Olenka: Tinjauan Dialogis

Tirto Suwondo

Penelitian ini bertujuan memahami karakteristik novel Olenka karya Budi Darma secara dialogis. Pemahaman karakteristik novel tersebut bermula dari adanya kenyataan bahwa di dalam Olenka terdapat berbagai unsur yang mencerminkan suatu perilaku yang disebut karnival. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori dialogis sebagaimana dikemukakan oleh Bakhtin. Berdasarkan teori tersebut, analisis difokuskan pada tiga aspek, yaitu karnivalisasi dan komposisi, tokoh dan posisi pengarang, dan representasi gagasan. Karena ciri dialogis novel polifonik juga berarti menghimpun “heteroglosia” (berbagai teks, bahasa, atau genre) ke dalam dirinya, aspek lain yang juga dianalisis adalah hubungan Olenka dengan teks lain yang dihimpunnya.

Dari analisis terhadap beberapa aspek tersebut diperoleh hasil sebagai berikut. Sebagai sebuah karya sastra, Olenka dapat dikategorikan sebagai karya karnivalis yang cenderung polifonik dan dialogis. Beberapa sinkrisis yang membangun plot tidak ditentukan oleh hubungan sebab-akibat, tetapi oleh hubungan kontrapuntal. Kepolifonikan dan kedialogisan Olenka juga tampak pada hubungan antartokoh. Hubungan itu tidak ditentukan oleh peristiwa, situasi, atau dialog langsung, tetapi oleh kesadaran. Artinya, tokoh satu dapat kasuk ke dalam kesadaran tokoh lain, dan sebaliknya. Di dalam Olenka pengarang menduduki posisi ambivalen. Ketika masuk ke dalam kesadaran tokoh, ia tetap menjaga jarak, hubungan pengarang dan tokoh terjadi secara dialogis. Namun, ketika di luar teks pengarang menjelaskan segala hal tentang tokoh, hubungan mereka berubah menjadi monologis. Hal serupa terlihat pula pada representasi gagasan dan dialog intertekstual. Dalam konteks fiksi (bagian I—V), pengarang dapat mendialogisasikan berbagai gagasan lain sehingga gagasan itu dapat menjadi objek representasi. Akan tetapi, seluruh gagasan itu akhirnya menyatu ke dalam gagasan pengarang karena melalui penjelasan dari luar teks (bagian VI—VII) pengarang “memaksa” tokoh untuk menerima seluruh gagasan pengarang. Oleh karena itu, kepolifonikan dan kedialogisan Olenka hanya mencapai tingkatan tertentu. Akhirnya, secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa ternyata berbagai unsur karnival yang mengkarnivalisasi Olenka tidak menjamin dirinya sebagai novel yang sepenuhnya polifonik dan dialogis. Kepolifonikan dan kedialogisan Olenka hanya terbatas pada bagian tertentu (I—V) yang berupa bangunan dunia fiksi. Apabila bagian lain (VI—VII) yang berupa nonfiksi digabungkan, sifat polifonik dan dialogis novel tersebut berubah menjadi monofonik dan monologis. Dengan demikian, novel Olenka hanyalah menyuarakan satu suara, yaitu suara pengarang.