Penggunaan Dan/atau

Kata penghubung dan/atau, dapat diperlakukan sebagai dan, dapat juga diper­lakukan sebagai atau.

Tanda garis miring itu mengandung arti pilihan, misalnya A dan/atau B yang berarti A dan B atau A atau B. Oleh karena itu, cara penulisan yang betul untuk maksud pernyataan terse­but ialah dan/atau, bukan dan atau.

Perhatikan contoh berikut:

(1)Barang siapa meniru dan/atau memalsukan produk ini dapat dikenai hukum­an selama-lamanya lima tahun penjara atau denda setinggi­-tinggi­nya Rp10.000.000,00.

Kalimat itu mengandung makna (1) Barang siapa meniru dan memalsukan produk ini dapat dikenai hukuman ... atau (2) Barang siapa meniru atau me­malsukan produk ini dapat dikenai hukuman ....

Ungkapan penghubung dan/atau itu sering ditulis dan atau tanpa di­bubuhi tanda garis miring (l) di antara kata dan dan atau. Cara penulisan yang itu tidak dapat dibenarkan. Kesalahan penulisan tanda penghubung tersebut agaknya disebabkan oleh anggapan bahwa tidak ada perbedaan antara bahasa Indone­sia ragam lisan dan ragam tulis. Akibatnya, orang menuliskan apa yang ter­dengar (ragam lisan), bukan apa yang seharusnya ditulis, yaitu digunakan tanda garis miring (/) antara kata dan dan kata atau. Di dalam ragam tulis kelengkapan tanda baca sangat diperlukan agar apa yang
dituliskan itu tidak ditafsirkan lain. Makna kalimat ragam lisan dapat didukung oleh situasi pembicaraan, sedangkan dalam ragam tulis tidak didukung hal itu. Contoh penulisan garis miring (/) di antara kata dan dan kata atau terlihat di bawah ini.

(2)Setiap orang yang menebang dan atau mengambil pohon di sekitar taman ini dapat dikenakan denda ....

Pemakaian dan atau seperti pada contoh di atas itu perlu ditambahkan tanda garis miring (/), seperti berikut.

(2a) ... menebang dan/atau mengambil ….
Pada (2a) itu dibaca dua pilihan dulu: (1) menebang dan mengambil atau (2) mengambil atau menebang, kemudian pada pilihan (2) itu ada pi­lihan lagi sehingga makna pernyataan itu ialah (1) menebang dan meng­ambil, (2) me­nebang (saja), atau (3) mengambil (saja).

Kesalahan lain pada kalimat (2) dan (3) ialah penggunaan bentuk kata dikenakan. Per­hatikan contoh bentuk mengenakan sebagai pengganti dike­nakan pada kalimat berikut.

(3)Denda dapat mengenakan setiap orang yang mengambil dan/atau menebang [...].

Kalimat (3) itu tidak logis karena denda setiap orang tidak dapat me­ngenakan setiap orang [...], tetapi denda dikenakan pada setiap orang yang berarti 'denda dilaksanakan pada [...]' atau 'denda dijalankan pada [...]'. Perhatikan perbaikan contoh kalimat (3) tersebut di bawah ini.

3a)Denda
dapat dikenakan pada setiap orang yang menebang dan/atau mengambil [...].

Jika kalimat (3a) diubah dengan mengedepankan bagian kalimat setiap orang kata kerja yang digunakan adalah dikenai [...] bukan dikenakan.

Perhatikan ubahan kalimat tersebut pada contoh kalimat berikut.

(4) Setiap orang yang menebang dan/atau mengambil kayu di sekitar taman ini dikenai denda.

Tanda garis miring itu mengandung arti pilihan, misalnya A dan/atau B yang berarti A dan B atau A atau B. Oleh karena itu, cara penulisan yang betul untuk maksud pernyataan terse­but ialah dan/atau, bukan dan atau.

Perhatikan contoh berikut.

(1) Barang siapa meniru dan/atau memalsukan produk ini dapat dikenai hukum­an selama-lamanya lima tahun penjara atau denda setinggi­-tinggi­nya Rp10.000.000,00.

Kalimat itu mengandung makna (1) Barang siapa meniru dan memalsukan produk ini dapat dikenai hukuman ... atau (2) Barang siapa meniru atau me­malsukan produk ini dapat dikenai hukuman
....

Ungkapan
penghubung dan/atau itu sering ditulis dan atau tanpa di­bubuhi
tanda garis miring (l) di antara kata dan dan atau. Cara penulisan yang itu tidak dapat dibenarkan. Kesalahan penulisan tanda penghubung tersebut agaknya disebabkan oleh anggapan bahwa tidak ada perbedaan antara bahasa Indone­sia ragam lisan dan ragam tulis. Akibatnya, orang menuliskan apa yang ter­dengar (ragam lisan), bukan apa yang seharusnya ditulis, yaitu digunakan tanda garis miring (/) antara kata dan dan kata atau. Di dalam ragam tulis kelengkapan tanda baca sangat diperlukan agar apa yang dituliskan itu tidak ditafsirkan lain. Makna kalimat ragam lisan dapat didukung oleh situasi pembicaraan, sedangkan dalam ragam tulis tidak didukung hal itu. Contoh penulisan garis miring (/) di antara kata dan dan kata atau terlihat di bawah ini.

(2)Setiap orang yang menebang dan
atau mengambil pohon di sekitar taman ini dapat dikenakan denda ....

Pemakaian dan atau seperti pada contoh di atas itu perlu ditambahkan tanda garis miring (/), seperti berikut.

(2a)... menebang dan/atau mengambil ….

Pada (2a) itu dibaca dua pilihan dulu: (1) menebang dan mengambil atau (2) mengambil atau menebang,kemudian pada pilihan (2) itu ada pi­lihan lagi sehingga makna pernyataan itu ialah (1) menebang dan meng­ambil, (2) me­nebang (saja), atau (3) mengambil (saja).

Kesalahan lain pada kalimat (2) dan (3) ialah penggunaan bentuk kata dikenakan. Per­hatikan contoh bentuk mengenakan sebagai pengganti dike­nakan pada kalimat berikut.

(3)Denda dapat mengenakan setiap orang yang mengambil dan/atau menebang [...].

Kalimat (3) itu tidak logis karena denda setiap orang tidak
dapat me­ngenakan setiap orang [...], tetapi denda dikenakan pada setiap orang yang berarti 'denda dilaksanakan pada [...]' atau 'denda dijalankan pada [...]'.

Perhatikan perbaikan contoh kalimat (3) tersebut di bawah ini.

(3a)Denda dapat dikenakan pada setiap orang yang menebang dan/atau mengambil [...].

Jika kalimat (3a) diubah dengan mengedepankan bagian kalimat setiap orang kata kerja yang digunakan adalah dikenai [...] bukan dikenakan.

Perhatikan ubahan kalimat tersebut pada contoh kalimat berikut.

(4) Setiap orang yang menebang dan/atau mengambil kayu di sekitar taman ini dikenai denda.