Medan Leksikal Verbal Indonesia yang Berkomponen Makna Suara Insani

Wedhawati

Tulisan ini menelaah sejumlah medan leksikal (+SUARA+INSAN) dalam leksikon bahasa Indonesia yang dibentuk oleh leksem verbal yang bersifat internal dan intralingual untuk memperoleh deskripsi tentang sistem dan struktur medan leksikal yang dimaksud serta konfigurasinya. Sistem leksikal yang dimaksud adalah asas keteraturan relasi antarbutir leksikal atau antarmedan leksikal sebagai satuan terkonfigurasi yang membentuk satu keutuhan. Struktur leksikal adalah susunan atau konfigurasi butir leksikal atau medan leksikal sedemikian rupa sehingga relasi fungsionalnya tampak. 

Dalam studi ini digunakan teori semantik struktural. Asumsi pokok yang mendasari kerangka teori itu ialah (1) dalam leksikon setiap bahasa terdapat sejumlah perangkat leksikal yang bersistem dan berstruktur; (2) sistem dan struktur leksikal itu dapat dideskripsikan secara paradigmatik dan sintagmatik; (3) sejumlah perangkat leksikal itu membentuk sejumlah medan leksikal yang mengandung makna umum dan makna khusus; (4) satuan makna umum yang dapat disebut sebagai komponen bersama itu ada yang dileksikalisasikan dan ada yang tidak dileksikalisasikan; satuan makna umum yang dileksikalisasikan disebut arkileksem; (5) medan leksikal yang mempunyai arkileksem di dalamnya terdapat relasi vertikal dan relasi horizontal, sedangkan medan leksikal yang tidak mempunyai arkileksem di dalamnya hanya terdapat relasi horizontal.

Sistem dan struktur medan leksikal itu dapat ditemukan dengan menganalisis komponen makna leksem pembentuk medan leksikal. Baik relasi antarbutir leksikal maupun relasi antarmedan leksikal tampak dalam sistem kontras ganda. Sistem kontras ganda itu ditetapkan berdasarkan interaksi antara komponen pembeda dan leksem anggota medan leksikal. Interaksi itu menimbulkan lima macam reaksi semantik: (1) reaksi semantik netral (o) menandai kenetralan komponen tertentu dalam kaitannya dengan leksem tertentu, dalam arti komponen itu tidak relevan atau tidak berfungsi pada tataran sistem, tetapi relevan atau berfungsi pada tataran ujaran, misalnya (oLIRIH) dalam “nyanyi”; (2) reaksi semantik positif (+) menandai kehadiran komponen tertentu dalam leksem tertentu, dalam arti komponen itu relevan atau berfungsi membentuk makna leksikal, misalnya (+MUSIKAL) dalam “nyanyi”; (3) reaksi semantik negatif (-) menandai penegasian komponen tertentu dalam leksem tertentu, sebagai lawan reaksi semantik (+), misalnya (-LIRIH) dalam “kikih”; (4) reaksi semantik positif/negatif (+/-) menandai kemungkinan hadir atau tidak hadirnya komponen tertentu dalam leksem tertentu, misalnya (+/-TUTUR) dalam “nyanyi”; (5) reaksi takbernilai (*) menandai penolakan komponen tertentu dalam leksem tertentu, dalam arti komponen itu tidak relevan atau tidak berfungsi baik dalam tataran sistem maupun dalam tataran ujaran, misalnya (*MENGHIBUR DIRI) dalam 1”dadung”.

Berdasarkan reaksi semantik bersama yang menandai komponen tertentu, medan leksikal (+SUARA +INSAN) dapat dibedakan menjadi empat belas medan leksikal. Keempat belas medan leksikal itu dapat ditata secara hierarkis menjadi enam tataran dari medan leksikal terbesar atau terluas sampai dengan medan leksikal terkecil. Relasi vertikal dan horizontal yang membentuk sebuah medan leksikal ditentukan berdasarkan sistem kontras ganda. Relasi vertikal terjadi antara arkileksem dan hiponimnya, sedangkan relasi horizontal terjadi antarhiponim.