Alih Kode dan Campur Kode dalam Buletin Salam

Irmayani, Musfeptial, dan Hari Purwiati

Berbahasa yang baik dan benar seperti yang dianjurkan pemerintah bukanlah berarti harus selalu menggunakan bahasa baku atau bahasa resmi dalam setiap kesempatan, waktu, dan tempat, melainkan harus menggunakan satu ragam bahasa tertentu yang sesuai dengan fungsi ragam tersebut untuk satu situasi dan keperluan tertentu.

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bahasa yang dialih kode dan dicampurkodekan serta mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya alih kode dan campur kode. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sebagai populasi penelitian adalah buletin Salam yang terbit selama satu tahun (2003). Buletin yang dipilih adalah yang beredar setiap hari Jumat sehingga dalam satu tahun terdapat 48 buletin yang dijadikan sampel. Penelitian ini mengacu pada Ohoimutun (1997), Nababan (1993), Chaer dan Agustina (1995), dan Suharsono dan Partana (2002).

Penelitian ini menyimpulkan bahwa di dalam buletin Salam, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya alih kode dan campur kode. Faktor tersebut berasal dari tiga hal, yaitu berdasarkan penutur, lawan tutur, dan topik pembicaraan. Berdasarkan penutur, alih kode terjadi karena penutur ingin membahas dan atau menerjemahkan ayat di dalam Alquran. Berdasarkan lawan tuturnya, alih kode terjadi disebabkan oleh latar belakang kebahasaan yang sama dengan penutur atau yang berkenaan dengan latar belakang kebahasaan yang tidak sama dengan penuturnya. Berdasarkan topik pembicaraannya, alih kode terjadi karena sifat pembicaraan yang formal dan tidak formal. Di dalam buletin Salam terdapat pula campur kode yang berupa penyisipan kata dan frasa asing.