“Struktur Kata dan Struktur Frasa Bahasa Melayu Larantuka”. (disertasi Universitas Indonesia, Jakarta, 1993)

Theresia Yosephine Kumanireng

Kerangka berpikir yang menjadi pangkal tolak di dalam analisis penelitian ini adalah bahwa setiap bahasa merupakan sebuah sistem dari subsistem yang masing-masing terdiri atas unsur yang berhubungan secara fungsional, dari tataran sistem bahasa terkecil, yaitu sistem ciri pembeda fonem sampai pada tataran yang paling tinggi (kalimat atau wacana).

Secara fonologis, kosakata bahasa Melayu Larantuka bersumber pada bahasa Melayu, bahasa daerah setempat (Lamaholot), dan beberapa bahasa asing, yaitu Portugis, Belanda, dan Latin. Kosakata bahasa Melayu Larantuka pada umumnya bersuku dua dan bersuku tiga (kata yang bersuku empat bersasal dari bahasa asing). Secara fonetis semua kata itu berakhir dengan suku terbuka, (kecuali beberapa kata pinjaman ekasuku berakhir dengan /s/, /l/, dan /r/ seperti es ‘es’, pas ‘sedang’, pel ‘pil’, dan mir ‘semut’. Pola kanonik kata adalah KV (N) KV (N) yang dapat membentuk 82 kombinasi. Dari segi morfologis, kata-kata dibedakan dalam kata dasar dan kata derivatif yang dihasilkan melalui pengaktifan, pengulangan (dengan atau tanpa modifikasi), dan pemajemukan. Pengulangan dan pemajemukan merupakan proses morfologis kata yang produktif; pengafiksan yang produktif hanya terjadi dengan prefiks {b@-} dan {t-@-}, dan sufiks {- ña}. Contoh: Perulangan b@sa ‘besar’, pemajemukan mulo ‘mulut’, pengakfiksan b@beda ‘berpukulan’.

Berdasarkan kriteria morfologis-semantis dan sintaktis, kata digolongkan dalam dua kelompok besar, yaitu kata leksikal dan kata gramatikal. Kata leksikal merupakan kelompok terbuka (karena selalu dapat bertambah jumlahnya, antara lain melalui proses morfologis), dengan enam kategori utama, yaitu nomina, pronomina, numeralia, verba, adjektiva, dan adverbia. Kata gramatikal merupakan kelompok tertutup (karena kemungkinan bertambahnya terbatas sekali, dan pada umumnya tidak memperoleh proses morfologis) yang mencakup preposisi, konjungsi, interjeksi, artikel, dan partikel.

Dalam penelitian ini juga dibahas beberapa gejala khas yang berhubungan dengan nomina (dan frasa nominal), verba (dan frasa verbal), preposisi lokatif (dan frasa preposisional lokatif), dan partikel.