caturdarma, pancakrida, saptamarga, dan dasasila, bukan eka bahasa, dwi wungsi, catur darma, panca krida, sapta marga, dan dasa sila. Selain itu, beberapa unsur lain yang berasal dari bahasa Sansekerta, seperti adi-, manca-, swa-, dan nara-, dalan bahasa Indonesia juga merupakan unsur terikat. Sebagai unsur terikat, penulisannya juga diserangkaikan dengan unsur lain yang menyertainya. Misalnya, adikuasa, mancanegara, swasembada, dan narasumber, bukan adi kuasa, manca negara, swa sembada, dan nara sumber.