Pengungkapan Konsep Jumlah di dalam Bahasa Sunda

E. Zaenal Arifin

Dalam penelitian ini penulis mengamati, memerikan, dan menjelaskan (1) jenis pengacuan yang disandang oleh ungkapan yang berpengacuan ketunggalan, seperti spesifik, takrif-taktakrif, bernyawa-takbernyawa, insan-noninsan, terbilang-takterbilang, serta konkret-abstrak; dan ungkapan yang berpengacuan kejamakan, seperti kejamakan umum, kekolektifan, kedistributifan, keanekaan, kesalingan, dan kepaukalan; (2) bermacam-macam pemarkah jumlah, baik secara leksikal maupun secara gramatikal; dan (3) kendala pembentukan dan kendala distribusi ungkapan yang berpengacuan ketunggalan dan kejamakan. Kerangka teori yang digunakan bersifat eklektis, yaitu berupa seperangkat pendapat dari berbagai sumber. Korpus data yang dijadikan objek penelitian ini berasal dari bahasa Sunda lulugu ‘standar’, yang terdapat di daerah Priangan.

Pada dasarnya, analisis terhadap ungkapan yang berkonsep jumlah itu harus dilihat berdasarkan konteks kalimatnya karena terdapat nomina atau pronomina yang takbermarkah, misalnya berpengacuan ketunggalan atau kejamakan. Analisis terhadap ungkapan yang berkonsep jumlah itu harus dilihat berdasarkan konteks kalimatnya karena terdapat nomina atau pronomina yang takbermarkah. Secara leksikal ketunggalan dapat diungkapkan oleh (1) numeralia, (2) nomina pengacu, (3) adjektiva penyapa untuk perempuan, (4) nomina unik, (5) pronomina persona tunggal, dan (6) artikula. Kekolektifan secara leksikal dimarkahi nomina dan numeralia. Kedistribusian secara leksikal dimarkahi numeralia taktarif dan partikel.