"Pola Pemakaian Bahasa dalam Perkawinan Campuran"

Yayah Bachria Mugnisjah Lumintaintang

Data penelitian ini diperoleh dari pegawai negeri yang bekerja di instansi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Data tersebut mempunyai ciri-ciri: (1) berstatus suami yang berlatar belakang etnik Jawa dan berbahasa-ibu bahasa Jawa, yang istrinya berlatar belakang etnik Sunda dan berbahasa- ibu bahasa Sunda; dan sebaliknya; (2) bertempat tinggal di DKI Jakarta; (3) bertemu dengan calon istri/suami sebelum menikah di Jakarta; (4) merupakan perkawinan yang pertama kali; (5) salah seorang dari mereka, suami atau istri tidak bekerja; dan (6) mempunyai anak. Selain itu, di lingkungan rumah tangganya ada orang lain, seperti pembantu rumah tangga dan anggota keluarga dari pihak suami atau istri.

Penelitian pemakaian bahasa di lingkungan rumah tangga perkawinan campuran ini menggunakan pendekatan gabungan. Salah satu pendekatan yang dipakai adalah pendekatan etnografi berbicara (ethnography of speaking). Pendekatan sosiologi juga dipakai mengingat bahwa ranah pemakaian bahasa yang diteliti merupakan salah satu garapan bidang sosiologi.

Penelitian ini menggunakaan kuesioner karena tujuannya adalah mendeskripsikan pola pemakaian bahasa antaranggota rumah tangga yang diteliti dengan mengumpulkan data, menganalisis, dan menafsirkannya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner, wawancara terarah berdasarkan seperangkat pertanyaan yang telah dipersiapkan, pengamatan terhadap tindak berbahasa responden secara selintas, dan pencatatan tentang informasi lain yang relevan.

Pemerian pola pemakaian bahasa anggota rumah tangga perkawinan campuran Jawa-Sunda bertujuan menemukan (1) bahasa yang dipakai dalam interaksi antar anggota rumah tangga, yaitu antara suami dan istri (intragenerasi I), antara orang tua dan anak (antargenerasi), dan antaranak (intragenerasi II) termasuk pola pemakaian bahasa mereka; (2) kekerapan pemakaian bahasa tertentu di dalam situasi dan konteksnya, apakah itu bahasa Indonesia, bahasa Jawa, atau bahasa Sunda; (3) kecenderungan sikap terhadap bahasa Indonesia dalam rumah tangga tersebut; (4) hubungan antara frekuensi pemakaian bahasa Indonesia dan ciri-ciri sosial penuturnya. (Aloy)