Laras Bahasa Keagamaan Di Denpasar

Ida Ayu Mirah Purwiati

 

Penelitian laras bahasa keagamaan ini dibatasi pada laras bahasa keagamaan dalam komunikasi impromtu (lisan) dan yang dipakai oleh pendeta atau orang yang mendalami keagamaan. Tujuan penelitian itu adalah untuk mengetahui tingkat kebakuan dan derajat keformalam, serta ciri khas laras bahasa keagamaan di Denpasar. Landasan teori yang digunakan adalah teori struktural (Moeliono, et.al, 1988) dan sosiolinguistik (Hymes, 1972). 

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi (termasuk merekam dan mencatat) dan kuesioner. Observasi dilakukan di tempat ibadah (pura), di kantor, dan melalui media elektronik (TVRI dan RRI). Simpulan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. derajat keformalan dan tingkat kebakuan pelafalan pada taraf sedang (45%). Terdapat empat bunyi yang belum dapat dilafalkan dengan baik. 

2.  derajat keformalan dan tingkat kebakuan penggunaan kosakata dan peristilahan pada taraf tinggi, pemakaian kata dan istilah sesuai dengan tujuan. 

3.  derajat keformalan dan tingkat kebakuan untuk pemakaian struktur frasa pada taraf sedang (47 %), pemakaian kalimat pada taraf sedang (46 %), dan pemakaian gaya bahasa pada taraf tinggi (75%). 

4.   derajat keformalan dan tingkat kebakuan wacana pada taraf tinggi (59%), dan

5. kekhasan laras bahasa keagamaan di Denpasar adalah pemakaian kosakata asing (sanksekerta) yang dicampur dengan kosakata daerah (Jawa kuna dan Bali).